Ketika cinta berkabut sunyi

qt_mutiara-cintaImage By Google

 

Kata-kata mulai sunyi, rentang kian melebar…nyanyian senyap.

Mungkin kita biarkan saja ‘cinta’ terbang melintasi cakrawala,

menyerap embun pada pagi buta.

Menyentuh rintik hujan, dan melebur bersama warna langit yang temaram.

Tanpa suara-suara, tanpa nyanyian

yang biasanya menemani rindu bertemu kita.

 

Bukankah cinta serupa arus gelombang,

yang akan surut ketika musim pasang kembali tenang.

Iya, begitulah…jika gelombang pernah mengayun rasa begitu besar.

Mungkin tiba masa berserah pada takdir yang lebih besar.

Bertemu bagiku adalah ketika kau temukan,

dan kini hanya tentang melepaskan.

Disenja yang kesekian, pada tempat yang terabadikan ingatan,

disetiap ribuan detik dan jutaan menit yang terlewati.

Aku masih merasakan kau berbisik, merengkuh dan menyatukan rasa.

Menyusun kepingan harapan dan butiran rindu,

mensyukuri sesuatu yang maha daya, cinta kita.

 

Dijantungku yang masih berdetak, namamu ada

Diingatanku yang menjadi doa-doa, kamu slalu nyata

Seperti disetiap bilik dan pori-pori jiwamu aku juga ada.

Yang katamu mengabadi sejak kau menatapku pertama kali.

 

” Kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu ? ” katamu dirembang petang hari itu.

Aku tahu,…karena degupanmu terlampau keras,

rasamu terlalu kuat, tatapanmu teramat dalam.

Bisikanmu terlalu nyata menyentuh dinding hatiku yang paling sunyi.

 

” Lalu, maukah bersamaku melintasi waktu…disetiap saat hidupmu ? ” bisikmu sembari menatap hitam mataku.

Aku terpaku dan memelukmu dalam lingkar kecil lenganku.

Udara menguar, menerbangkan daun-daun impian … mengembangkan harapan.

Jiwaku dan jiwamu terbang, melayang….

melintasi semua sekat dan curamnya semua batas.

Lalu kita terjatuh, luruh dan remuk menjadi serpihan-serpihan kenangan.

 

# Puisi ketika udara menerbangkan harapan-harapan…

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

7 Comments

  1. puisinya… 🙂 selalu keren

    Reply
  2. Selalu ada harapan 🙂

    Reply
  3. Kenapa puisi2nya gak dibukukan dan diterbitkan mak?
    Puisi2 Mak Irma keren2 banget lo

    Reply
  4. Cinta tak pernah surut, kadang ia hanya bersembunyi balik karang

    Reply
  5. Dede Sutrisna

     /  November 1, 2014

    Bukankah cinta serupa arus gelombang,
    yang akan surut ketika musim pasang kembali tenang.
    Iya, begitulah…jika gelombang pernah mengayun rasa begitu besar.
    Mungkin tiba masa berserah pada takdir yang lebih besar.
    Bertemu bagiku adalah ketika kau temukan,
    dan kini hanya tentang melepaskan.

    selalu menyentuh puisi”nya mba 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: