Yang tercuri

diamImage from Google

Tidak ada yang berubah, udara masih menerbangkan pengharapan yang sama tentang kehidupan. Laju derap waktu secepat yang biasanya, berkejaran dengan arogansi manusia. Irama hari masih sama, mungkin menyesak di penghujung hari ketika bertemu senja yang sendu. Atau hujan yang bisu…

Namun esoknya matahari masih setia menjemput pagi,… bunga-bunga masih seindah biasanya.

Hanya tawaku yang hilang dicuri kehilangan.

 

Advertisements

Enggan Kehilangan

Angin terbang,…membawa segala kecamuk dalam dada

Menerbangkan sebentuk rasa yang nyata terasa.

Adakah yang bicara pada kita tentang kehilangan,

karena satu sama lain begitu enggan bersentuhan pada perihnya.

Kita terlalu pengecut untuk merasa sakit,

padahal bersama hanya perjalanan menguras energi

yang entah berakhir pada senyum atau tangis.

Diary, aku jatuh cinta pada dokter onkologi

love_doctor

Dear Diary,…

Koridor RS pemerintah ini menjadi begitu kosong, hiruk pikuknya seolah lenyap dalam pandanganku. Sebulan sejak ibu berpulang aku menginjakkan kakiku kembali, disini. Begitu panjang hari-hari beraroma kesakitan jelang kepergiannya, kanker stadium lanjut membuat jiwa raga ibu dan hatiku tersakiti secara bersamaan. Menyakitkan melihat seseorang yang kukasihi berperang diarena peperangannya sendiri sedang aku hanya mampu berteriak ditepi mencoba menguatkan.

Hingga ketika akhirnya dia pergi, aku berbisik pada hatiku sendiri bahwa rasa sakitnya usai…kesakitan jiwamu juga usai. Mungkin aku naif, menjadi pendampingnya selama sakit dan membiarkanku larut begitu jauh pada semua hal yang menyertai perjuangannya. Aku jatuh cinta sepenuh rasaku pada perjuangan ibuku, berbelas kasih pada semua hal yang membuatnya tersenyum dipagi hari jelang operasi dan khemotheraphynya. Menaruh harapan pada suster-suster baik hati yang dengan telaten merawatnya. Dan jatuh cinta tanpa kompromi pada dokter yang entah mengapa serupa dengan pahlawan yang kutemukan pada cerita fiksi.

Visit nya setiap pagi tidak hanya menawarkan kesakitan dan kecemasan ibuku, tapi menghangatkan kelelahan hatiku. Kebaikan yang mungkin biasa, menjadi begitu bermakna ketika hari-hari ku minim harapan dan keyakinan. Cinta mengetuk hatiku diam-diam, tatapan dan senyumannya menjadi obat bagi kelelahanku.

(more…)

Lembayung Jingga

Udara menguar, nafasku terbang bersama langit yang melembayung

Sekali lagi tentang senja yang diam-diam terus menjelma menjadi cerita-cerita.

Dear lelaki berparas matahari, ini surat terbangku untukmu.

Semoga terbaca mega-mega.

Aku tidak lagi menunggu, tidak lagi merindu…

Waktu selalu pandai membungkus cerita menjadi masa lalu,

melipat kenangan menjadi barisan imaji yang tersimpan dibelakang.

Aku tersipu hari ini, surat cintamu diterbangkan angin hadir dimejaku

entah dimana kulipat dan kusembunyikan dulu.

Kini begitu saja hadir dan terbaca mataku.

 

Aku terkenang-kenang,… hatiku membiru,

tidak pernah menjadi biasa jika itu tentangmu.

Bagaimana bisa, kamu adalah degup pertamaku.

Irama nafasku yang berirama rindu.

Hari-hari berwarnaku merah, jingga dan biru…

 

Pria pemilik paras matahari,

ini hanya tentang mengenang, sesaat langkahku terhenti pada zona bernama kamu.

Sejenak saja,…tidak lama hanya ingin menoleh pada jejak yang kau beri.

Mungkin berterima kasih pada setiap lingkar hidupmu dan aku,

selalu rona bahagia yang melingkupiku.

Hingga ketika kau pergi, tak ada air mata karena derita.

Tapi bahagia,… sejenak ketika kita bersama,

ada tawa yang terbingkai menjadi cerita.

Mengabadi bersama jingga di langit senja…

*YY*

 

Cermin

 Cermin-satu-arah-dan-dua-arah-642x336

Image from Google

 

” Betapa naifnya kamu kris…”

Sepanjang malam aku terus mengutuknya, bahkan hingga jelang pagi ketika embun turun menyingkap pekatnya malam aku terus mengutuknya. Menyakitkan melihatnya seperti ini.

Aku benci air mata itu, aku benci bayangan kelelahan dalam lingkar matanya, aku benci karena perlahan namun pasti sinar itu redup disana. Malam itu aku tahu Kris yang aku kenal telah mati hati.

” Katamu ini hanya soal rasa, dan mengapa dia begitu berbeda, hingga kamu begitu naif, begitu bodoh, begitu konyolnya. Kris yang aku tahu tidak akan begini ”

Inikah patah hati ? seperti kisah pada cerita-cerita fiksi yang digambarkan begitu rupa ? bukankah kita tahu bahwa semua hal memiliki konsekuensi, begitu juga kamu Kris. Kamu tahu bahwa mencintainya seperti mengenggam bara api, kamu bisa terbakar dan habis. Tapi kamu terlalu keras kepala, terlalu arogan, kamu bilang kamu bisa mengontrol segalanya. Kamu bilang dia berbeda, kamu bilang dia yang melengkapi setiap sudut kosong hatimu, dan kamu salah Kris. Kamu lupa satu hal, bahwa orang yang kamu cintai bahkan yang mencintaimu berpeluang lebih besar untuk menyakiti mu dengan tanpa kompromi.

Katamu ” Ini bukan hanya soal cinta dan patah hati, ini tentang aku melambung tinggi lalu dijatuhkan dari ratusan meter hingga ke dasar. Ini tentang harapan yang hancur, ini tentang keyakinan yang melebihi keyakinanku terhadap diriku sendiri. Ini bukan hanya soal cinta dan hal-hal melankolis lainnya ”

Aku tahu dalam semalam kris yang aku kenal sudah tidak ada, dalam hitungan kalkulasi waktu aku melihatnya berbeda. Cinta yang hilang hanya akan membuatmu patah hati, tapi keyakinan yang hancur membuatmu mati hati sendiri.

Tidak ada yang bisa menyembuhkannya, selain dirinya sendiri bahkan waktu terkadang begitu sombong hingga tidak akan dengan begitu mudah membuat seseorang tersembuhkan.

Mungkin aku akan mengucapkan selamat pada dia yang membuatmu begini Kris, selamat tuan… anda luar biasa ! mengubah gunung batu menjadi musim semi lalu mengubahnya kembali menjadi badai salju.

Iya, badai salju semalam yang membekukan sejuta perasaan seorang Kristal.