Perkara Ingatan

Dengan adanya media sosial yang seolah mendikte pengalaman mana yang berarti dalam hidup. Dan berpotensi memusnahkan pengalaman yang dianggap kurang layak untuk dibagikan. Secara bersamaan memperkuat ingatan yang dipilih sebagai ingatan yang paling berarti. Berpotensi juga membuat kenangan lebih bermakna dibanding sebenarnya.

Jadi dimana ingatan yang sesungguhnya bermakna itu ??

Saat ini, ingatan yang sesungguhnya bermakna namun terasa kurang layak dibagikan justru tersimpan. Dan biasanya akan hilang karena kurang dimaknai.

Perkara ingatan ini terasa mahal saat ini, yang kita posting hanya yang kita pikir layak menjadi konsumsi publik. Yang kita pikir mendatangkan like sebanyak mungkin. Pada akhirnya membiaskan dan mengaburkan makna dan arti yang sesungguhnya. Dari ingatan yang sesungguhnya berarti…

Lalu apakah yang bermakna, yang kita simpan rapat tetap kekal lama tersimpan dalam ingatan ? mari kita buktikan.

Apakah kamu masih bermakna, meski waktu berlalu… dan ingatan tentangmu hanya tersimpan rapat didalam lemari terkunci yang kusebut almari hati. Tak memiliki panggung, tak memiliki ruang penilaian. Hanya hidup diingatan sepiku…

  • Ketika hari hujan, 23 oktober 2020

Coffee Story

 

 

Entah sejak kapan jatuh cinta pada secangkir kopi, Mungkin bukan kopi sekuat americano atau espresso. Tapi mencandu latte atau capuchino dan meminumnya sebahagia melihat langit senja, tanpa khawatir lambung bergolak seperti sebelumnya, jelas bahwa aku sudah jatuh cinta. Dulu aku terheran-heran ketika melihat sahabatku ย mencandu kopi sebegitunya, sekarang aku tahu rasanya menikmati aroma lalu menghirupnya dengan bahagia.

Aku lupa sejak kapan bermula. Dulu mencoba sesekali, ketika bosan bertemu aneka jus segar atau green tea. Itu pun setelahnya lambung bergolak, menolak. Sekarang justru jatuh cinta pada aromanya yang mengikat, pada pandangan pertama ketika disajikan. Aku tahu ini tentang terbiasa, lambung yang sebelumnya komplain lalu menerima dan akhirnya terkait erat. Susah lupa pada rasanya yang sudah terbiasa.

Mungkin begitulah rumusnya, biarkan belajar… atau paksakan, lalu akhirnya bisa karena terbiasa. Rumus yang kurang lebih sama, pada semua hal bagian hidup ini. Belajar menerima hal-hal yang tidak melulu sesuai dengen harapan dan keinginan. Pada titik tertentu, kita akan menerima apa yang dihadirkan dalam lingkar hidup kita.

Tahun 2020 terasa berat melangkah untuk semua orang, bahkan seluruh dunia aku yakin sama tertatih… sama belajar menahan diri, belajar menerima segala ketidak nyamanan, keterbatasan. Berfokus pada kesusahan hanya akan semakin berat melangkah, aku belajar mengabaikan hal-hal yang sulit, hal-hal tidak enak. Dan fokus pada semua berkat yang Allah berikan. Percaya atau tidak, itu meringankan… allhamdulillah.

Dimasa pandemic ketika kita lebih banyak menghabiskan waktu dirumah, membuat aku punya banyak waktu untuk berfikir dan memilah tiap rasa yang melintas. Tiap pikir yang hilir mudik dikepala. Semakin banyak merenung, semakin banyak mendengar suara hati… semoga kedepannya semakin yakin pada semua langkah yang diambil. Bukankah hidup hanya sekali, jalani hidup sesuai yang diinginkan…maka hidup sekali saja sudah cukup. Semakin berjalannya usia, lingkar kehidupan semakin mengecil. Mungkin karena perkara kompromi bukan keahlianku.

Semoga harapan tentang esok hari yang lebih baik dan lebih indah, terus menjadi kekuatan kita melangkah ya mantemans ๐Ÿ™‚ Yakin saja,…setelah hujan badai, biasanya akan hadir pelangi yang Indah.

Jangan kehilangan harapan, jangan lupa bahagia, jangan bosan belajar terus menjadi lebih baik ๐Ÿ™‚

 

  • Bekasi, 10 Juni 2020

Sembari menikmati Latte, merevisi draft tulisan pekerjaan, menunggu kantuk. Terdampar di draft yang belum usai, kuusaikan karena ketika memulai idealnya selesaikan sampai akhir ๐Ÿ˜‰

 

 

 

Tentang Puisi

IMG_20181013_200251_453

Beberapa hari lalu ada percakapan lumayan panjang di chat, dengan seorang sahabat lama. Banyak hal baik yang bisa saya serap selain imajinya yang indah tentang tulisan-tulisan fiksi seperti puisi dan diksi. Hanya obrolan ringan memang, tentang kabar dan kesehatan. Tidak terlalu sering terkoneksi tapi rupanya dia lumayan menyimak perihal kesehatan dan kabar saya.

Salah satu topik obrolan kami tentang betapa sekarang sulit sekali menemukan tulisan bertema puisi atau kontemplasi di rumah virtual ini.

Dia bilang ” Rindu puisimu, kenapa tidak pernah menulis puisi lagi ? ”

(more…)

Ice Salted Caramel

 

What do you want ?

” Just coffee, Ice salted caramel coffee. like my soul … ”

Paduan rasa creamy, sensasi asin yang tipis, kopi yang lembut namun terasa memikat.

Disini, disebuah kedai kopi yang tidak terlalu jauh dari rumah.

Meski kunikmati sendiri, kopi hari ini terasa lebih enak dari sebelumnya.

Mungkin karena sendiri tidak selalu sepi, tidak selalu sunyi.

Ada bagian diri yang semakin menyadari, bahwa aku suka suasana ini.

Sendiri,… akhhhh aku bebas berbincang dengan bagian diri.

Bebas bertemu denganmu, dalam kenang dalam bayang-bayang.

 

Kenapa bukan kopi hitam, itu sebenar-benarnya kopi ??

” Ice salted caramel is sweet like a love ”

Akhhhhh,……

 

  • Ombe Kofie

Summarecon Mall bekasi

22 Maret 2019,

Sembari menunggu yang tercinta … Sean ๐Ÿ™‚