One hope pray for cancer

 

forcancerImage from Here

Kemarin banyak teman-teman Blackberry Masengger yang memasang picture profile Lilin harapan untuk pasien kanker. Benarkah sudah benar-benar perduli ? memahami bukan mengasihani ?

Setahuku hari ini bukan hari kanker, tapi mengapa banyak orang mengirimkan broadcast tentang picture cahaya harapan itu. Entahlah,…

Sebagai seorang survivor kali ini saya tidak akan menuliskan bagaimana kanker menjadi ‘momok’ mengerikan bagi semua orang. Saya menyadari satu hal, bahwa sel kanker adalah sel yang ada pada tubuh kita sendiri. Atau dengan kata lain, sel itu adalah sel kita yang berubah menjadi sel yang nakal karena transformasi genetik.

Selain kenakalannya, ternyata sel kanker kadangkala membuat banyak orang menunjukan sifat-sifat terbaiknya saat menjalaninya. Kanker mampu mengubah  seseorang  hingga memiliki kekuatan untuk bertahan hidup dan melaluinya dengan baik. Pada banyak pasien, kanker mengajari bahwa hidup ini semestinya dijalani dengan penuh makna. Berusaha menjadi lebih kuat, karena perasaan lemah atau menunjukan kelemahan dihadapan kanker tidak akan membuat kita pulih. Kanker membuat seseorang lebih peka merespon rasa sakit pada tubuhnya, dan lebih peka dalam menjalani setiap saat hidupnya.

Kanker mengajarkan tentang perubahan dan betapa dunia ini fana, kanker membuat kita berjalan dengan penuh syukur atau jatuh tersungkur berharap belas kasih Sang Maha , menyadari betapa tak ada dayanya kita sebagai manusia.

Benar, tidak pernah ada yang sia-sia apapun yang diberikan Tuhan… pun dari sebuah kondisi medis serius bernama kanker. Jika kanker membuatku lebih rendah diri dan berjalan penuh syukur, maka aku bersyukur untuk setiap kondisi apapun saat menjalaninya.

Harapan selalu melimpah, pada ruang khemo, pada selasar rumah sakit, pada pagi atau petang. Harapan adalah bahan bakar dan energi jiwa kita,… peliharalah harapan benderang terang agar kegelapan tak datang mendekat.

Cahaya harapan yang terpasang di setiap kontak BB mungkin tidak akan meringankan rasa sakit bagi yang remisi, bertahan atau yang sedang berperang melawan kanker, tapi akan mengingatkan bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian.

 

 

Pernik hati

Bahasaku adalah paragraf,…
kadang terasa nyeri hingga catatanku menjadi biru.
Tapi riangku juga puisi, yang pada bait dan rima menjadi asa dan doa yang terus terbang ke angkasa.
Karena DIA yang menggerakkan iman di dadaku,
juga karena penghiburan-penghiburan hebat sepertimu.

Kadang aku bertanya, ” kelak seperti apa aku di kenang ? ”
Seringkali aku takut dan putus asa, tapi terkadang aku tahu aku akan hidup lebih lama.

Karena hidup adalah rahasia , tak terbaca olah kaca mata manusia.
Aku pasien istimewa,…sejak bertahun lalu.
Aku mengalami remisi berulang kali, bahkan nyaris tertipu dan tumbuh lagi.
Tapi seperti yang kau tahu, aku tak mudah dikalahkan.

Aku masih disini,…dan aku tahu, esok dan nanti aku masih disini. Sekedar memberimu senyum atau memaksamu membaca paragraf demi paragraf pada catatan senja…..

# Setulus doa untuk kamu yang mencintaiku sepenuh bumi,…

“I’m survivor indeed ^_*”

Untitled

Jika saja aku punya sebuah ruang kosong penuh cahaya,

hanya ada udara dan bunga-bunga…

Aku ingin menyimpan namamu disana,

mengabadikan setiap aksara menjadi sajak atau lagu.

Lalu sesuka hatiku, kudendangkan atau kau nyanyikan.

Tentang suara hatimu ketika kau memanggilku,  ” Ai….. ”

# Terima kasih untuk nada yang tak pernah sumbang…. 🙂

Cinta seperti apa ?

Cinta seperti apa yang kuinginkan ?

Saat tubuhku seperti frankeinstein, luka pembedahan menghias tubuhku, heparku bengkak, kolonku lebih pendek, rambutku nyaris habis, kuku dan kulitku menghitam namun dia tetap mencintaiku. Seperti itulah cinta yang aku inginkan… dan sudah aku dapatkan.

 

bayanganImage From Google

Langit temaram

Langit tampak kelabu, sesaat gerimis menyapa kotaku siang tadi. Menjelang sore, gerimis usai menyisakan langit berawan yang tampak suram. Buku-buku berserakan diatas tempat tidur, jendela terbuka seolah kubiarkan udara yang cenderung basah memasuki kamarku yang sesungguhnya sudah sejuk dengan air conditioning. Entah,… mungkin aku berharap udara luar sedikit mengubah suasana hatiku yang tidak beda dengan langit sore itu, kelabu.

Ini bukan tentang kehilangan atau kecemasan karena teman berjubah putihku yang berpesan tentang tumor baru hepar, remisi, leukosit atau leju endap darah. Ini bukan tentang kerinduanku menulis puisi atau fiksi yang selalu bertemu dinding tebal dan terhenti pada draft tak terselesaikan. Mengendapkan imajinasi hingga ke dasar… entah.

Aku berada pada titik tidak memahami diriku sendiri, keinginan yang tak bernama… kecemasan yang tak berlabel, dan kehampaan yang sulit diurai. Aku sulit menterjemahkan apa yang dinalarkan pikir dan rasaku. Kadang aku merasa lintasanku terasa sepi, yang terdengar hanya suara kakiku sendiri. Sedangkan sekelilingku begitu semarak dan penuh warna…

Kemarin lalu aku merasa gamang… tapi merasa sendirian dengan kesakitan pada fisik dan hanya berbicara dengan diri sendiri berimbas begitu banyak. Sibuk menyumpal dan menghabiskan banyak tissu untuk mimisan yang datang tak diundang ditempat asing membuatku sangat kesepian yang tak biasa. Mereka tidak asing, tapi lalu aku merasa asing. Basa – basi yang meghadirkan kemuakan dihatiku. Mungkin terlalu tinggi aku berekspektasi tentang sebuah ikatan, dan kesadaran menggiringku pada kenyataan aku seharusnya tidak disana.

Aku tidak berbeda, mungkin aku hanya tidak sama…. aku butuh lebih banyak memasukan endorphin ke dalam tubuhku dibanding softdrink, aku hanya butuh sedikit waktu lebih lama untuk pulih dibanding yang lainnya. Jika kalian lebih leluasa, aku hanya sedikit lebih mawas diri. Bukan karena special tapi karena aku ingin baik-baik saja dalam jangka waktu lebih lama. Kalian tidak akan mengerti,… karena kalian tidak pernah mengalami 3 kali pembedahan, berpuluh-kali khemotheraphi dan berbulan-bulan berada diruang evaluasi.

Ya,… pada akhirnya ini hanya kemarahan dan kelelahanku saja, bahkan rasa putus asaku sendiri. Aku mungkin merasa lelah berhari-hari memandang ke arah jendela yang sama… dengan pandangan yang sama. Memaksakan diri menikmati udara luar, lalu terhuyung kembali dengan rasa nyeri pada kepala atau abdomen.

Benar kadangkala aku memaksakan diri, karena kehidupan sangat singkat. Apa jadinya hidup ini jika aku perturutkan kecemasan dan kesakitan dengan berlindung dari terik dan hujan ?.

Ini mungkin hanya penyadaran bahwa aku tidak sekuat yang lainnya, tidak sehebat yang lainnya… aku hanya ilalang yang mudah terombang-ambing angin. Terhempas badai gurun, tapi aku tahu aku mampu bertahan. Aku tahu,…setelah tulisan panjang ini kepalaku akan sakit, dan jemari tanganku kaku. Lalu akan membaik lagi, saat aku menulis lama lagi rasa sakit itu akan datang lagi tapi aku akan menulis lagi.

Padahal menulis adalah theraphyku, bagaimana mungkin jika fisikku sudah mulai enggan menjalaninya?

Aku sangat bersyukur melewati sekian proses menyakitkan dan bertahan hingga kini, tapi aku baru menyadari ketika segalanya menjadi lebih baik ada yang butuh lebih banyak waktu menyembuhkan. Yaitu luka-luka di dalam hati karena nya.

Langit beranjak semakin tua, warna kelabu perlahan menjadi semakin pekat… tidak perlu menunggu senja dengan lembayungnya yang berwarna jingga karena tidak akan ada. Entah apa yang kutulis saat ini, mungkin hanya celoteh sumbang hati yang temaram. Dan suara adzan menyadarkanku bahwa aku tak pernah sendirian, tidak pernah.