” PING “

 

kekasihImage by Google

Taksi yang membawaku memasuki  sebuah mall  berhenti tepat di lobby. Kurapikan stelan celana biru berbahan katun lembut dan blus sutra putihku. Penerbangan yang tidak terlalu panjang namun lumayan melelahkan membuatku memutuskan menuju ke sebuah mall untuk sekedar makan dan mencari sesuatu yang cantik untuk kupakai nanti malam.

Aku memasuki sebuah restoran dan tanpa sengaja menoleh ke sebuah meja, tampak keluarga kecil disana. Seorang pria berusia 35 thn yg menarik, seorang putri yg cantik berusia sekitar 5 thn dan seorang wanita berparas manis. Tanpa sadar aku pilih sebuah meja disudut yang membuatku leluasa melihat secara langsung tanpa mereka sadari.

Pria muda  itu terlihat meraih smartphonenya, si kecil sibuk dengan sosis panggang berbumbu dan kentang goreng sambil sesekali berbincang dengan ibunya yang tampak telaten melayani.

” PING,….. ”

” Sayang, kamu sudah sampai  Jakartakah ? akhirnya… gak sabar bertemu denganmu sayang.  I love u, see u tonight ya ”

Pesan dari seorang pria  yang sudah menjadi kekasihku sejak 3 tahun yang lalu, terkirim dari meja di sebrang

Khemotheraphy dan Puisi

pohon-daun-dan-angin31Image by Here

” Bagaimana rasanya khemotheraphy ? ”

Jika berandai, saat kau bertanya mungkin matamu akan menerawang. Seperti biasanya, kamu seolah enggan berlama-lama menatap bening mataku. Bodohnya kamu, sebagian yang lain ingin berlama-lama berenang didalamnya. Mengusik pagi yang penuh imaji, atau berkelana  pada malam yang penuh misteri.

Tentu, karena bagimu tatapan mataku tak lagi mengalirkan candu yang membangunkan hormon bahagia di setiap jengkal tubuhmu. Dan bagiku matamu pun tak lagi menghadirkan imaji hanya ilusi tentang masa lalu.

” Rasanya hanya sedikit gak nyaman, mungkin kamu akan sedikit mual, sedikit pusing, sedikit gak enak badan. Rambutmu akan sedikit rontok … dan kegantenganmu akan berkurang sekitar 30 persen ”

Aku menjawab riang, ringan dan tanpa beban. Ini hanya khemotheraphy… bukan mati itu sendiri. Kamu pemain watak, hatimu kuat seteguh karang dan semilitan ombak.

” Kalau begitu aku gak punya alasan untuk takut, dan aku akan menjalaninya dengan mudah dan pasti akan menang berperang melawan kanker ini ”

Aku tersenyum mendengar jawabanmu, lega bahwa kamu akan baik-baik saja. Kamu akan semakin kuat setelah ini, kamu akan semakin lapang menjalani setiap ujian. Dan hatimu akan semakin tunduk menatap bumi.

Aku tidak akan mengkhawatirkanmu, Jagoan. Sudah cukup banyak yang mencemaskanmu. Aku tahu pasti, banyak sekali hati yang menawarkan diri untuk mengasihimu. Secara terang-terangan atau diam-diam.

Kadang kala aku berfikir, jika kenangan begitu berarti… dimana kau simpan kenangan tentang hari-hari berwajah puisi ?

Berdesakan dan bertumpukan dilemari hatimu yang penuh sesak ? atau teronggok berdebu dan tanpa penghayatan di sebuah laci yang sunyi ?. Aiihhh…. dimana pun itu kau simpan, aku hanya tahu bahwa kita pernah hidup di masa lalu. Dan diantara sejuta kenangan yang kau simpan, aku tidak perduli dimana kau tempatkan. Sekedarnya atau penuh penghayatan.

Aku hanya ingin kamu tahu, saat ini nasib seolah bermain-main dengan ku. Kejutan apa ini …? kenapa kamu harus berada pada nasib yang sama denganku ?

Survivor ??

Jangan bercanda Tuhan, aku cuma minta pria yang pernah mengobrak-abrik tatanan hatiku yang rapih menjadi kacau balau dan berantakan itu baik-baik saja. Hanya itu…

Aku tidak minta supaya dia terus mengenangku, aku tidak minta dia menyimpan namaku di antara sekian wanita dihidupnya. NO… aku hanya minta dia baik-baik saja.

Bukan,… ini bukan karena aku pernah menyayanginya, atau bukan karena dia masih istimewa dihidupku. Tapi karena dia membawa pelajaran sangat berharga…

Tentang bagaimana memaknai hidup dan merelakan.

Still love him ? No,…its not about love anymore, cintaku ada dan diam ditempat yang seharusnya tumbuh dan berkembang dengan indah. Ini tentang bagaimana kanker mengetuk pintu rumahku, dan seseorang yang pernah kukasihi ternyata mendapat ketukan yang sama.

Good Luck ya Angin,.. kalahkan brain cancer mu 🙂