Cermin

 Cermin-satu-arah-dan-dua-arah-642x336

Image from Google

 

” Betapa naifnya kamu kris…”

Sepanjang malam aku terus mengutuknya, bahkan hingga jelang pagi ketika embun turun menyingkap pekatnya malam aku terus mengutuknya. Menyakitkan melihatnya seperti ini.

Aku benci air mata itu, aku benci bayangan kelelahan dalam lingkar matanya, aku benci karena perlahan namun pasti sinar itu redup disana. Malam itu aku tahu Kris yang aku kenal telah mati hati.

” Katamu ini hanya soal rasa, dan mengapa dia begitu berbeda, hingga kamu begitu naif, begitu bodoh, begitu konyolnya. Kris yang aku tahu tidak akan begini ”

Inikah patah hati ? seperti kisah pada cerita-cerita fiksi yang digambarkan begitu rupa ? bukankah kita tahu bahwa semua hal memiliki konsekuensi, begitu juga kamu Kris. Kamu tahu bahwa mencintainya seperti mengenggam bara api, kamu bisa terbakar dan habis. Tapi kamu terlalu keras kepala, terlalu arogan, kamu bilang kamu bisa mengontrol segalanya. Kamu bilang dia berbeda, kamu bilang dia yang melengkapi setiap sudut kosong hatimu, dan kamu salah Kris. Kamu lupa satu hal, bahwa orang yang kamu cintai bahkan yang mencintaimu berpeluang lebih besar untuk menyakiti mu dengan tanpa kompromi.

Katamu ” Ini bukan hanya soal cinta dan patah hati, ini tentang aku melambung tinggi lalu dijatuhkan dari ratusan meter hingga ke dasar. Ini tentang harapan yang hancur, ini tentang keyakinan yang melebihi keyakinanku terhadap diriku sendiri. Ini bukan hanya soal cinta dan hal-hal melankolis lainnya ”

Aku tahu dalam semalam kris yang aku kenal sudah tidak ada, dalam hitungan kalkulasi waktu aku melihatnya berbeda. Cinta yang hilang hanya akan membuatmu patah hati, tapi keyakinan yang hancur membuatmu mati hati sendiri.

Tidak ada yang bisa menyembuhkannya, selain dirinya sendiri bahkan waktu terkadang begitu sombong hingga tidak akan dengan begitu mudah membuat seseorang tersembuhkan.

Mungkin aku akan mengucapkan selamat pada dia yang membuatmu begini Kris, selamat tuan… anda luar biasa ! mengubah gunung batu menjadi musim semi lalu mengubahnya kembali menjadi badai salju.

Iya, badai salju semalam yang membekukan sejuta perasaan seorang Kristal.

Advertisements