Potret

Dengan pasti Rhea melangkahkan kakinya yang jenjang memasuki sebuah klinik kecantikan dibilangan Jakarta selatan. Tubuhnya yang tinggi, berkulit putih dan matanya yang bulat terbingkai dengan sempurna oleh rambutnya yang panjang dan hitam. Dengan balutan celana hitam dan blouse sutra putih dipadu cardigan merah muda, Rhea tampak segar dan cantik. Dia tampak sedikit menyesal saat melihat daftar antrian yang panjang, tapi tetap memutuskan untuk bertemu dengan dokternya.

Rhea duduk dikursi sudut, mengambil smartphonenya dan mencoba membunuh waktu dengan membuka beberapa email dan pesan masuk. Keasyikannya berhenti saat datang seorang wanita yang permisi untuk duduk disebelahnya. Sekilas dia menoleh dan membalas senyuman wanita itu. Wanita sekitar usia 34 tahunan itu tampak mencoba mengajaknya berkomunikasi, wajahnya biasa saja. Tidak jelek tapi juga tidak menawan, kalau menurut istilah sahabatnya standart karyawati.

” Konsultasi dengan dokter siapa mba ? ”  tanya wanita itu tersenyum

Rhea membalas senyumannya, lalu menjawab singkat. ” Dokter Martha Mba ”

” Mungkin karena hari sabtu ya, jadi antriannya panjang sekali. Banyak wanita yang hendak perawatan sepertinya ” ucap wanita itu ramah.

” Sepertinya begitu ”

Nomer antrian keduanya ternyata masih lama, obrolan ringan pun mengalir begitu saja. Dari pertanyaan basa-basi hingga sampai obrolan keluarga. Wanita yang duduk disebelahnya bertanya dan bercerita banyak hal.

” Saya sudah menikah, anak saya dua loh mba. Oh iya… ini foto keluarga saya ” bergegas wanita itu mengambil handphonenya dari dalam tas. Dengan wajah sumringah dia tunjukan foto keluarganya, dia bersama suami dan kedua anaknya yang tengah tersenyum bahagia.

Rhea menatap foto itu, bahkan meraih handphonenya mencoba melihatnya dengan lebih jelas. Wajahnya mendadak pucat, buru-buru dia kembalikan handphone wanita itu dan mencoba tersenyum meski dia tahu senyumannya akan tampak seperti seringai mungkin.

” wah, potret keluarganya bagus mba..”

Wanita itu masih bercerita panjang pendek tentang awal pertemuan dengan suaminya, dan kebahagiaan-kebahagiaan mereka. Rhea merasa serba salah, rasanya tidak sopan meninggalkan wanita itu begitu saja  tapi tetap duduk disana itu konyol.

Daftar antrian masih panjang, wanita itu masih antusias bercerita namun Rhea tidak tahan.

” Permisi Mba, saya pulang saja…terlalu lama antrinya ”

Dengan langkah pasti dia bangkit dari kursi dan tanpa basa-basi meninggalkan wanita yang duduk disebelahnya dengan tanpa menoleh lagi.

——————————————————————————————————————

Aku kaget saat melihat wanita itu disana, meski sempat ragu aku coba memberanikan diri duduk disebelahnya. Aku tidak mengenalnya dan sepertinya dia juga, tapi instingku sebagai wanita berbicara bahwa dialah yang membuat hatiku tidak tenang selama ini. Dia secantik yang pernah aku lihat di foto-foto yang tersimpan di laptop dan Hp itu. Wajah itulah yang sering dipandang diam-diam oleh suamiku.

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

2 Comments

  1. waw, cerpen yg menarik mbak’e.. 🙂 *moga bukan pengalaman pribadi*

    Reply
  2. makasiihhh, xixixiii…bukan donk ini fiksi 😉

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: