Ini pernah jadi beranda kita

 

Ini pernah jadi beranda kita,…

Ketika kopi, tawa, dan cinta masih menjadi udara yang kita hirup bersama

Ketika tatapku hanya menujumu,

menyimpan setiap degup perlahan hingga jauh mengisi palung terdalam bernama hati

 

Iya, beranda kita …

Ketika bisikmu serupa oase di sahara

Kini, hanya menyisakan sepi,

tawa menjadi luka, dan cinta entah menguar kemana

 

Ini pernah jadi beranda kita,

meski aku tak lagi bersamamu,

meramu mimpi bersama secangkir kopi

Kuusaikan perjalanan, karena bertahan terlalu melelahkan

Aku melepasmu,…

membiarkan kenangan dan ingatan

bertubrukan lalu jatuh berderaian

 

Takkan ada lagi beranda kita,

yang tersisa hanya dua bangku kayu tanpa ingatan dan harapan

 

*Sebuah puisi untuk penikmat kopi yang sedang bersahabat dengan sepi

 

 

Advertisements

Just remember

20190124_122214

Mungkin karena melihatmu dalam toples kaca, terlihat tapi tak tersentuh. Lebih sulit dibandingkan tidak melihatmu sama sekali.

Mungkin karena perpisahan begitu menyesakkan, tanpa ada lambaian tangan atau pun doa saling melepaskan. Hingga jarak yang kian lebar, tidak kunjung menyembuhkan perihnya kehilangan.

Tidak ada yang sepertimu, yang mampu menggenggam hatiku… mengalahkan arogansiku. Tidak mungkin ada yang sepertimu, membuatku jatuh benar-benar jatuh lalu menyisakan ruang kecewa hingga bibirku nyaris tak sanggup berkata atau bertanya mengapa …

Mungkin aku salah, membuatmu lelah menemukan kesejatianku dan pada akhirnya hatimu berkata cukup, lalu mengubahmu menjadi asing di mataku.

Aku tidak sedang menyesali atau menafikan segala yang kita lewati. Kenangan tentangmu, Tuan… biarkan saja berada disana ditempatnya. Diruang tersembunyi, yang kita kunci dan tidak akan kita buka lagi.

Semua usai karena kita terlalu curang berperang melawan keadaan. Kini aku berjalan jauh lebih teguh dari sebelumnya, ternyata luka selalu punya cara menguatkan.

Satu hal yang kupahami, mencintaimu …. membuatku memahami banyak hal. Meski pada akhirnya kuhabiskan keberanian untuk bertahan. Aku baik-baik saja, kupikir aku akan binasa…nyatanya, kamu bahagia dan aku lega…

Dibawah kaki langit, kamu pernah jadi segala muaraku… dan aku pernah menjadi yang terdalam seperti yang kamu bilang. Kini dikaki langit yang sama, mimpi pudar perlahan,… hilang menyisakan sewindu kenangan dan sejuta pemahaman. Hidup dan cinta ….

 

Note : Entah mengapa membuka blog ini selalu saja membuatku berlari jauh kebelakang, menyusuri tiap lorong waktu bernama masa lalu. Dan lalu mengalir begitu saja, barisan aksara dari sesuatu yang pernah hidup dan berdetak dijiwaku, kamu.

( Bekasi, Laterazza 24 Januari 2019 )

Pagi, 8 Agustus 2016

Langit kelabu, hujan berjatuhan sejak pagi buta menyirami tanah basah dan pepohonan.

Aku memandangi dari balik jendela, daun-daun basah…embun membaur bersama hujan.

Lama sekali hujan tidak membasahi bumi, pagi ini seolah air hujan tumpah memberikan kesejukan.

Aku masih memandangi langit, pelan kubuka pintu dan membiarkan udara basah memasuki rumah.

Berharap kesejukan ini menyebar memenuhi paru-paruku,

mengikis kesombongan dan segala kefakiran juga kealfaanku.

Tuhan mungkin ingin memberiku jeda, bahwa setiap langit cerah tidak pernah abadi.

Akan ada hujan, atau badai yang sejatinya kita tetap dalam syukur dan sabar.

 

” Terima kasih Pemilik Semesta untuk 36 tahun nafas berhembus juga segala yang sudah diberikan. terlalu banyak, terlampau banyak nikmat. Dan begitu sedikit ketaatan dan penghambaanku PadaMU ”

Catatan pagi di 8 Agustus 2016, memandangi pagi… mensyukuri hari ini sebelum kembali menjalani sisa hidup selanjutnya.

 

Tidak Pernah Sebentar

Semoga hidupmu senantiasa mudah, semoga dilangit mana pun kamu memandang…pandanganmu tentang hidup dan kehidupan selalu sempurna. Laut yang kau arungi tenang, jalan yang kau tempuh tak terasa melelahkan. Cinta yang kau dekap, memberikan kebahagiaan.

* Tidak pernah sebentar….*

 

Langit Malam

langitmalam

Aku suka cara udara yg mengabarkan tentang tidurlah dalam dekap hangat mereka yg mengasihimu.
Aku suka ketenangan langit yg berbisik tentang, tenanglah … dan semua akan baik-baik saja.
Aku suka cara kerlip lampu dan pendar bintang yg saling berlomba memberi keindahan.
Aku suka membiarkan hati dan pikiranku terbang menemui harapan dan keyakinan bahwa hiduplah dengan hati yg gembira, belajarlah untuk terus syukur.
Tak apa sesekali jatuh dalam keluh, maafkan jika diri berbuat salah.
Sejatinya air mata mengabarkan tentang pemahaman hidup yg lebih baik dan tawa menyiarkan dekaplah terus harapan.

” Aku suka langit malam ini, tak apa meski udara dingin membuatku terus menjadi org plg berisik saat ini #batukterus

13 September 2014