Lembayung Jingga

Udara menguar, nafasku terbang bersama langit yang melembayung

Sekali lagi tentang senja yang diam-diam terus menjelma menjadi cerita-cerita.

Dear lelaki berparas matahari, ini surat terbangku untukmu.

Semoga terbaca mega-mega.

Aku tidak lagi menunggu, tidak lagi merindu…

Waktu selalu pandai membungkus cerita menjadi masa lalu,

melipat kenangan menjadi barisan imaji yang tersimpan dibelakang.

Aku tersipu hari ini, surat cintamu diterbangkan angin hadir dimejaku

entah dimana kulipat dan kusembunyikan dulu.

Kini begitu saja hadir dan terbaca mataku.

 

Aku terkenang-kenang,… hatiku membiru,

tidak pernah menjadi biasa jika itu tentangmu.

Bagaimana bisa, kamu adalah degup pertamaku.

Irama nafasku yang berirama rindu.

Hari-hari berwarnaku merah, jingga dan biru…

 

Pria pemilik paras matahari,

ini hanya tentang mengenang, sesaat langkahku terhenti pada zona bernama kamu.

Sejenak saja,…tidak lama hanya ingin menoleh pada jejak yang kau beri.

Mungkin berterima kasih pada setiap lingkar hidupmu dan aku,

selalu rona bahagia yang melingkupiku.

Hingga ketika kau pergi, tak ada air mata karena derita.

Tapi bahagia,… sejenak ketika kita bersama,

ada tawa yang terbingkai menjadi cerita.

Mengabadi bersama jingga di langit senja…

*YY*