Mercusuar

 

Sejak awal dia tidak tertangkap layarku, seperti anomali yang tahu dia ada tapi tiada.

Proyeksi jatuh cinta yang tidak tiba-tiba, tapi dalam dan nyata.

Serupa mercusuar yang mengarahkanku kemana dia membawa,

Susah mengelak, enggan menolak …

Kini ku susuri arus gelombang dilaut lepas, hingga semilir angin dari segala penjuru…

Mendekap pengharapan, ini takdir Indah yang Tuhan gariskan…

 

  • Secangkir teh hangat di pagi bulan Juni yang penuh harapan

#PuisiIrmaSenja

Advertisements

Just remember

20190124_122214

Mungkin karena melihatmu dalam toples kaca, terlihat tapi tak tersentuh. Lebih sulit dibandingkan tidak melihatmu sama sekali.

Mungkin karena perpisahan begitu menyesakkan, tanpa ada lambaian tangan atau pun doa saling melepaskan. Hingga jarak yang kian lebar, tidak kunjung menyembuhkan perihnya kehilangan.

Tidak ada yang sepertimu, yang mampu menggenggam hatiku… mengalahkan arogansiku. Tidak mungkin ada yang sepertimu, membuatku jatuh benar-benar jatuh lalu menyisakan ruang kecewa hingga bibirku nyaris tak sanggup berkata atau bertanya mengapa …

Mungkin aku salah, membuatmu lelah menemukan kesejatianku dan pada akhirnya hatimu berkata cukup, lalu mengubahmu menjadi asing di mataku.

Aku tidak sedang menyesali atau menafikan segala yang kita lewati. Kenangan tentangmu, Tuan… biarkan saja berada disana ditempatnya. Diruang tersembunyi, yang kita kunci dan tidak akan kita buka lagi.

Semua usai karena kita terlalu curang berperang melawan keadaan. Kini aku berjalan jauh lebih teguh dari sebelumnya, ternyata luka selalu punya cara menguatkan.

Satu hal yang kupahami, mencintaimu …. membuatku memahami banyak hal. Meski pada akhirnya kuhabiskan keberanian untuk bertahan. Aku baik-baik saja, kupikir aku akan binasa…nyatanya, kamu bahagia dan aku lega…

Dibawah kaki langit, kamu pernah jadi segala muaraku… dan aku pernah menjadi yang terdalam seperti yang kamu bilang. Kini dikaki langit yang sama, mimpi pudar perlahan,… hilang menyisakan sewindu kenangan dan sejuta pemahaman. Hidup dan cinta ….

 

Note : Entah mengapa membuka blog ini selalu saja membuatku berlari jauh kebelakang, menyusuri tiap lorong waktu bernama masa lalu. Dan lalu mengalir begitu saja, barisan aksara dari sesuatu yang pernah hidup dan berdetak dijiwaku, kamu.

( Bekasi, Laterazza 24 Januari 2019 )

Seheningnya Rasa

Saat itu langit malam gelisah,…

Udara pelan mengalir, melautkan gelombang perasaan

Mempuisikan tatapan, malam itu aku dan kamu bersama rindu yang bertamu.

 

Aku bersama raguku yang dalam dan kamu yang selalu setia menunggu.

Kamu,… yang menyederhanakan jarak, dan teguh melintasi waktu.

Yang melangitkan harap sejak belasan tahun lalu dan menautkan asa pada keajaiban semesta.

 

Tuan,…

ketulusanmu perlahan namun pasti menghadirkan mimpi disiang hari,

dan pendar gemintang di gelap malam.

Tuan,… aku dalam pemahaman yang dalam.

Yang terus melangitkan asa meski ilusi dan realita bertemu batas yang tegas.

 

Aku dan kamu terus belajar,…

menyimpan sebaik-baiknya hasrat, mengikis imaji berlebih

mengatupkan rindu, menyederhanakan rasa

karena tak ingin cinta menjadi buta.

 

Saat itu malam seheningnya perasaan,…

tanpa raga saling merengkuh,

hanya hati yang riuh berbisik,

tentang cinta tanpa tanda baca, cinta tanpa kadaluwarsa.

 

* Di kerlip bintang dan lampu taman, Mei yang gelisah

 

Daun Gugur

daungugurImage by here

Aku belajar pada ketegaran pohon,

yang merelakan daun-daunnya gugur,

diterbangkan angin lalu jatuh ke tanah begitu saja.

Dan percaya Tuhan akan menyembuhkan,

dan mengganti setiap keadaan menjadi lebih baik…

* Pada rembang petang bulan April

Cinta datang terlambat

Tidak terbilang waktu,

saat merindu dan menunggu.

Dan entah berapa ribu detik terlewati dengan

memeluk asa yang menyala pada pijar matamu.

Aku menunggu,…

Hari dimana aku dan kamu menjadi kita,

kita yang tak berjarak.

 

Note : request a friend