DIAM

Loneliness_by_mehrdadart4

Credit

” Aku bahkan berhak untuk membuatmu DIAM, jadi jangan bicara cukup patuhi saja aku. Aku tidak suka kamu bantah, atau membela diri. Apapun yang aku bilang kamu suka atau tidak suka kamu hanya cukup DIAM ! ”

Suaramu memecah hening malam, lalu berlari-lari di putaran pendengaranku. Sengaja kumasukan indera pendengaran dan perasaku. Kuselipkan di memoriku agar aku ingat bahwa aku hanya cukup DIAM.

” Aku tidak butuh wanita yang pintar, aku hanya butuh wanita yang menyenangkanku dan mematuhi aku ”

Mataku menerawang, ingatanku terbang pada satu ketika di saat tanpa bertanya aku harus berkata YA pada keputusan besar dalam hidupku. Khayalanku jauh mengingat betapa banyak impian dan ambisi yang kutekan jauh ke dalam. Betapa banyak sayap yang kubiarkan patah atas nama pengorbanan dan pengabdian kasihku pada orang-orang yang menghadirkanku ke dunia. Ya sejak awal aku sudah DIAM.

Tiba-tiba suara lain terlintas begitu saja,… ” Kamu terlalu pasif, bicara dong. Tidak selalu diam itu emas, kadangkala bicara adalah solusi. Kadangkala bicara juga menentukan isi kepalamu. Kamu introvert, kamu pendiam. Bicaralah sahabatku… ”

Aku menekan-nekan keningku yang mendadak terasa berat, kulirik jam yang terpajang di meja riasku. Pukul 02.45 wib, dini hari . Nyaris pagi ketika aku melangkahkan kakiku keluar kamar. Mataku belum juga mengantuk, mendadak kehampaan menyergapku dari segala arah.

Rasa apa ini ? kenapa dingin yang begitu kuat hingga membuatku bergidik sedangkan suhu udara biasa saja. Kekosongan yang menyergap hatiku begitu terasa menusuk, entah aku berpijak pada dasar yang mana. Mendadak aku kehilangan keyakinan pada diriku sendiri, atau sudah sejak lama aku bahkan kehilangan diriku sendiri.

Berapa banyak aku menipu diri, berapa banyak aku menipu mereka. Berapa lama lagi aku memerankan ini, jika aku tidak di terima apa adanya aku. Mungkin aku harus memakai topeng ini lebih lama lagi.

Aku memandang sekeliling, aku sendirian… iya aku seringkali merasa sendirian. Tapi bukankah kita lahir bahkan kelak mati juga sendirian ? mati…? kadangkala aku merasa sudah mati sebelum mati itu sendiri.

Kepalaku kian berdenyut, kian berat, kian limbung. Aku berjalan terhuyung menghampiri kotak obat, kubuka tumpukan obat yang berlabel nama yang sama, namaku. Kuambil obat berbahan antihistamin sedatif, kubuka botol penutupnya dan kukeluarkan di telapak tanganku. Mataku nyeri, air mata terlalu banyak membuat perih kelopak dan retinaku. Akhh…aku lupa menghitung ada berapa butir obat yang kuminum tadi. Tiba-tiba aku merasa kepalaku menjadi ringan, penat dan nyeriku hilang, aku terbang, disana aku bertemu dengan diriku sendiri. Diriku yang sejati.

Advertisements
Leave a comment

11 Comments

  1. curhatnya keren dan menarik 🙂

    Reply
  2. sediiiiih, ngliyengan jadinya *

    Reply
  3. Sama sepertiku, saat ini hanya ingin diam

    Reply
  4. Diam-diam menghanyutkan

    salam
    omjay

    Reply
  5. hm… ini curhatan ya?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: