Ini pernah jadi beranda kita

 

Ini pernah jadi beranda kita,…

Ketika kopi, tawa, dan cinta masih menjadi udara yang kita hirup bersama

Ketika tatapku hanya menujumu,

menyimpan setiap degup perlahan hingga jauh mengisi palung terdalam bernama hati

 

Iya, beranda kita …

Ketika bisikmu serupa oase di sahara

Kini, hanya menyisakan sepi,

tawa menjadi luka, dan cinta entah menguar kemana

 

Ini pernah jadi beranda kita,

meski aku tak lagi bersamamu,

meramu mimpi bersama secangkir kopi

Kuusaikan perjalanan, karena bertahan terlalu melelahkan

Aku melepasmu,…

membiarkan kenangan dan ingatan

bertubrukan lalu jatuh berderaian

 

Takkan ada lagi beranda kita,

yang tersisa hanya dua bangku kayu tanpa ingatan dan harapan

 

*Sebuah puisi untuk penikmat kopi yang sedang bersahabat dengan sepi

 

 

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: