Aku dan bayangan

bayanganCredit

Daun-daun berguguran ditiup angin siang yang kering. Membuat mataku makin terasa berat. Kupaksakan menatap daun akasia yang menjuntai, pucuk-pucuk muda itu seolah berlomba menyentuh bumi dengan belai halusnya.

“Jangan merubah apapun…” nada suara tegasnya terngiang di telingaku. Aku mengatupkan kelopak mata dengan sungkan, suaranya kembali memenuhi gendang telinga.

“Kalau wanita itu cukup pintar, dia tidak berbuat demikian…” nadanya melemah, tapi masih dengan sentakan yang keras menahan emosi yang tersimpan di dada.
Aku mengamati bias luka yang terlihat jelas hari ini, setitik air menggantung di sudut mata sayu itu. Kulit putihnya terlihat makin pucat, dan garis wajahnya menguaskan perih. Aku memahami luka yang terlukis di wajah manis itu, tapi mungkin begitulah caranya menyimpan kisah sedih yang telah berkarat berpuluh tahun lalu.

“Aku tak ingin tahu apa yang dilakukannya, tidak pula ingin mengenal apa yang tidak aku kenal. Sebaiknya diapun begitu…selama ini di antara kami tak ada komunikasi. Bertegur sapapun jarang, mengapa harus diubah…?” ada sendat yang tertahan di ujung kalimatnya.

Angin membelai wajahku perlahan, tak mudah dimengerti itulah dirinya. Kisah ini bagian hidup yang ingin disembunyikannya, berharap tak seorangpun menyentuh sisi tersebut.

“Wanita itu tak bersalah, tapi karena dia aku kehilangan sesuatu dalam hidup….wanita yang mengingatkan pada hari itu…pada seseorang yang pergi….”. Berat sekali ia menyelesaikan kalimat terakhir.
Dia adalah seseorang dengan banyak luka yang tertoreh akibat ketegasannya.
Kesulitan mengambil keputusan, menentukan cara berbeda dalam menjalani hidup adalah bagian yang dipilihnya.

Sosok itu menatap kosong ke arahku, tak αϑα senyum tersimpul di bibir tipisnya. Cinta itu benar-benar menyita setengah masa mudanya. Menenggelamkan hatinya pada pencarian yang panjang dan lama. Cinta yang meninggalkan tanpa sepatah kata di suatu siang terik. Cinta yang tak pernah disadari kalau ia benar-benar mencintai. Mungkin cinta yang beruntung karena ia tak pernah membenci rasa pedih yang ditorehkan, malah tak sempat mengingat sedihnya. Cinta itu membalut terlalu erat dan menyatu tanpa kompromi. Dan cinta itu milik seseorang. Haruskah kusebut seseorang itu beruntung memiliki cintanya?

“Ѕєlαмα ini, aku selalu ingin tahu…, siapa yang menghentikan langkahku…dan mengapa aku terhenti….” bulu mata lentiknya mengerjap perlahan menahan genangan yang terlihat sekilas ketika ia menatap langit. Ia tersenyum tipis saat berusaha mengingat, dan pedih di mata itu tak mengurangi sedikitpun kasihnya.

Tahukah seseorang itu bahwa sosok ini sangat mencintainya, bahkan dia sendiri tak menyadari. Apa yang akan dilakukan seseorang itu bila tahu yang sesungguhnya. Semua lagu, kata-kata yang menjadi inspirasi jiwanya berasal dari cinta. Dengan apa dapat tertebus semua rasa yang membuat sosok menarik ini melepas kebahagiaan, memilih menjalani hidup dengan cara yang berbeda. Mengabdi pada hidup dengan membuang sebagian jiwanya demi menjalani takdir. Cintanya bukan sekedar kata. Ia mencintai utuh dengan hati, jiwa dan pikirannya.

Aku melirik tubuh yang duduk hadapanku, tangan gemulai itu menarik pelan sebatang rumput yang tumbuh dekat kakinya. Gelisah terlihat jelas saat bibirnya mengigit ujung rumput yang seolah pasrah memahami amarah. Bibir itu bergetar menandakan gejolak kebimbangan yang mengalir di nadi. Seseorang mana yang tak ingin merengkuhnya saat ini. Jelas sekali rapuh membalur seluruh tubuh itu. Tak ada ketegaran yang biasa ia tunjukkan, tak ada keangkuhan sama sekali, tak juga ketidak pedulian yang sering ia perlihatkan. Seperti gadis kecil yang terisak di sudut ruang karena takut, itulah dirinya saat ini.

“Tak sadarkah kau? Ini semua karena cinta, kau mencintai laki-laki itu…” ujarku pelan seraya merubah posisi dudukku lebih tegak. Ia menatap bulat bola mataku, ada telaga di mata itu. Ia tak suka diingatkan, dan aku salah mengingatkannya….

“Lalu..? Kau ingin tertawa…. tertawalah, aku orang paling menyedihkan di muka bumi ini….orang terbodoh yang pernah kau temui…” sinis sekali ia mengatakan kalimat terakhir, dan akupun tertikam dengan ucapannya. Lalu ia tertawa pelan, tapi terasa menyakitkan bagiku,

” Maaf aku tak bermaksud melukai….harusnya aku bisa menahan diri… ”
“Keangkuhanmu yang melukai…” aku menerka reaksinya atas ucapanku.

Ia mengangkat bahunya, “Apa yang kupunya? Keangkuhan itu adalah caraku menutupi sakit, itulah yang tersisa dari sebuah keberanian….atau kau lebih suka aku mengemis untuk sesuatu yang tidak kuketahui jawabannya…sesuatu yang mengombang ambingkan pada situasi sulit…”

Kicau burung di dahan terasa lebih nyaring di taman hari ini, mengingatkan lagi pada masa di mana kemudaan begitu menggoda. Ia benar, keangkuhan itu hanya penyamaran, tempat bersembunyi…ketidakpedulian itu hanyalah jubah agar tak satupun tahu warna apa yang dipakai di balik jubahnya. Ia cukup pintar menyembunyikan segalanya bahkan dari pandangan mataku…aku tersenyum kecil menyadari kecakapannya, sudah berapa banyak mata yang tertipu. Dialah sang pemain watak, seseorang pernah mengatakan itu sebagai hasil pengamatan yang sangat akurat. Akupun setuju dengan pendapat itu.
Panas mentari merayapi kulit, ada hangat mengalir di jiwa. Tapi pipi tirus itu masih menggigil, ujung rambutnya basah terkena embun semalam. Ia menatap rerumputan tak berkedip, begitulah mematung untuk beberapa saat bahkan tak mengingat kehadiranku. Membiarkan diri dibawa alam hatinya, mengunjungi tempat yang hanya diketahui olehnya. Rona mukanya masih kaku, ingin aku menyentuh tangannya, memberitahu keberadaanku. Tapi itu tak akan membuat ia bersuka…sebab ia selalu enggan membagi duka.
Wajah itu sekarang bersedih, tak ada binar di sepasang mata bulatnya. Aku tahu, aku salah mengingatkan itu semua. Tak kusangka perihnya teramat dalam.

“Aku tak membencinya, hanya tak mau diingatkan dengan itu semua, bertemu berarti diingatkan, kami sama wanita…yang terhubung karena lingkaran takdir….” Mulutnya terkatup rapat membentuk satu garis lurus.

“Bisakah kau pahami…?” Memelas sekali sepasang matanya, menghancurkan naluri kemanusiaan. Aku mengerti. Pengakuan akhirnya terucap juga, sebentuk daging bernama hati itu terlalu kecil untuk membenci seseorang. Aku menatapnya lurus, sepotong maaf terucap dari sorot mataku. Ia mengangguk, lalu membuang muka ke samping. Baik-baikkah ia? Rasanya aku ingin memeluk tubuh ringkih itu erat-erat, membawanya pada dekapan yang mungkin membahagiakan, atau mengantarkannya pada suatu tempat aman yang membuatnya terlindungi dari kenangan. Mengeluarkannya dari balik cermin agar aku dapat melihat jelas dirinya, karena ia adalah aku.

“Sebaiknya kau pergi hari beranjak sore, aku ingin sendiri. Aku harus melakukan sesuatu…” suaranya terdengar seperti bisikan angin. Kedua mata berwarna cokelat tua begitu terluka, andai aku dapat meraihnya membiarkan semua isak terlepaskan.Tapi rahangnya yang mengatup keras seakan berkata jangan kasihani aku, aku menebus dosaku. Kau selalu menghukum dirimu atas kesalahan yang tak kau lakukan, bahkan teramat keras. Seolah kau takut hal itu membayangi sampai akhir hayat. Kau memahami sepenuhnya tentang pertanggungjawaban. Laki-laki tua itu memang telah mengajarkan kisah langit dengan baik padamu. Kau melihat semua kefanaan di muka bumi dengan caramu, sebelum langit menghukummu kau memilih menghukum dirimu lebih dulu. Adilkah…? Kau terlalu paham makna keadilan hakiki adalah milik Sang Langit dan kebahagiaan abadi itu pun berada di langit, tujuanmu jelas tak ada gunanya menghentikanmu.

Sosok itu berdiri memunggungiku mengibas-ngibaskan gaun hijau mudanya yang terkena debu.

“Aku harus pergi…” ujarnya tanpa menoleh, suaranya terdengar sangat lirih.
Kau pasti akan menangis, aku tahu. Mendung itu sudah menggantung, kau hanya tak ingin ada yang melihatmu tersedu. Kau pun beranjak pelan meninggalkanku, sekali lagi tanpa menoleh. Mataku kian berat saat melihat bayangan itu menjauh, melangkah gontai menuju sebuah dunia yang hanya dimiliki olehnya. Dunia yang tak bisa kugapai, dunia yang dapat dimasukinya kapan saja, di mana saja….mengembara mengitari waktu hingga waktu terhenti dan ia kembali menyatu dengan dengan diriku, karena ia adalah aku dalam dunia yang lain.

Aku tak bisa menahannya, ia bebas pergi memasuki ruang mimpi yang tak bisa kukunjungi, mendatangi tempat yang kurindukan, memeluk tubuh yang tak mungkin aku peluk raganya, bermain dengan pikiran seseorang, melakukan apa yang tak bisa kulakukan, mewakili jiwaku yang terkantuk berat di bawah akasia, beralas rumput, berselimut angin dan ternaungi langit biru….

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

2 Comments

  1. aku slalu suka dengan pilihan kata2 d tulisan2 yg ada d blog ini,kece abiss…. 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: