Pagi, 8 Agustus 2016

Langit kelabu, hujan berjatuhan sejak pagi buta menyirami tanah basah dan pepohonan.

Aku memandangi dari balik jendela, daun-daun basah…embun membaur bersama hujan.

Lama sekali hujan tidak membasahi bumi, pagi ini seolah air hujan tumpah memberikan kesejukan.

Aku masih memandangi langit, pelan kubuka pintu dan membiarkan udara basah memasuki rumah.

Berharap kesejukan ini menyebar memenuhi paru-paruku,

mengikis kesombongan dan segala kefakiran juga kealfaanku.

Tuhan mungkin ingin memberiku jeda, bahwa setiap langit cerah tidak pernah abadi.

Akan ada hujan, atau badai yang sejatinya kita tetap dalam syukur dan sabar.

 

” Terima kasih Pemilik Semesta untuk 36 tahun nafas berhembus juga segala yang sudah diberikan. terlalu banyak, terlampau banyak nikmat. Dan begitu sedikit ketaatan dan penghambaanku PadaMU ”

Catatan pagi di 8 Agustus 2016, memandangi pagi… mensyukuri hari ini sebelum kembali menjalani sisa hidup selanjutnya.

 

Tidak Pernah Sebentar

Semoga hidupmu senantiasa mudah, semoga dilangit mana pun kamu memandang…pandanganmu tentang hidup dan kehidupan selalu sempurna. Laut yang kau arungi tenang, jalan yang kau tempuh tak terasa melelahkan. Cinta yang kau dekap, memberikan kebahagiaan.

* Tidak pernah sebentar….*

 

Langit Malam

langitmalam

Aku suka cara udara yg mengabarkan tentang tidurlah dalam dekap hangat mereka yg mengasihimu.
Aku suka ketenangan langit yg berbisik tentang, tenanglah … dan semua akan baik-baik saja.
Aku suka cara kerlip lampu dan pendar bintang yg saling berlomba memberi keindahan.
Aku suka membiarkan hati dan pikiranku terbang menemui harapan dan keyakinan bahwa hiduplah dengan hati yg gembira, belajarlah untuk terus syukur.
Tak apa sesekali jatuh dalam keluh, maafkan jika diri berbuat salah.
Sejatinya air mata mengabarkan tentang pemahaman hidup yg lebih baik dan tawa menyiarkan dekaplah terus harapan.

” Aku suka langit malam ini, tak apa meski udara dingin membuatku terus menjadi org plg berisik saat ini #batukterus

13 September 2014

Remember Me

rememberme senjaDok. Pribadi

Jantungku berdetak keras, sebuah postcard tergeletak diatas meja kuterima siang tadi. ” Teruntuk Aisa ” namaku tertulis dengan tulisan tangan yang masih kukenal. Butuh keberanian untuk meraih postcard itu, aku mematung sekian lama, sibuk menahan debaran, sibuk menahan gelombang perasaan.

” Akan kukirimkan postcard dimana pun aku berada, untukmu … Supaya kau bisa melihat apa yang aku lihat, supaya kau merasa apa yang aku rasa ”

Aku mencoba memejamkan mata, sebuah suara masih begitu nyata dalam pikiran dan perasaanku. Postcard terakhir aku terima 3 tahun lalu, setiap bulan aku menunggu ketika jarak pengiriman semakin melebar dan akhirnya berhenti sama sekali. Saat itu aku tahu, aku sudah kehilangan cinta terbesar yang aku rasakan.

Perlahan aku raih postcard yang tergeletak sejak tadi, jika sebelumnya dia  mengirimkan postcard beraneka keindahan kota atau kepulauan yang dia kunjungi kali ini hanya sebuah kartu post bertuliskan dua kata singkat.  ” Remember me.. ”

Ada gerimis dimataku…

suatu hari

saygoodbyeImage by Google

Suatu hari ketika kita lelah berharap dan merangkai asa,

kan kuingat selalu betapa kau sangat mengasihiku.

 Ketika ikatan jemari kita akhirnya saling melepaskan,

kuingat selalu ketika langkah kakimu terseok mengejar dan menemukanku.

Aku tidak akan lupa tentang pendar cahaya dimatamu saat menatapku,

lembut suaramu ketika berbisik…

” Aku sungguh mencintaimu dengan tanpa syarat ”

Aku juga takkan lupa, sosok yang diam-diam berdiri disudut hanya untuk menatapku.

Yang slalu berucap ” kamu cantik sekali sayang “

meski aku tidak selalu terlihat menawan…

Hati yang berucap mencintaiku, kemarin, saat ini dan selamanya.

Yang menerimaku dengan penerimaan terbaik yang dia bisa,

yang terus menemukanku meski aku jauh atau dekat.

Yang sibuk berdebat ketika jauh karena menanggung rindu dan cemburu,

namun tak terpisahkan ketika dipertemukan.

Ketika kita lelah menyamakan langkah…

Jika hari itu tiba sayangku,

aku mungkin akan menangis dan terluka,

membunuh waktuku untuk sibuk mengenangmu atau berusaha melupakanmu.

Aku tidak akan menyalahkanmu ketika cerita kita usai tidak di garis akhir.

Atau maafkan aku jika aku yang memutuskan untuk berlalu darimu.

Jika hari itu tiba, aku tahu mungkin bukan karena kamu

lelah mencintaiku atau sebaliknya.

Mungkin itu satu-satunya cara meski hati kita saling mengikat

namun biarkan logika tetap bicara.