Langit temaram

Langit tampak kelabu, sesaat gerimis menyapa kotaku siang tadi. Menjelang sore, gerimis usai menyisakan langit berawan yang tampak suram. Buku-buku berserakan diatas tempat tidur, jendela terbuka seolah kubiarkan udara yang cenderung basah memasuki kamarku yang sesungguhnya sudah sejuk dengan air conditioning. Entah,… mungkin aku berharap udara luar sedikit mengubah suasana hatiku yang tidak beda dengan langit sore itu, kelabu.

Ini bukan tentang kehilangan atau kecemasan karena teman berjubah putihku yang berpesan tentang tumor baru hepar, remisi, leukosit atau leju endap darah. Ini bukan tentang kerinduanku menulis puisi atau fiksi yang selalu bertemu dinding tebal dan terhenti pada draft tak terselesaikan. Mengendapkan imajinasi hingga ke dasar… entah.

Aku berada pada titik tidak memahami diriku sendiri, keinginan yang tak bernama… kecemasan yang tak berlabel, dan kehampaan yang sulit diurai. Aku sulit menterjemahkan apa yang dinalarkan pikir dan rasaku. Kadang aku merasa lintasanku terasa sepi, yang terdengar hanya suara kakiku sendiri. Sedangkan sekelilingku begitu semarak dan penuh warna…

Kemarin lalu aku merasa gamang… tapi merasa sendirian dengan kesakitan pada fisik dan hanya berbicara dengan diri sendiri berimbas begitu banyak. Sibuk menyumpal dan menghabiskan banyak tissu untuk mimisan yang datang tak diundang ditempat asing membuatku sangat kesepian yang tak biasa. Mereka tidak asing, tapi lalu aku merasa asing. Basa – basi yang meghadirkan kemuakan dihatiku. Mungkin terlalu tinggi aku berekspektasi tentang sebuah ikatan, dan kesadaran menggiringku pada kenyataan aku seharusnya tidak disana.

Aku tidak berbeda, mungkin aku hanya tidak sama…. aku butuh lebih banyak memasukan endorphin ke dalam tubuhku dibanding softdrink, aku hanya butuh sedikit waktu lebih lama untuk pulih dibanding yang lainnya. Jika kalian lebih leluasa, aku hanya sedikit lebih mawas diri. Bukan karena special tapi karena aku ingin baik-baik saja dalam jangka waktu lebih lama. Kalian tidak akan mengerti,… karena kalian tidak pernah mengalami 3 kali pembedahan, berpuluh-kali khemotheraphi dan berbulan-bulan berada diruang evaluasi.

Ya,… pada akhirnya ini hanya kemarahan dan kelelahanku saja, bahkan rasa putus asaku sendiri. Aku mungkin merasa lelah berhari-hari memandang ke arah jendela yang sama… dengan pandangan yang sama. Memaksakan diri menikmati udara luar, lalu terhuyung kembali dengan rasa nyeri pada kepala atau abdomen.

Benar kadangkala aku memaksakan diri, karena kehidupan sangat singkat. Apa jadinya hidup ini jika aku perturutkan kecemasan dan kesakitan dengan berlindung dari terik dan hujan ?.

Ini mungkin hanya penyadaran bahwa aku tidak sekuat yang lainnya, tidak sehebat yang lainnya… aku hanya ilalang yang mudah terombang-ambing angin. Terhempas badai gurun, tapi aku tahu aku mampu bertahan. Aku tahu,…setelah tulisan panjang ini kepalaku akan sakit, dan jemari tanganku kaku. Lalu akan membaik lagi, saat aku menulis lama lagi rasa sakit itu akan datang lagi tapi aku akan menulis lagi.

Padahal menulis adalah theraphyku, bagaimana mungkin jika fisikku sudah mulai enggan menjalaninya?

Aku sangat bersyukur melewati sekian proses menyakitkan dan bertahan hingga kini, tapi aku baru menyadari ketika segalanya menjadi lebih baik ada yang butuh lebih banyak waktu menyembuhkan. Yaitu luka-luka di dalam hati karena nya.

Langit beranjak semakin tua, warna kelabu perlahan menjadi semakin pekat… tidak perlu menunggu senja dengan lembayungnya yang berwarna jingga karena tidak akan ada. Entah apa yang kutulis saat ini, mungkin hanya celoteh sumbang hati yang temaram. Dan suara adzan menyadarkanku bahwa aku tak pernah sendirian, tidak pernah.

 

 

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: