Catatan hati pada Ibu dan anakku

kisskaka8

Pada Anakku,…

Seperti malam-malam yang lalu,

ibu mengendap memasuki kamar tidurmu.

Merapihkan selimutmu yang tersingkap, membelai lembut wajahmu.

Perlahan mengecup kening dan pipimu yang menggemaskan.

Sekilas tubuhmu bergerak dan ibu terdiam takut membangunkan lelap tidurmu.

Takut mimpi-mimpimu tentang keriangan dan hari esok yang indah terpenggal.

Ini kebiasaan buruk ibumu nak,…

Diam-diam memandangmu dalam hening malam, kepolosanmu saat terlelap adalah obat mujarab bagi Ibu.

 

Maafkan amarah ibu tadi siang sayang….

Melihatmu berlari kesana kemari membuat ibu takut kau jatuh lalu terluka.

Maafkan Nak, kasih Ibumu ini terkadang membuat Ibu bersikap berlebihan.

Jika saja Ibu boleh meminta untuk menanggung semua rasa sakit didunia ini, Ibu rela nak.

Karena kesakitanmu adalah air mata Ibu. Dan tawa riangmu adalah puncak kebahagiaan bagi Ibu.

Meski tidak semua keinginan  kita terpenuhi sayang,

kelak kehidupan akan mengajarkanmu tentang kehilangan, rasa sakit dan kekecewaan.

Tetap genggam tangan Ibu Nak,… dan berlindung pada Tuhan semesta.

Maka semua akan terlewati, seperti kau melewati titian namun terus berpegang pada pegangan.

Kau akan sampai di ujung tanpa terjatuh ke dalam jurang.

 

Ibu masih memandang mata terpejammu,Nak…

Ingatan melayang pada saat kau dikandunganku selama 9 bulan.

Ibu membawamu kemana pun, dan kelahiranmu menawarkan segala rasa lelah.

Tangisan pertamamu, menghilangkan kesakitan dan tetesan darah.

Dan air susu ibu menjadi sumber dan bukti kasih ibu yang tak berujung.

Betapa kebesaran Tuhan dan kuasaNYA Nak.

 

Masih menatapmu dalam, anakku sayang,…

Membisikan doa-doa dan harapan di telingamu.

Menjadilah sipenolong bagi yang lemah,Nak…

Menjadilah dermawan bagi yang papa,

menjadilah cahaya bagi gelap disekitarmu.

Hidup akan bermakna jika kau bermanfaat bagi sesama.

Doa dan cinta Ibu akan terus terbang ke angkasa, melingkupimu, sepanjang hayatku.

 

Teringat aku pada Ibuku,…

Andai saja aku bisa menuliskan rangkaian puisi terindah untukmu, Ibu.

Sebuah syair, serenada atau Ode,…

Untuk Ibu yang mengajarkanku cara memberi tanpa berharap kembali,

mengajarkan kebijaksanaan dalam likunya kehidupan,

mengajarkan menjadi ibu seperti teladanmu,

mengajarkan menjadi wanita sejati dengan jubah keikhlasan dan kesabaran.

 

Bukan air mata pertama ketika kulihat kau menangis disatu malam, Ibu…

bersimpuh dan mendo’a.

Ada namaku,….ada semua kebaikan yang kau mohonkan kepadaNYA untukku.

Kini ketika aku telah menjadi sepertimu, menjadi seorang ibu…

Aku mengerti betapa kekhawatiran dan cintamu dulu, seringkali salah kuartikan.

Maafkan aku untuk air mata yang kau alirkan karena hilafku.

Terima kasih untuk tetesan keringat dan darah bagi kami putra-putrimu.

Ibu… dibahumu tidak pernah ada lelah juga amarah yang tumpah.

Karena kasihmu adalah keharuman dan muara cinta dari kecintaan Sang Maha Cinta.

 

Tuhanku,…

Jadikan Ibuku bidadari di surgaMu kelak.

Berikan semua keindahan dan kebaikan dalam hidupnya,

berikan kesempatan bagiku untuk membalas  cinta dan kasih sayangnya.

Jadikan aku wanita seperti pengharapan dan doa-doanya.

 

Tuhanku,…

Jadikan anakku anak yang berbakti kepadaMU, juga kepada orang tuanya.

Bimbinglah langkahnya, menjadi kebaikan dan cahaya bagi sesama.

Jangan jadikan kecintaanku jalan keburukan bagi mereka.

Tuhanku yang Maha Segala,

Sesungguhnya hamba tidak memiliki daya.

Jadikan aku wanita yang berjalan lurus di tengah derasnya arus jaman.

Jadikan aku wanita yang berjalan tegak namun tetap tawadhu di jalanMU,

jadikan aku wanita yang menjadi mata air bagi pasangan jiwa dan anak-anakku,

jadikan aku wanita yang tahu bersyukur atas nikmat dan rejeki dariMU.

Mengemban amanat sebagai anak, ibu, istri, dan mahklukMU di bumi ini.

Tuhanku,…

Jadikan aku wanita secantik dan seindah yang kau abadikan dalam ayat-ayatMu. amin…

~ Irma senja ~

Advertisements

Sampai kapan,…

Kasihan sekali wahai hati yang terpenjara,…

Lakumu tak bernyawa, hanya melayang mengikuti kemana titah Tuanmu membawa.

Entah sejak kapan kau abaikan impian dan angan-angan.

Sejak kapan senyummu hanya serupa garis tipis tanpa riang yang terasa.

Tidak ada yang memahamimu, suaramu adalah kegetiran keheningan malam.

Tangisanmu adalah rintik yang diam-diam kau tahan.

Sampai kapan kau turutkan segala atas nama pengorbanan ?

Sampai kapan ? lelahmu terus kau tahan…?

Sampai kapan,….? sampai kau tak mampu bertahan, atau sampai batas akhir usia kau jelang.

 

 

Aku dan bayangan

bayanganCredit

Daun-daun berguguran ditiup angin siang yang kering. Membuat mataku makin terasa berat. Kupaksakan menatap daun akasia yang menjuntai, pucuk-pucuk muda itu seolah berlomba menyentuh bumi dengan belai halusnya.

“Jangan merubah apapun…” nada suara tegasnya terngiang di telingaku. Aku mengatupkan kelopak mata dengan sungkan, suaranya kembali memenuhi gendang telinga.

“Kalau wanita itu cukup pintar, dia tidak berbuat demikian…” nadanya melemah, tapi masih dengan sentakan yang keras menahan emosi yang tersimpan di dada.
Aku mengamati bias luka yang terlihat jelas hari ini, setitik air menggantung di sudut mata sayu itu. Kulit putihnya terlihat makin pucat, dan garis wajahnya menguaskan perih. Aku memahami luka yang terlukis di wajah manis itu, tapi mungkin begitulah caranya menyimpan kisah sedih yang telah berkarat berpuluh tahun lalu.

“Aku tak ingin tahu apa yang dilakukannya, tidak pula ingin mengenal apa yang tidak aku kenal. Sebaiknya diapun begitu…selama ini di antara kami tak ada komunikasi. Bertegur sapapun jarang, mengapa harus diubah…?” ada sendat yang tertahan di ujung kalimatnya.

Angin membelai wajahku perlahan, tak mudah dimengerti itulah dirinya. Kisah ini bagian hidup yang ingin disembunyikannya, berharap tak seorangpun menyentuh sisi tersebut.

“Wanita itu tak bersalah, tapi karena dia aku kehilangan sesuatu dalam hidup….wanita yang mengingatkan pada hari itu…pada seseorang yang pergi….”. Berat sekali ia menyelesaikan kalimat terakhir.
Dia adalah seseorang dengan banyak luka yang tertoreh akibat ketegasannya.
Kesulitan mengambil keputusan, menentukan cara berbeda dalam menjalani hidup adalah bagian yang dipilihnya.

Sosok itu menatap kosong ke arahku, tak αϑα senyum tersimpul di bibir tipisnya. Cinta itu benar-benar menyita setengah masa mudanya. Menenggelamkan hatinya pada pencarian yang panjang dan lama. Cinta yang meninggalkan tanpa sepatah kata di suatu siang terik. Cinta yang tak pernah disadari kalau ia benar-benar mencintai. Mungkin cinta yang beruntung karena ia tak pernah membenci rasa pedih yang ditorehkan, malah tak sempat mengingat sedihnya. Cinta itu membalut terlalu erat dan menyatu tanpa kompromi. Dan cinta itu milik seseorang. Haruskah kusebut seseorang itu beruntung memiliki cintanya?

“Ѕєlαмα ini, aku selalu ingin tahu…, siapa yang menghentikan langkahku…dan mengapa aku terhenti….” bulu mata lentiknya mengerjap perlahan menahan genangan yang terlihat sekilas ketika ia menatap langit. Ia tersenyum tipis saat berusaha mengingat, dan pedih di mata itu tak mengurangi sedikitpun kasihnya.

Tahukah seseorang itu bahwa sosok ini sangat mencintainya, bahkan dia sendiri tak menyadari. Apa yang akan dilakukan seseorang itu bila tahu yang sesungguhnya. Semua lagu, kata-kata yang menjadi inspirasi jiwanya berasal dari cinta. Dengan apa dapat tertebus semua rasa yang membuat sosok menarik ini melepas kebahagiaan, memilih menjalani hidup dengan cara yang berbeda. Mengabdi pada hidup dengan membuang sebagian jiwanya demi menjalani takdir. Cintanya bukan sekedar kata. Ia mencintai utuh dengan hati, jiwa dan pikirannya.

Aku melirik tubuh yang duduk hadapanku, tangan gemulai itu menarik pelan sebatang rumput yang tumbuh dekat kakinya. Gelisah terlihat jelas saat bibirnya mengigit ujung rumput yang seolah pasrah memahami amarah. Bibir itu bergetar menandakan gejolak kebimbangan yang mengalir di nadi. Seseorang mana yang tak ingin merengkuhnya saat ini. Jelas sekali rapuh membalur seluruh tubuh itu. Tak ada ketegaran yang biasa ia tunjukkan, tak ada keangkuhan sama sekali, tak juga ketidak pedulian yang sering ia perlihatkan. Seperti gadis kecil yang terisak di sudut ruang karena takut, itulah dirinya saat ini.

“Tak sadarkah kau? Ini semua karena cinta, kau mencintai laki-laki itu…” ujarku pelan seraya merubah posisi dudukku lebih tegak. Ia menatap bulat bola mataku, ada telaga di mata itu. Ia tak suka diingatkan, dan aku salah mengingatkannya….

“Lalu..? Kau ingin tertawa…. tertawalah, aku orang paling menyedihkan di muka bumi ini….orang terbodoh yang pernah kau temui…” sinis sekali ia mengatakan kalimat terakhir, dan akupun tertikam dengan ucapannya. Lalu ia tertawa pelan, tapi terasa menyakitkan bagiku,

” Maaf aku tak bermaksud melukai….harusnya aku bisa menahan diri… ”
“Keangkuhanmu yang melukai…” aku menerka reaksinya atas ucapanku.

Ia mengangkat bahunya, “Apa yang kupunya? Keangkuhan itu adalah caraku menutupi sakit, itulah yang tersisa dari sebuah keberanian….atau kau lebih suka aku mengemis untuk sesuatu yang tidak kuketahui jawabannya…sesuatu yang mengombang ambingkan pada situasi sulit…”

Kicau burung di dahan terasa lebih nyaring di taman hari ini, mengingatkan lagi pada masa di mana kemudaan begitu menggoda. Ia benar, keangkuhan itu hanya penyamaran, tempat bersembunyi…ketidakpedulian itu hanyalah jubah agar tak satupun tahu warna apa yang dipakai di balik jubahnya. Ia cukup pintar menyembunyikan segalanya bahkan dari pandangan mataku…aku tersenyum kecil menyadari kecakapannya, sudah berapa banyak mata yang tertipu. Dialah sang pemain watak, seseorang pernah mengatakan itu sebagai hasil pengamatan yang sangat akurat. Akupun setuju dengan pendapat itu.
Panas mentari merayapi kulit, ada hangat mengalir di jiwa. Tapi pipi tirus itu masih menggigil, ujung rambutnya basah terkena embun semalam. Ia menatap rerumputan tak berkedip, begitulah mematung untuk beberapa saat bahkan tak mengingat kehadiranku. Membiarkan diri dibawa alam hatinya, mengunjungi tempat yang hanya diketahui olehnya. Rona mukanya masih kaku, ingin aku menyentuh tangannya, memberitahu keberadaanku. Tapi itu tak akan membuat ia bersuka…sebab ia selalu enggan membagi duka.
Wajah itu sekarang bersedih, tak ada binar di sepasang mata bulatnya. Aku tahu, aku salah mengingatkan itu semua. Tak kusangka perihnya teramat dalam.

“Aku tak membencinya, hanya tak mau diingatkan dengan itu semua, bertemu berarti diingatkan, kami sama wanita…yang terhubung karena lingkaran takdir….” Mulutnya terkatup rapat membentuk satu garis lurus.

“Bisakah kau pahami…?” Memelas sekali sepasang matanya, menghancurkan naluri kemanusiaan. Aku mengerti. Pengakuan akhirnya terucap juga, sebentuk daging bernama hati itu terlalu kecil untuk membenci seseorang. Aku menatapnya lurus, sepotong maaf terucap dari sorot mataku. Ia mengangguk, lalu membuang muka ke samping. Baik-baikkah ia? Rasanya aku ingin memeluk tubuh ringkih itu erat-erat, membawanya pada dekapan yang mungkin membahagiakan, atau mengantarkannya pada suatu tempat aman yang membuatnya terlindungi dari kenangan. Mengeluarkannya dari balik cermin agar aku dapat melihat jelas dirinya, karena ia adalah aku.

“Sebaiknya kau pergi hari beranjak sore, aku ingin sendiri. Aku harus melakukan sesuatu…” suaranya terdengar seperti bisikan angin. Kedua mata berwarna cokelat tua begitu terluka, andai aku dapat meraihnya membiarkan semua isak terlepaskan.Tapi rahangnya yang mengatup keras seakan berkata jangan kasihani aku, aku menebus dosaku. Kau selalu menghukum dirimu atas kesalahan yang tak kau lakukan, bahkan teramat keras. Seolah kau takut hal itu membayangi sampai akhir hayat. Kau memahami sepenuhnya tentang pertanggungjawaban. Laki-laki tua itu memang telah mengajarkan kisah langit dengan baik padamu. Kau melihat semua kefanaan di muka bumi dengan caramu, sebelum langit menghukummu kau memilih menghukum dirimu lebih dulu. Adilkah…? Kau terlalu paham makna keadilan hakiki adalah milik Sang Langit dan kebahagiaan abadi itu pun berada di langit, tujuanmu jelas tak ada gunanya menghentikanmu.

Sosok itu berdiri memunggungiku mengibas-ngibaskan gaun hijau mudanya yang terkena debu.

“Aku harus pergi…” ujarnya tanpa menoleh, suaranya terdengar sangat lirih.
Kau pasti akan menangis, aku tahu. Mendung itu sudah menggantung, kau hanya tak ingin ada yang melihatmu tersedu. Kau pun beranjak pelan meninggalkanku, sekali lagi tanpa menoleh. Mataku kian berat saat melihat bayangan itu menjauh, melangkah gontai menuju sebuah dunia yang hanya dimiliki olehnya. Dunia yang tak bisa kugapai, dunia yang dapat dimasukinya kapan saja, di mana saja….mengembara mengitari waktu hingga waktu terhenti dan ia kembali menyatu dengan dengan diriku, karena ia adalah aku dalam dunia yang lain.

Aku tak bisa menahannya, ia bebas pergi memasuki ruang mimpi yang tak bisa kukunjungi, mendatangi tempat yang kurindukan, memeluk tubuh yang tak mungkin aku peluk raganya, bermain dengan pikiran seseorang, melakukan apa yang tak bisa kulakukan, mewakili jiwaku yang terkantuk berat di bawah akasia, beralas rumput, berselimut angin dan ternaungi langit biru….

DIAM

Loneliness_by_mehrdadart4

Credit

” Aku bahkan berhak untuk membuatmu DIAM, jadi jangan bicara cukup patuhi saja aku. Aku tidak suka kamu bantah, atau membela diri. Apapun yang aku bilang kamu suka atau tidak suka kamu hanya cukup DIAM ! ”

Suaramu memecah hening malam, lalu berlari-lari di putaran pendengaranku. Sengaja kumasukan indera pendengaran dan perasaku. Kuselipkan di memoriku agar aku ingat bahwa aku hanya cukup DIAM.

” Aku tidak butuh wanita yang pintar, aku hanya butuh wanita yang menyenangkanku dan mematuhi aku ”

Mataku menerawang, ingatanku terbang pada satu ketika di saat tanpa bertanya aku harus berkata YA pada keputusan besar dalam hidupku. Khayalanku jauh mengingat betapa banyak impian dan ambisi yang kutekan jauh ke dalam. Betapa banyak sayap yang kubiarkan patah atas nama pengorbanan dan pengabdian kasihku pada orang-orang yang menghadirkanku ke dunia. Ya sejak awal aku sudah DIAM.

Tiba-tiba suara lain terlintas begitu saja,… ” Kamu terlalu pasif, bicara dong. Tidak selalu diam itu emas, kadangkala bicara adalah solusi. Kadangkala bicara juga menentukan isi kepalamu. Kamu introvert, kamu pendiam. Bicaralah sahabatku… ”

Aku menekan-nekan keningku yang mendadak terasa berat, kulirik jam yang terpajang di meja riasku. Pukul 02.45 wib, dini hari . Nyaris pagi ketika aku melangkahkan kakiku keluar kamar. Mataku belum juga mengantuk, mendadak kehampaan menyergapku dari segala arah.

Rasa apa ini ? kenapa dingin yang begitu kuat hingga membuatku bergidik sedangkan suhu udara biasa saja. Kekosongan yang menyergap hatiku begitu terasa menusuk, entah aku berpijak pada dasar yang mana. Mendadak aku kehilangan keyakinan pada diriku sendiri, atau sudah sejak lama aku bahkan kehilangan diriku sendiri.

Berapa banyak aku menipu diri, berapa banyak aku menipu mereka. Berapa lama lagi aku memerankan ini, jika aku tidak di terima apa adanya aku. Mungkin aku harus memakai topeng ini lebih lama lagi.

Aku memandang sekeliling, aku sendirian… iya aku seringkali merasa sendirian. Tapi bukankah kita lahir bahkan kelak mati juga sendirian ? mati…? kadangkala aku merasa sudah mati sebelum mati itu sendiri.

Kepalaku kian berdenyut, kian berat, kian limbung. Aku berjalan terhuyung menghampiri kotak obat, kubuka tumpukan obat yang berlabel nama yang sama, namaku. Kuambil obat berbahan antihistamin sedatif, kubuka botol penutupnya dan kukeluarkan di telapak tanganku. Mataku nyeri, air mata terlalu banyak membuat perih kelopak dan retinaku. Akhh…aku lupa menghitung ada berapa butir obat yang kuminum tadi. Tiba-tiba aku merasa kepalaku menjadi ringan, penat dan nyeriku hilang, aku terbang, disana aku bertemu dengan diriku sendiri. Diriku yang sejati.

#PostcardFiction Edisi Valentine

Ikutan event Kampung fiksi lagi nih untuk edisi valentine. Kali ini eventnya, peserta harus mengirimkan karyanya yang berbentuk fiksimini, puisi atau surat cinta di tulis dalam sebuah kartu pos. Ada tiga tema yang bisa kita pilih, Blue theme – Sad Love story, Pink theme – happy love story, atau Dark theme – Twisted love story. Kita bisa mengirimkan sebanyak-banyaknya loh, tentu saja satu kartu pos diisi dengan satu karya. Seru ya… jadi inget jaman dulu, saat kartu pos masih menjadi salah satu media komunikasi yang masih banyak di gunakan.

Kali ini ada dua theme yang aku kirim, Blue theme – Sad love story untuk Puisi. Dan Dark theme – Twisted love story untuk Fiksimininya.Doakan kali ini saya beruntung ya temans 🙂

 1 Blue Theme – Sad love Story : Puisi

IMG_0003

2 Dark Theme – Twisted Love Story : Fiksi

IMG_0001

Untuk para admin Kampung Fiksi yang kece-kece, semoga berkenan ya kiriman puisi cinta dan fiksinya ^_^