Bapak Tua di tepi jalan

Prompt #26

Prompt 26bapaktuaKoleksi Pribadi Rinrin Indrianie

” Tunggu Mba,… ” teriak Rini sembari bergegas masuk ke mobil, duduk disampingku sambil tertawa kecil  ” senangnya dianterin terus sama Mbak Tiara…” Bibirku tersenyum kecil menanggapi keriangannya dengan separuh kesal karena harus mengantar anak dari adik Ibuku ini kesekolah, tepatnya satu minggu ini.

” Antarkan dia dulu Ra, sekalian kamu ke kantor sebelum tantemu balik dari luar kota. Ibu ada teman nih kalau kamu sibuk sejak ada Rini disini ” Ucap Ibu saat itu.

” Ibu menikah lagi saja, sudah 17 tahun loh ibu hidup sendiri ” Ucapku pelan, dan wajah Ibu berubah suram.

Ya, satu minggu sudah melewati jalanan ini dengan rute baru mengantar sepupuku kesekolah, jalanan padat bangunan-bangunan tua dan pertokoan lama. Dan satu minggu sudah entah mengapa tatapanku slalu bertumpuk pada pemandangan saat mengantar Rini kesekolah. Seorang bapak tua duduk di luar sebuah bangunan entah toko atau bangunan tak terpakai, dengan santai membaca koran. Tampak tidak perduli sekitarnya, lalu lalang kendaraan, atau debu polusi jalan raya.  Matanya tetap lurus dan fokus hanya menatap koran yang dia pegang, tidak memakai baju hanya celana pendek kumal dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Sebuah tas pakaian teronggok disamping kakinya.

” kenapa Mba ? oh bapak tua itu ya… kasihan ya, bahkan sampai sore saat aku pulang sekolah bapak itu masih di situ loh mba. Entah ya kalau malam dia ke mana… ?  ” ucap Rini seolah mengerti  apa yang aku pikirkan atau karena setiap melewati bapak tua itu mobilku menjadi pelan dan aku sesaat menatapnya penuh iba.

” Kesana Yuk Mba, kita kasih roti atau Mba Tiara mau kasih uang mungkin ? ” ajak Rini ringan, dan entah mengapa aku langsung menepikan mobilku begitu saja.

Kami menghampirinya, aku sempat ragu, wajahnya tidak juga terangkat dari pandangannya pada koran yang dia pegang.

” Permisi pak…” Rini menyapa Bapak tua itu sopan, sembari menyentuh lengannya.

Pelan wajahnya terangkat, matanya tajam menyiratkan keteguhan dan wajah tuanya tampak tegas menatap kami dengan ramah. Wajah kurusnya masih menyisakan kegagahan dimasa lalu, tampak tua, kurus dan mungkin sedikit pikun. Tatapan matanya terus menatapku lalu perlahan bersinar,  senyumnya mengembang dan air mata merebak disudut mata tuanya.

Aku letakan lembar lima puluh ribuan di tangannya yang menggapai, menarik tubuh Rini lalu masuk ke dalam mobil dan berlalu.

Rini diam membisu, tidak bertanya atau berkomentar bahkan sudah asyik dengan handphonenya. Gadis kelas 1 SMP itu sepertinya juga tidak mendengar suara parau saat bapak tua itu sekilas memanggil sebuah nama ” Tiara, anakku… ”

————————————————————————————————————————————————-

# Bapak tua itu masih di sana, duduk sembari membaca koran dengan tanpa perduli sekitar. Aku sesekali melewati jalan itu, menatapnya sekilas lalu berlalu.

Dear Angin

SeNjACredit

” Di langit mana pun kini engkau menatap, di sejuk angin membelai atau badai gurun mengepung. Pada dinding berlukis keindahan fajar, atau lantai sunyi berpalung mimpi. Aku ingin merangkai aksara, tentang hari-hari berwajah puisi. Tentang ketegaran senja, atau keteguhan Sang Angin. Tentang tawa yang berderai, atau air mata yang jatuh di sudut yang sepi. Tentang hati yang jatuh pada tatapan sehitam malam, tentang langkahmu yang sesaat singgah pada kelembutan wajah bertudung  selendang jingga. Aku ingin membingkai puisi sekali lagi,… Ini tentang carcinoma dan khemotheraphy …. yang sudah seenaknya mengajarkan kita menerima garis nasib… ”

 

 

Dear Angin,…

Sudah lama jemariku tak menulis tentangmu,

entah berapa kali almanak berganti.

Masih ingat catatanku tentang harapan ?

Tentang kepasrahan yang kau sebut ketegaran,

tentang vonis satu beriringan vonis yang lain,

pernahkah kau berfikir kusimpan dimana air mata dan ketakutan?

Aku membiarkannya terbang,

menggantung pada batas langit dan melayang sejauh aku memandang.

Sesaat saja kubiarkan menyesak di rongga dadaku,

sesaat kubiarkan mengaktifkan kelenjar air mataku,

aku merasakan sakitnya, tepatnya menikmati dan kuterima.

Lalu kubiarkan terbang dan menggantung di angkasa.

Biar Pemilik Semesta yang merengkuh,

yang menyembuhkan dan menawarkan nikmatnya kesakitan.

 

Dear Angin,…

Aku bukan sahabat yang slalu ada untukmu,

bukan kakak atau adik yang setia diberandamu.

Bukan teman yang slalu ada saat kau butuh bercerita.

Apalagi kekasih dan pujaan hati,

entah apa…

Kamu pun tidak tahu label apa untuk seorang senja,

begitu juga aku, entah apa kamu bagiku,..

dan aku bagimu.

Aku mungkin hanya shiluet,

yang hanya sesaat hadir ketika langit berwarna tembaga,

setelah itu hilang tergantikan malam dan pagi.

Dan kamu angin, yang berhembus kemana kau ingin.

 

Dear Angin,…

Aku tidak akan mengajarkanmu makna bertahan,

Kamu lebih tahu rasanya menahan beban.

Aku tidak akan berbisik tentang keikhlasan,

karena aku tahu betapa sulitnya berkata ikhlas,

dengan hati yang tanpa mengeluh dan mengaduh.

Aku tidak akan berucap  ” Sabarlah…”

Karena kesabaran akan hadir setelah penerimaan

dan penghayatan.

Aku tidak akan memaksamu untuk berjuang,

karena setiap diri punya batas kemampuan.

 

Dear Angin,…

Aku hanya ingin kamu tersenyum,

dengan senyuman terindahmu.

Aku hanya ingin kamu menerima,

dengan peneriman terbaik yang kamu bisa.

Aku hanya ingin kamu tetap bernyanyi dan menari,

mengabadikan aksara menjadi prosa, diksi atau puisi.

Aku ingin kamu tetap bermain dengan lensa,

Mengabadikan kecantikan mahluk hawa, keindahan panorama,

mengabadikan kebesaran semesta.

 

Dear Angin,…

Khemotheraphy dan operasi tidak sekeren yang orang bilang.

Kanker tidak sekuat itu,

sungguh Kanker tidak sekuat itu…!

Kanker mungkin akan mengenalkanmu dengan rasa sakit,

tapi kanker tidak akan mampu  mematikan impian,

kanker tidak akan mampu mengikis keyakinan,

kanker tidak akan mampu memutus persahabatan,

kanker tidak akan mampu mematikan jiwa,

kanker tidak akan mampu memupus harapan,

kanker tidak akan mampu menghapus kenangan,

kanker tidak akan cukup kuat melumpuhkan cinta….

Kanker tidak akan melemahkanmu.

 

Dear Angin,…

Aku mungkin tidak ada disana, bersama mereka yang menguatkanmu.

Tapi kamu ada di antara doa-doa yang melayang diangkasa,

doaku kepada Sang Maha…

Untuk kesakitan yang saban kali kurasakan,

juga untuk ketentuanNya yang sedang kau jalani.

Untuk Carcinoma yang entah mengapa mempertemukan kita lagi pada garis nasib

seorang penyintas , Senja dan Sang Angin …

Meski pada batas gelap dan terang,

meski pada sejuta harapan yang kita genggam.

 

 

* Sebuah diksi untuk Angin yang berhembus ke arah yang jauh, dari senja yang bertudung langit jingga …. 6 September 2013 *

This for him, as we walk the same path…the same fate, a survivor…Brain Cancer will not beat you !