Surat terbang

Sky_wallpapers_157Credit

Dear Gie,…

Aku baik-baik saja, semakin sering tertawa dan menikmati setiap detik waktu yang kujalani. Jadwal kentjanku dengan Mr.Smart di RS juga sudah memiliki jeda yang panjang. Menyenangkan menjadi sehat, Gie… sangat menyenangkan.

Bagaimana denganmu ? masih terus membaca buku-buku, dan berfikir segala hal yang membuatmu semakin pintar ? masih menemukan teori-teori tentang psikologi manusia, tentang rumus dan cara menjadi semakin kaya plus bahagia ? masih mengatur semua yang terfikir dan terasa dengan sejumlah perenungan yang mungkin  membuatmu semakin menjauh dari area gravitasiku. Dan aku yang fokus pada alasan-alasan yang bersumber pada takdir Tuhan.

Senang mendengar semua berjalan sesuai yang kita inginkan dalam logika kebenaran. Senang menjadi seseorang yang berhasil mengalahkan ego pribadi,…bahagia mengalahkan dan menyamakan frekuensi otak dan hati kembali menjadi seirama.

Gie,… Masih ingat tentang ‘ikatan’ tak kasat mata yang pernah kamu bilang ? ada benang merah yang menyatukan kamu dan aku pada dimensi tak terlihat mata biasa. Tentang berpuluh tahun yang lalu,…dan mungkin kelak bertahun lagi. Aku menunggu saat itu, saat di mana keyakinan tentang semua analisa , harapan dan doa pada lintasan prasangka menjadi nyata.

Gie,…kamu bilang sudah cukup lama kamu menunggu antrian tentang ketentuan Tuhan yang seharusnya sudah berlaku, Tapi menerima apa yang diberikan saat ini, menjalaninya sebaik kita bisa sebuah peran dari Sang Maha Pencipta adalah cara terbaik menjalani hidup.

Dan hidup harus kita syukuri dengan memperjuangkannya,…

Gie,… pernah menatap keindahan langit malam ? diam-diam dalam kesunyian dan berfikir hanya tentang aku dan kamu. ya,..aku dan kamu, bukan kita. Karena kita adalah untuk yang bersama, sedangkan aku dan kamu bahkan hanya terikat pada dimensi tak kasat mata jika kita tak ingin menyebut organ bernama hepar.

Ya,..di langit malam itu Gie, biarkan semua terbang hingga suara-suara… bisikan-bisikan, angan-angan, impian-impian,  hingga doa-doa….

Terbang menemui yang menghadirkan segalanya pada dua biduk yang berjalan dengan rute yang berbeda. Membiarkannya terbang, melepaskannya hilang…

Gie,… doa-doaku terbang ke angkasa.

 

Advertisements

Beranikan diri,…

Ketika matahari pagi terbit membuka hari baru,

beranikan diri untuk yang pertama tersenyum dan bersyukur.

Dan ketika kegelapan datang, beranikan diri memberi cahaya terang.

Ketika tirani dan ketidak adilan terjadi, beranikan diri untuk berkata STOP.

Ketika segalanya menjadi sulit, beranikan diri berkata mudah dan melewatinya.

Bahkan ketika lelah dan tanpa harapan, beranikan diri tetap tegak dan menemukan sedikit harapan.

Ketika mereka hilang arah, beranikan diri menunjukan jalan.

ketika mereka terjatuh, beranikan diri mengulurkan tangan.

Ketika tersakiti, beranikan diri dan berilah pengampunan.

Ketika menjadi besar, beranikan diri tetap membantu orang lain hingga tak pernah merasa menjadi besar.

ketika melihat kenyataan tak seindah mimpi, beranikan diri mewujudkan impian.

ketika mereka meninggalkanmu, beranikan diri tetap melangkah.

Ketika kesedihan dan rasa sakit menghimpit, beranikan diri berkata aku terluka dan berkata aku pasti tersembuhkan.

Ketika mereka menampakan amarah, beranikan diri memberi senyuman.

Ketika Cinta menyakitimu, beranikan diri mencintai lebih dan lagi…

Dan, ketika hari berakhir.. beranikan diri merasa telah melakukan yang terbaik.

Berani untuk melakukan yang terbaik yang kita bisa disetiap saat.

Hingga ketika hari terakhir tiba,…. kita sudah beranikan diri menjadi berani.

# Dengan menuliskan tidak selalu sudah menjadi berani, tapi berbagi  dan menumbuhkan semangat adalah tanda bahwa aku cukup berani * IrmaSenja *

~ Inspiration by. Quote ~

Image from Google

Image from Google

Aku pasien kanker

Aku pasien kanker,

seorang ibu, istri, anak, dan teman.

aku memiliki cita-cita dan masa lalu yang penuh kenangan

Kadang aku bimbang siapa yang akan menjaga anak-anakku setelah aku tiada,

tapi terkadang aku yakin akan hidup lebih lama.

 

Aku pasien kanker,

seorang penyintas, sebuah inspirasi dan pendukung.

Aku telah menjalani penanganan dan perawatan medis

dan merasa telanjang di depan orang yang tak kukenal yang mengenggam masa depanku.

Ada saat aku merasa bingung dan saat aku mengerti sepenuhnya,

malam-malam saat tidurku resah dan hari-hari penuh kesangsian dan amarah.

 

Aku pasien kanker,

yang terlatih menyamarkan tanda penyakit dengan riasan dan senyuman,

tetapi jangan terkecoh, sebenarnya aku takut.

 

Aku pasien kanker,

ditatap dengan pandangan pilu, kagum, dan salah paham oleh mereka yang tidak mengetahui perjuanganku.

Aku menikmati saat-saat penuh kedamaian ditengah ketidakpastian

karena aku menyadari betapa berharganya hidup ini.

 

Aku pasien kanker,

yang hadir menghadapi tantangan.

Aku bersyukur menerima efek samping yang membantuku menjadi seorang ibu, istri, anak, teman, dan sahabat yang lebih baik dari sebelumnya.

Dan aku bahagia menjalani kehidupan yang indah….

 

# By.  Seorang penyintas

Inspirasi kisah-kisah para penyintas

Image From Google

Dimakamkan

Hari ini ku mati, perlahan…

Tubuhku ditutup tanah,perlahan…

semua pergi meninggalkanku.

Masih terdengar jelas langkah-langkah terakhir mereka,

aku sendirian,

ditempat yang gelap yang tak pernah terbayangkan,

sendiri,

menunggu pertanyaan malaikat…

Belahan hati,…belahan jiwa pun pergi.

Apalagi sekedar kawan dekat atau orang lain.

Aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka…

Sanak keluarga menangis,sangat pedih…

aku pun demikian, tak kalah sedih.

Tetapi aku tetap sendiri,

disini, menunggu perhitungan.

Menyesal tak lagi dianggap, dan maaf pun tak bakal didengar.

aku benar-benar harus sendiri.

Ya Allah,…

Jika Engkau beri aku 1 kesempatan,

jika Engkau pinjamkan lagi beberapa hari milikMu,

untuk aku perbaiki diriku,

aku ingin memohon maaf pada mereka.

Yang slama ini telah merasakan zalimku,

yang selama ini sengsara karena aku. tersakiti karena aku…

Aku akan kembalikan jika ada harta kotor ini yang telah kukumpulkan.

Yang bahkan kumakan…

Ya Allah beri lagi aku beberapa hari milikMu,

untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta.

Teringat kata-kata kasar dan keras yang menyakiti hati mereka.

Maafkan aku ayah dan ibu, mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayangmu.

Beri juga ya Allah aku waktu untuk berkumpul dengan keluargaku,

menyenangkan saudara-saudaraku…

untuk sungguh-sungguh beramal sholeh.

Aku sungguh ingin bersujud dihadapanMu lebih lama lagi,

begitu menyesal diri ini.

Kesenangan yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya sama sekali…

Mengapa kusia-siakan waktu hidup yang hanya sekali itu ?

Andai aku bisa putar ulang waktu itu…

Aku dimakamkan hari ini,

dan ketika semua menjadi tak termaafkan,

dan ketika semua menjadi terlambat,

dan ketika aku harus sendiri…

untuk waktu yang tak terbayangkan sampai yaumul hisab & dikumpulkan di Padang Mashar…..

#Puisi almarhum wartawan senior Remy Soetansyah , wafat 30 Oktober 2012#

” andai hari ini aku dimakamkan ”  renungan untukku,untukmu & untuk kita semua ….

~Wartawan senior almarhum Remy Soetansyah~