Ice Salted Caramel

 

What do you want ?

” Just coffee, Ice salted caramel coffee. like my soul … ”

Paduan rasa creamy, sensasi asin yang tipis, kopi yang lembut namun terasa memikat.

Disini, disebuah kedai kopi yang tidak terlalu jauh dari rumah.

Meski kunikmati sendiri, kopi hari ini terasa lebih enak dari sebelumnya.

Mungkin karena sendiri tidak selalu sepi, tidak selalu sunyi.

Ada bagian diri yang semakin menyadari, bahwa aku suka suasana ini.

Sendiri,… akhhhh aku bebas berbincang dengan bagian diri.

Bebas bertemu denganmu, dalam kenang dalam bayang-bayang.

 

Kenapa bukan kopi hitam, itu sebenar-benarnya kopi ??

” Ice salted caramel is sweet like a love ”

Akhhhhh,……

 

  • Ombe Kofie

Summarecon Mall bekasi

22 Maret 2019,

Sembari menunggu yang tercinta … Sean 🙂

Entah, mungkin celoteh saja…

sebelahtangan

Image from Google

Bulan penuh di langit malam ini, menyisakan kekaguman yang sangat pada pemilik semesta. Aku pada sebuah ruangan, duduk kadang menatap jauh pada jendela yang kubiarkan terbuka. Ada segelas hangat kopi bercampur krim yang aromanya menyebar, sebuah buku yang entah mengapa ku baca ulang, dan sesekali jemariku yang bergerak tak beraturan di atas tuts keyboard. kadang cepat seolah berlomba dengan kalimat yang seolah berlari di kepalaku, lalu pelan ketika kata-kata seolah tersendat.

Lama rasanya aku enggan membuka kolom dashboard di rumah virtual fiksiku ini, karena inspirasi yang menguap, rasa segan dan alasan sentimentil yang berbau kenangan yang enggan ku buka ulang. Ruang ini selalu berhasil membawaku berlari ke belakang, sekali waktu memaksaku membongkar laci-laci berlabel masa lalu. Mungkin karena inspirasi dan fiksi selalu hadir bersamaan dengan kisah-kisah yang tlah usang. Atau karena fiksi sendiri adalah cerita yang tak nyata atau tiada. Ku pungut dari serpihan kenangan, ku tulis dari kepingan mimpi.

Aku tersendat lagi,…. terdiam sesaat pada tuts keyboard…

Ruang ini slalu bernama rindu, entah rindu pada siapa atau rindu bermakna apa. Atau hanya rindu yang bermakna hanya kata pada aksara. Tidak bertuan,…

Kopiku hangat, kusesap perlahan… kebiasaan baru yang perlahan mulai mencandu. Selalu nikmat menikmatinya bersama ketikan jemari bersama aromanya yang menyebar. Meski tanpa penghayatan atau perasaan… diamlah disana, jangan pergi. Cukup menemaniku tanpa bicara, tanpa berkata, tanpa merasa, cukup bagiku kali ini. Tidak ingin lebih, cukup di sana… dan cukup bagiku disini. Rasa,…

Selalu ada kedamaian dalam keheningan, cukup rasa di hati saja…

Jarak

hilang

Aku tidak suka jarak, khususnya jika itu menjauhkanmu dariku. Sayangnya mungkin setelah

hari ini jarak akan memeluk kita. Bukan soal berapa kilo meter  yang terbentang,

tapi lebih jauh dari batasan hitungan angka.

Entah dimana rasa yang menyatukan kita saat ini,

hilang terbawa arogansi atau luruh tertimbun amarah dan cemburu.

Mungkin ini akhir dari ikatan benang merah kita…?!

 

 

Rindu

Bolehkah aku menjumlah rindu,…

Sederas gerimis dimusim penghujan,

sebanyak butiran embun dipagi yang beku,

atau setiap hela nafasku yang beraroma namamu….

 

 

Senja yang tak lagi sama…

Nabi CiNtaCredit

Sebuah puisi menuliskan ” kau hidup dalam kenangan ” mungkin itu benar, seperti kenangan yang kadang menyapa kita kembali saat ada yang mengingatkan. Maka kembalilah aku pada sekian waktu berlalu di mana kisah demi kisah terjadi, membentuk kepingan puzzle yang berlabel kita.

Mungkin kini ingatanku tentangmu hanya serupa bayangan diam, hening tanpa visualisasi gerak dan suara… mungkin terlalu takut ku hadirkan sosok mu dalam bentuk yang sempurna. Karena tidak pernah tidak kehadiranmu selalu mengobrak-abrik sekian perasaan meski yang sudah tersusun rapih dalam box masa lalu. Hingga mengaduk abdomenku untuk berkontraksi, karena begitu kuatnya kamu mempengaruhi pondasi rasaku. Ingatan tentangmu adalah kekonyolan yang satu hingga ketidak mungkinan dan akhirnya sebuah kedewasaan. Ketika kebekuanku mencapai titik klimaks dan menyerah pada sesuatu yang tidak kasat mata, tak tersentuh dan tak terlihat tapi begitu kuat mengikat.

Andai saja tak ada langit senja, mungkin kenangan tentang kita takkan lagi kubiarkan menyapa dan mengetuk pintuku untuk singgah kembali. Tapi disini,… menepikan mobil yang kuparkir seenaknya, terpaku pada langit berwarna tembaga, membawaku pada sesaat waktu ketika semua gravitasi seolah terhenti, semua realita menguap, dan hanya menyisakan … kita.

Mungkin karena senja itu, ketika kita memandangnya dengan pandangan yang sama… saat aku rebah pada teduh matamu, pada santun katamu, pada teguh sikapmu, dan kearifanmu memandang kehidupan yang tampak begitu membingungkan bagiku. Ketika aku lemah dan kamu menguatkan, ketika aku lari kamu mengembalikan pada di mana aku seharusnya.

Hidup adalah barisan cerita, barisan kisah dan tokoh…. kisah-kisah yang akan menghidupkan jiwa dan diri kita. Pada pemahaman-pemahaman baru tentang menjalani, dan menghargai bahkan melupakan. Cinta selalu menjadi warna dan alasan sejak semula kita dihadirkan didunia ini, cinta selalu datang dan pergi. Jika ada cinta yang begitu indah hadir dengan tanpa alasan, membawaku pada pemahaman tak hanya sekedar merasa dicintai tapi juga mencintai… itu adalah ketika sesaat aku dan kamu menjadi kita.

Saat ini bukan senja itu dimana kita memandangnya dalam pandangan yang sama,… langkahmu sudah jauh ke barat, dan aku teguh menuju timur. Meski langit yang kupandang adalah cakrawala yang sama yang perlahan surut pada 16 derajat, masih senja meski tanpa bayanganmu disampingku. Aku hanya ingin mengingatmu dalam kenangan yang sempurna, bukan dalam kegalauan dan rintik air mata … aku ingin mengingatmu dalam teduh senja dan keanggunannya. Pada Kemaha kuasaNya menciptakan langit dengan lembayungnya yang berwarna jingga seindah ini.

Semoga hidupmu senantiasa mudah, semoga dilangit mana pun kamu memandang…pandanganmu tentang hidup dan kehidupan selalu sempurna.

* Tidak pernah sebentar….