EGO

sunyi

Credit

Aku menamakan dirimu ” es ” karena kadang kau begitu dingin, sesaat dingin yang menyejukan. Disaat yang lain, dingin yang menyiksa dan membekukan perasaan. Dingin yang mengabaikan segala, dingin yang menyiksa semua juga membunuh dirimu sendiri secara perlahan.

Jangan lakukan itu ? karena banyak hati yang tersakiti… banyak jiwa yang terluka. Mereka bukan penyebab kesakitanmu, …. mereka bukan yang mengubur impianmu, bukan kegagalan dan rasa sakit yang kau alami.

Jika hidup adalah metaphora, kau ibaratkan apa hidupmu ? duniamu begitu gegap gempita, begitu riuh, begitu banyak kemudahan dan uluran kasih yang ingin sekedar melihat bibirmu tersenyum. Begitu terang mereka memandang, begitu ingin meraih dan memasuki duniamu. Tapi kamu selalu berada di zona abu-abu dan samar. Tidak membiarkan keriangan itu masuk, kau biarkan mereka di beranda tanpa penghayatan. Kau lupa bahwa penantian selalu berbanding lurus dengan kesunyian. Kau biarkan segala terabaikan di beranda. Begitu riuhnya duniamu dalam jarak pandang tertentu, tapi sedikit masuk ke dalam. Namamu adalah kesunyian…

Tidak pernah ada yang sungguh-sungguh menyentuh jauh kedalaman hatimu, tidak pernah ada yang bisa menyempurnakan pencarian bathinmu. TIdak ada…..

Mungkinkah karena hatimu adalah kebekuan es yang selalu berada pada titik minus, ataukah karena pencarianmu belum menemukan ujung. Ataukah karena sesungguhnya kau tidak pernah mencari, karena tidak pernah ada yang kau inginkan selain dunia dan dirimu sendiri ?

Haruskah kau menanti matahari ? karena hanya sinarnya yang menghangatkan hati ? sedang itu sebuah ketidakmungkinan yang pasti…..

Advertisements

Angin lalu,…

 

Kanker bkn hanya soal takdir tapi jg hikmah,… disitu ada menyusun kekuatan untuk bertahan,membingkai harapan,dan berserah lewat doa-doa.

Sekalipun terdengar mereka tampak membicarakan dan ‘mengasihani’ kesakitan ku…mengapa harus perduli ? mengapa harus malu…. ? saya bersyukur dan bisa melewati masa-masa sulit saya dgn terus bersyukur dan tak sekalipun menyalahkan Tuhan atas kanker yg pernah ada di tubuh saya…. dan masih membayangi tubuh saya hingga saat ini.

Silakan menjadi pengomentar pedas kesakitan orang lain, bagi saya itu hanya angin lalu….

 

Image From Google

01.25 dini hari…

 

Ini catatanku,tadi malam…

Ketika waktu terasa lambat berjalan,

dan sunyi menikam.

Tentang hati yang terasa kosong dan berongga,

sedang engkau entah dimana ?

Pada isyaratnya aku tuliskan,

tidakkah teramat sering kau biarkan,

hatiku berawan.

hatiku melayang,..

01.25 dini hari

 

Image From Google

Lingkar hening,….

Ini kebodohan yang berulang,…

bukan begini cara berjalan melangkah kedepan.

Bukan melangkah dengan ragu dan kakimu lemah menjejak tanah.

Dan tatapanmu bolak-balik menatap spion kenangan,

sungguh kau tidak pernah melangkah maju.

Baiknya tinggalkan lingkar yang memungkinkanmu,

sesekali menatap keping matanya,

meski dalam bingkai gambar dan kata lewat aksara.

Baiknya usaikan usah memanja harap,

dia tidak akan pulang.

Usaikan lingkar hening antara kau dan dia….

Remuk

*Wanita bertudung kabut,
meringkuk disudut,
adakah yang mampu membangunkanmu,
tuk sekedar membuka jendela,
membiarkan cahaya menelusup agar tak redup ruangmu.

**Aku tlah sampai ujungku,
langit tak pernah berkata cukup,
tiba ku pada kesadaran aku kosong,
aku bahkan mulai enggan perduli.
semalam tadi air mataku menderas,
pagi ini,smua menatapku!
tlah kukatupkan bibirku,aku malas mendengar penghiburan.
Usahlah menjadi sok memahami aku,
cukup membiarkanku,meski disebuah sudut aku tampak menyedihkan.
Usah membiarkan dada bidangmu untukku,
sekian waktu aku tak pernah membutuhkan itu.

Tahukah kau,…
aku mulai mengerti,
saat selaput pekat turun,bibir akan bicara kebenaran rasa yang tersimpan.
Alangkah naifnya kau dan aku.
ibaku pada kehebatanmu,
ibaku pada arogansiku katamu.

Kita terikat pada satu episode panjang,
entah kapan jalan bergandengan,
atau akan kian bersebrangan.

Sedari semalam tak sepatah kata terucap dari bibirku,
aku tidak sendiri tapi betapa kesunyian menggigilkan relung dan sendiri-sendiku.
Aku takut, kesenyapan ini mematikan seluruh indera perasaku.

Seperti waktu yang lampau,aku tertatih lalu mencoba berdiri.
Kini aku mulai menyadari,sekedarnya aku bagimu.
Kuputuskan berjalan saja,…lewati saja.
Setidaknya,…aku punya tempat untuk pulang, pulang ke rumahMU.

*Wanita bertudung kabut masih membeku,
apapun yang mencoba membangunkanmu urung lalu pergi tertunduk.