Ini pernah jadi beranda kita

 

Ini pernah jadi beranda kita,…

Ketika kopi, tawa, dan cinta masih menjadi udara yang kita hirup bersama

Ketika tatapku hanya menujumu,

menyimpan setiap degup perlahan hingga jauh mengisi palung terdalam bernama hati

 

Iya, beranda kita …

Ketika bisikmu serupa oase di sahara

Kini, hanya menyisakan sepi,

tawa menjadi luka, dan cinta entah menguar kemana

 

Ini pernah jadi beranda kita,

meski aku tak lagi bersamamu,

meramu mimpi bersama secangkir kopi

Kuusaikan perjalanan, karena bertahan terlalu melelahkan

Aku melepasmu,…

membiarkan kenangan dan ingatan

bertubrukan lalu jatuh berderaian

 

Takkan ada lagi beranda kita,

yang tersisa hanya dua bangku kayu tanpa ingatan dan harapan

 

*Sebuah puisi untuk penikmat kopi yang sedang bersahabat dengan sepi

 

 

Advertisements

Surat Untuk Tuan

Untuk : ¬†Tuan yang ( masih ) kukasihi,…

Apa kabar ?

Bagaimana rasanya kehilangan,

Sepekat malamkukah ?  sesunyi langit soreku ?

Sejak kita memutuskan memeluk kehilangan satu sama lain.

Atau tak ada bedanya bagimu, tetap arogan dan bahagia.

 

Syukurlah aku menikmati rasa sakitnya, menikmati waktu diam-diam air mata mengalir.

Menikmati sesak tertahan melawan rindu dan kehilangan, bercampur amarah dan luka.

Mungkin aku terlalu cinta, hingga takut bersama hanya akan mengikis rasa.

Kamu terlalu digdaya, mengunci hatiku sekian lama.

Kamu terlalu mempesona, hingga dimataku salahmu tampak tak nyata

Kamu pusaran duniaku, hingga aku nyaris tiada.

 

Tuan,…

kamu guru kehidupanku,

denganmu aku belajar mencintai, mengikhlaskan, jatuh dan terluka

dan akhirnya belajar memaafkan.

baik-baik di sana, tetap keren ya

agar ku tidak menyesal menghabiskan waktu sewindu bersamamu.

 

Dari : Luka di dada kiri

 

Yang tercuri

diamImage from Google

Tidak ada yang berubah, udara masih menerbangkan pengharapan yang sama tentang kehidupan. Laju derap waktu secepat yang biasanya, berkejaran dengan arogansi manusia. Irama hari masih sama, mungkin menyesak di penghujung hari ketika bertemu senja yang sendu. Atau hujan yang bisu…

Namun esoknya matahari masih setia menjemput pagi,… bunga-bunga masih seindah biasanya.

Hanya tawaku yang hilang dicuri kehilangan.

 

Enggan Kehilangan

Angin terbang,…membawa segala kecamuk dalam dada

Menerbangkan sebentuk rasa yang nyata terasa.

Adakah yang bicara pada kita tentang kehilangan,

karena satu sama lain begitu enggan bersentuhan pada perihnya.

Kita terlalu pengecut untuk merasa sakit,

padahal bersama hanya perjalanan menguras energi

yang entah berakhir pada senyum atau tangis.

Diary, aku jatuh cinta pada dokter onkologi

love_doctor

Dear Diary,…

Koridor RS pemerintah ini menjadi begitu kosong, hiruk pikuknya seolah lenyap dalam pandanganku. Sebulan sejak ibu berpulang aku menginjakkan kakiku kembali, disini. Begitu panjang hari-hari beraroma kesakitan jelang kepergiannya, kanker stadium lanjut membuat jiwa raga ibu dan hatiku tersakiti secara bersamaan. Menyakitkan melihat seseorang yang kukasihi berperang diarena peperangannya sendiri sedang aku hanya mampu berteriak ditepi mencoba menguatkan.

Hingga ketika akhirnya dia pergi, aku berbisik pada hatiku sendiri bahwa rasa sakitnya usai…kesakitan jiwamu juga usai. Mungkin aku naif, menjadi pendampingnya selama sakit dan membiarkanku larut begitu jauh pada semua hal yang menyertai perjuangannya. Aku jatuh cinta sepenuh rasaku pada perjuangan ibuku, berbelas kasih pada semua hal yang membuatnya tersenyum dipagi hari jelang operasi dan khemotheraphynya. Menaruh harapan pada suster-suster baik hati yang dengan telaten merawatnya. Dan jatuh cinta tanpa kompromi pada dokter yang entah mengapa serupa dengan pahlawan yang kutemukan pada cerita fiksi.

Visit nya setiap pagi tidak hanya menawarkan kesakitan dan kecemasan ibuku, tapi menghangatkan kelelahan hatiku. Kebaikan yang mungkin biasa, menjadi begitu bermakna ketika hari-hari ku minim harapan dan keyakinan. Cinta mengetuk hatiku diam-diam, tatapan dan senyumannya menjadi obat bagi kelelahanku.

(more…)