Mercusuar

 

Sejak awal dia tidak tertangkap layarku, seperti anomali yang tahu dia ada tapi tiada.

Proyeksi jatuh cinta yang tidak tiba-tiba, tapi dalam dan nyata.

Serupa mercusuar yang mengarahkanku kemana dia membawa,

Susah mengelak, enggan menolak …

Kini ku susuri arus gelombang dilaut lepas, hingga semilir angin dari segala penjuru…

Mendekap pengharapan, ini takdir Indah yang Tuhan gariskan…

 

  • Secangkir teh hangat di pagi bulan Juni yang penuh harapan

#PuisiIrmaSenja

Advertisements

PUDAR

Perlahan kecemerlanganmu, memudar … mulai tak tertangkap mata biasaku

Serupa Neptunus, planet terjauh di tata surya

Terlampau tak masuk akal untuk dipandang

Kini kumulai bisa bernafas lega,

Patah hati ternyata membuatku mudah diajak kompromi

Terlalu melelahkan memeluk kenangan tanpa bertuan

Redalah, reda …

 

#puisiirmasenja

 

” MATAMU “

Setiap melihat matamu, hatiku entah kemana

Mungkin mencari makna mengapa matamu begitu memenjara

Seharusnya aku alihkan pandang,

bukan malah berenang didalamnya,

terlanjurku berkenalan dengan perihnya pengharapan.

 

 

PS.¬†Penghulu bulan Mei yang berisik di kepala, tetap tenang dipermukaan …

#puisiirmasenja #mailav

 

Sirius

Kamu seperti Sirius di rasi major

Komponen bintang primer kelas A

Bintang paling terang di langit malam

Aku cahaya sore yang nyaris tenggelam di cakrawala

Kita, tak mungkin berjumpa …

 

Bekasi, 29 April 2019

#Puisiirmasenja

 

Ini pernah jadi beranda kita

 

Ini pernah jadi beranda kita,…

Ketika kopi, tawa, dan cinta masih menjadi udara yang kita hirup bersama

Ketika tatapku hanya menujumu,

menyimpan setiap degup perlahan hingga jauh mengisi palung terdalam bernama hati

 

Iya, beranda kita …

Ketika bisikmu serupa oase di sahara

Kini, hanya menyisakan sepi,

tawa menjadi luka, dan cinta entah menguar kemana

 

Ini pernah jadi beranda kita,

meski aku tak lagi bersamamu,

meramu mimpi bersama secangkir kopi

Kuusaikan perjalanan, karena bertahan terlalu melelahkan

Aku melepasmu,…

membiarkan kenangan dan ingatan

bertubrukan lalu jatuh berderaian

 

Takkan ada lagi beranda kita,

yang tersisa hanya dua bangku kayu tanpa ingatan dan harapan

 

*Sebuah puisi untuk penikmat kopi yang sedang bersahabat dengan sepi