Enggan Kehilangan

Angin terbang,…membawa segala kecamuk dalam dada

Menerbangkan sebentuk rasa yang nyata terasa.

Adakah yang bicara pada kita tentang kehilangan,

karena satu sama lain begitu enggan bersentuhan pada perihnya.

Kita terlalu pengecut untuk merasa sakit,

padahal bersama hanya perjalanan menguras energi

yang entah berakhir pada senyum atau tangis.

Kangen Kamu itu,…

rindu-menikahCredit

Kangen kamu itu seperti petani yang rindu kemarau usai dan musim penghujan datang. Dahaga…

Kangen kamu itu seperti bernafas dan hilang udara. Menyesakkan…

Kangen kamu itu seperti gelap malam tanpa cahaya. Gulita…

Kangen kamu itu seperti lagu tanpa nada. Sumbang…

Kangen kamu itu seperti ada puisi dalam hati, berdesir dalam dada. Luruh…

Kangen kamu itu seperti bianglala tanpa senja. Hampa…

Kangen kamu itu seperti berjalan dalam hujan. Resah…

Kangen kamu itu seperti menunggu tanpa waktu temu. Lelah…

Kangen kamu itu seperti memintal rasa bersama doa. Asa…

Kangen kamu itu seperti aku tanpamu, tiada…

 

* Dikaki Langit Ramadhan,… Juni 2015 , dari Irma Senja

Seheningnya Rasa

Saat itu langit malam gelisah,…

Udara pelan mengalir, melautkan gelombang perasaan

Mempuisikan tatapan, malam itu aku dan kamu bersama rindu yang bertamu.

 

Aku bersama raguku yang dalam dan kamu yang selalu setia menunggu.

Kamu,… yang menyederhanakan jarak, dan teguh melintasi waktu.

Yang melangitkan harap sejak belasan tahun lalu dan menautkan asa pada keajaiban semesta.

 

Tuan,…

ketulusanmu perlahan namun pasti menghadirkan mimpi disiang hari,

dan pendar gemintang di gelap malam.

Tuan,… aku dalam pemahaman yang dalam.

Yang terus melangitkan asa meski ilusi dan realita bertemu batas yang tegas.

 

Aku dan kamu terus belajar,…

menyimpan sebaik-baiknya hasrat, mengikis imaji berlebih

mengatupkan rindu, menyederhanakan rasa

karena tak ingin cinta menjadi buta.

 

Saat itu malam seheningnya perasaan,…

tanpa raga saling merengkuh,

hanya hati yang riuh berbisik,

tentang cinta tanpa tanda baca, cinta tanpa kadaluwarsa.

 

* Di kerlip bintang dan lampu taman, Mei yang gelisah

 

Dalam Diam

diam

Image From Google

Aku terjemahkan diamku,
bersama bayangan wajahmu
dibalik warna hitam mataku.

Sinar matamu yang terasa ringan,
ternyata terasa berat dipundakku.
Entah bagaimana harus berjalan tegak dengan rasa ini.

Diamku bukan buih air yang hilang ditepian,
diamku bukan pula bayangan yang tak tentu arah.
Diamku adalah kau yang menyejukan hatiku…

Masihkah bertanya mengapa aku diam ??

*Anonymus

Lembayung Jingga

Udara menguar, nafasku terbang bersama langit yang melembayung

Sekali lagi tentang senja yang diam-diam terus menjelma menjadi cerita-cerita.

Dear lelaki berparas matahari, ini surat terbangku untukmu.

Semoga terbaca mega-mega.

Aku tidak lagi menunggu, tidak lagi merindu…

Waktu selalu pandai membungkus cerita menjadi masa lalu,

melipat kenangan menjadi barisan imaji yang tersimpan dibelakang.

Aku tersipu hari ini, surat cintamu diterbangkan angin hadir dimejaku

entah dimana kulipat dan kusembunyikan dulu.

Kini begitu saja hadir dan terbaca mataku.

 

Aku terkenang-kenang,… hatiku membiru,

tidak pernah menjadi biasa jika itu tentangmu.

Bagaimana bisa, kamu adalah degup pertamaku.

Irama nafasku yang berirama rindu.

Hari-hari berwarnaku merah, jingga dan biru…

 

Pria pemilik paras matahari,

ini hanya tentang mengenang, sesaat langkahku terhenti pada zona bernama kamu.

Sejenak saja,…tidak lama hanya ingin menoleh pada jejak yang kau beri.

Mungkin berterima kasih pada setiap lingkar hidupmu dan aku,

selalu rona bahagia yang melingkupiku.

Hingga ketika kau pergi, tak ada air mata karena derita.

Tapi bahagia,… sejenak ketika kita bersama,

ada tawa yang terbingkai menjadi cerita.

Mengabadi bersama jingga di langit senja…

*YY*