Langit

Aku suka menatap langit, ketika biru, jingga atau kelabu

Menyadari betapa kecilnya aku, dan betapa Maha-nya Engkau

#PuisiIrmasenja #LangitFiksi

Me, capture by @Adiladety

Hujan di Bulan Desember

Mungkin karena ini bukan pertama kalinya, aku menjadi bebal pada berita kurang baik yang disampaikan dokter. Mungkin bisa jadi karena ini juga bukan hal terburuk yang pernah kualami, hingga tidak cukup membuatku cemas atau khawatir. Iya kupikir itu yang terjadi.

Tapi, hujan di Desember hari ini seolah mengingatkanku bahwa seharusnya aku boleh merasa cemas, takut atau bersedih. Tidak apa-apa, itu bukan lebay, itu sewajarnya. Bersikap baik-baik saja itu konyol sementara ada sesuatu yang seharusnya tidak tumbuh disana. Sementara label survivor masih saja dilabelkan pada medical recordku, post ca. Seseorang yang pernah berkenalan dengan CA tidak boleh ada sesuatu lagi yang tumbuh tidak pada tempatnya, karena jika itu terjadi dan kecolongan, maka selesai sudah. Jangan biarkan dia bangun kembali, karena jika itu terjadi aku takut tidak sanggup menanggungnya lagi.

” Jangan khawatir, ini jinak. Tapi karena dirimu pernah punya history CA, kita follow up terus yaa… kita lihat apakah harus diangkat atau tidak dalam beberapa bulan kedepan “

Hujan di Bulan Desember kali ini, terasa berbeda… aku takut harus bertemu badai dan petir lagi seperti dulu.

#Desemberbepatience

Kontemplasi Senja

Semakin hari semakin sepi ( bukan kesepian ) …

Semakin bertambah usia, rasanya energi terasa berbeda. Semakin sering membutuhkan jeda yang lebih panjang untuk

menimbang baik buruk atau apa saja yang terlewati dan terasa.

Semakin sering menghabiskan waktu sendiri, semakin sering mendengarkan suara hati yang terasa semakin cerewet belakangan ini.

Hati yang semakin sering komplain ketika sesuatu yang tidak pas terjadi, semakin sering mengingatkan ketika yang kita pikirkan atau lakukan tidak selaras dengan nurani yang terdalam. Inikah mendewasa ? terasa semakin rumit, langkah semakin lambat karena lebih banyak menelaah sebelum melangkah ?

Inikah mendewasa ? ketika keinginan menjadi tidak terlalu banyak, ketika barang bawaan menjadi lebih ringan, Karena mulai memahami sejauh apapun perjalanan, sebanyak apapun barang bawaan kita. Kita akan pulang dalam kesunyian, tanpa bawaan selain seberapa banyak kebaikan yang kita tanam. Selain seberapa banyak waktu yang kita habiskan untukNYA, dibanding bersibuk dengan dunia.

Setiap yang terlewati menjadi hikmah, menjadi teguran dan refleksi diri bahwa tidak sesuatu hal yang terjadi tanpa ijinNYA. Tidak ada yang terjadi tanpa memberikan pelajaran dan pemahaman.

Percayalah, memelankan ritme membuat semua terasa lebih nyata terdengar dan terasa.

Inikah mendewasa, ketika semakin tidak perduli pada anggapan orang terhadap kita. Semakin tuli pada cibiran, karena sesungguhnya tidak ada guna membalas atau berlelah hati karenanya.

Semakin memahami bahwa semua hal hanyalah titipan, yang kelak akan diambil oleh pemiliknya. Kini tentang menyiapkan diri, ketika kelak segala titipan itu diambil… sanggupkah kita untuk ikhlas ? sanggupkah kita tetap bersyukur untuk semua kesedihan ketika DIA memberikan kita ujian, cobaan atau musibah ?

Dan ketika kita harus meninggalkan segala,…sudah cukupkah bekal bawaan kita ? sudah cukupkah untuk menjadi bekal kita menjalani keabadiaan. Sudah cukupkah untuk menjadikan kita layak dipandang olehNYA ?

Trus nangis inget semua dosa…. malu karena tidak memiliki amal yang banyak, trus takut menghadapi hari penghakiman yang pasti datangnya. Karena sesungguhnya, aku yang lemah dan berdosa pun ingin bersama mereka yang terpilih. Yang ENGKAU jadikan penghuni taman-taman surgaMU… ya Alloh.

 

#KontemplasiSenja

Me, difotoin @Adiladety