Jarak

hilang

Aku tidak suka jarak, khususnya jika itu menjauhkanmu dariku. Sayangnya mungkin setelah

hari ini jarak akan memeluk kita. Bukan soal berapa kilo meter  yang terbentang,

tapi lebih jauh dari batasan hitungan angka.

Entah dimana rasa yang menyatukan kita saat ini,

hilang terbawa arogansi atau luruh tertimbun amarah dan cemburu.

Mungkin ini akhir dari ikatan benang merah kita…?!

 

 

Advertisements

Potret

Dengan pasti Rhea melangkahkan kakinya yang jenjang memasuki sebuah klinik kecantikan dibilangan Jakarta selatan. Tubuhnya yang tinggi, berkulit putih dan matanya yang bulat terbingkai dengan sempurna oleh rambutnya yang panjang dan hitam. Dengan balutan celana hitam dan blouse sutra putih dipadu cardigan merah muda, Rhea tampak segar dan cantik. Dia tampak sedikit menyesal saat melihat daftar antrian yang panjang, tapi tetap memutuskan untuk bertemu dengan dokternya.

Rhea duduk dikursi sudut, mengambil smartphonenya dan mencoba membunuh waktu dengan membuka beberapa email dan pesan masuk. Keasyikannya berhenti saat datang seorang wanita yang permisi untuk duduk disebelahnya. Sekilas dia menoleh dan membalas senyuman wanita itu. Wanita sekitar usia 34 tahunan itu tampak mencoba mengajaknya berkomunikasi, wajahnya biasa saja. Tidak jelek tapi juga tidak menawan, kalau menurut istilah sahabatnya standart karyawati.

” Konsultasi dengan dokter siapa mba ? ”  tanya wanita itu tersenyum

Rhea membalas senyumannya, lalu menjawab singkat. ” Dokter Martha Mba ”

” Mungkin karena hari sabtu ya, jadi antriannya panjang sekali. Banyak wanita yang hendak perawatan sepertinya ” ucap wanita itu ramah.

” Sepertinya begitu ”

Nomer antrian keduanya ternyata masih lama, obrolan ringan pun mengalir begitu saja. Dari pertanyaan basa-basi hingga sampai obrolan keluarga. Wanita yang duduk disebelahnya bertanya dan bercerita banyak hal.

” Saya sudah menikah, anak saya dua loh mba. Oh iya… ini foto keluarga saya ” bergegas wanita itu mengambil handphonenya dari dalam tas. Dengan wajah sumringah dia tunjukan foto keluarganya, dia bersama suami dan kedua anaknya yang tengah tersenyum bahagia.

Rhea menatap foto itu, bahkan meraih handphonenya mencoba melihatnya dengan lebih jelas. Wajahnya mendadak pucat, buru-buru dia kembalikan handphone wanita itu dan mencoba tersenyum meski dia tahu senyumannya akan tampak seperti seringai mungkin.

” wah, potret keluarganya bagus mba..”

Wanita itu masih bercerita panjang pendek tentang awal pertemuan dengan suaminya, dan kebahagiaan-kebahagiaan mereka. Rhea merasa serba salah, rasanya tidak sopan meninggalkan wanita itu begitu saja  tapi tetap duduk disana itu konyol.

Daftar antrian masih panjang, wanita itu masih antusias bercerita namun Rhea tidak tahan.

” Permisi Mba, saya pulang saja…terlalu lama antrinya ”

Dengan langkah pasti dia bangkit dari kursi dan tanpa basa-basi meninggalkan wanita yang duduk disebelahnya dengan tanpa menoleh lagi.

——————————————————————————————————————

Aku kaget saat melihat wanita itu disana, meski sempat ragu aku coba memberanikan diri duduk disebelahnya. Aku tidak mengenalnya dan sepertinya dia juga, tapi instingku sebagai wanita berbicara bahwa dialah yang membuat hatiku tidak tenang selama ini. Dia secantik yang pernah aku lihat di foto-foto yang tersimpan di laptop dan Hp itu. Wajah itulah yang sering dipandang diam-diam oleh suamiku.