Daun yang tak pernah membenci angin

daun gugur

Image from Kredit

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja.

Tak melawan, mengikhlaskan semuanya.

Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah.

Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar.Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.

–Tere Liye–

 

 

Advertisements

#FF: Pijat ++

happy

Raisya mempersilahkannya masuk, seorang wanita berusia sekitar 35 tahunan. Perawakannya sedang dan wajahnya ramah dan penuh senyum.

” Silakan masuk mba, aku ganti baju dulu ya. Mba langsung aja deh ke ruang tengah  ” ucapnya ramah, dibalas dengan senyum riang dari wanita yang bernama Tuti ini.

” Iya mba, aku langsung ke dalam aja ya. Nyiapin cream dan minyak zaitunnya dulu. Mba Raisya sendirian tho di rmh ? anak-anak dan si mpok mana ? ” tanya mba Tuti nyerocos dengan riang. Suara ceprengnya sampai ke dalam kamar Raisya dan membuat wanita itu tersenyum sendiri. 5 bulan jadi tukang pijat, sekaligus lulur dan segala macam perawatan tubuh langganan membuat dia hafal betul dengan keceriwisan mba Tuti.

Setelah melepas piyamanya, Raisya lalu tengkurap siap merilekskan pikiran dan hatinya dengan pijatan mba Tuti yang memang enak banget.

Dia mulai terkantuk-kantuk sampai akhirnya Raisya ingat pesan seorang temannya yang  ingin mencoba pijatan mba Tuti.

” Mba, hari sabtu  mau ya ke rumah temanku di blok N no. 452 ? temenku mau nyobain pijatannya mba Tuti juga tuh, lulur dan refleksi juga ” ucapnya meski matanya masih terpejam.

” Iya mba,… aku minta alamat dan nomer telponnya saja ” jawab mba Tuti senang.

” hemmmm…. ” gumam Raisya sambil terus menikmati pijatan di bagian belakang tubuhnya. Rasa pegal di kakinya membuatnya agak meringis kesakitan.  ” Ini karena kebanyakan jalan kemarin ” batinnya menahan nyeri.

” Mba, blok N no 452 itu kalau ndak salah tetanggaan sama langganan saya juga deh. Saya manggil dia mama Abel, udah taunan dia pijat dan lulur sama saya ” logat daerahnya kental terdengar. Raisya enggan menanggapi celotehnya, tapi telinganya masih mendengar dan merasa tidak enak mengabaikan wanita itu.

” Tapi sekarang kasian mba, bulan lalu saya kesana badannya rusak. Bahkan saya sampe nangis  liatnya. Rambutnya hampir gundul, kulitnya bersisik dan kering. Kata pembantunya katanya dia sakit kanker. Padahal dia itu aslinya cantik loh mba Rai ” ucap mba Tuti dengan berapi-api.

Raisya tersenyum sembari membalikkan tubuhnya mengikuti intruksi mba Tuti.

” Saya gak kenal sama yang mba Tuti ceritain itu, mungkin karena saya jarang keluar rumah kali ya ” jawabnya ringan.

” Iya kali mba, dia itu wanita karier loh mba… katanya kalo udh kena kanker itu umurnya gak panjang ya ? kemarin saya jd agak takut-takut juga mijit badannya. Kalau mba Raisya sih bekas operasian di perutnya rapih ya, kaya di lem. Kalau dia, duhhh…. ngeri saya liatnya mba. Mungkin beda kali ya… caesar sama operasi bekas kanker ”

Raisya membuka matanya, lalu tersenyum.  ” Penyakit apapun bentuknya ada obatnya mba, kecuali penyakit tua ” ucapnya pelan.

Mba Tuti manggut-manggut,  dia kembali membuka suaranya sementara tangannya terus memijat tubuh putih Raisya.

” Ya tapi tetep aja serem  mba, kanker itu kaya kutukan kalo kata orang di kampung saya. Obatnya susah… katanya hidupnya gak lama kalau sakit itu ”

Raisya memejamkan matanya  ” Berisikkkkkk, aku dipijat karena ingin rileks bukan malah bikin aku stres, ini kali ya pijat ++ itu…plus gosip ” Teriak Raisya, sayangnya teriakannya hanya di dalam hati saja.

Mba Tuti masih ngoceh panjang pendek, tentang langganannya sampai tetangga di kampungnya yang juga di kutuk penyakit kanker lalu meninggal. Sampai komentar tentang sendi di bahu Raisya yang terlihat bengkak sebelah. Raisya memejamkan matanya,  berharap sesi pijat ini segera berakhir dan berfikir siapa kira-kira alternatif tukang pijat yang lain.

————————————————————————————————-

Setelah pijat dan mandi tubuhnya lebih rileks, dia meraih smartphone nya yang terabaikan sejak tadi.

” Opsss, aku hampir lupa….” teriaknya kecil, menekan tanda panggil setelah sebelumnya membaca pesan pendek di Hpnya.

” Siang sus,…  Maaf aku baru baca pesannya, makasih udh diingatkan. Jadwalku minggu depan saja ya sus, banyak acara minggu ini. Oke, besok aku ketemu dokter internistku dulu. Sip…makasih ya sus, iya…aku gak mungkin lupa jadwal khemotheraphy ku ” ucap Raisya  sambil menutup Hpnya.

# 589 word

Prompt# 3 : Telat

” Gawat ! ”

Aku melirik jam di tangan, sudah lewat 3 menit! Kupercepat lariku, walaupun tahu semua itu hanyalah usaha sia-sia. Aku sudah telat.

” Tidak apa-apa ” kataku menenangkan hati.

Aku mulai memasuki ruangan dan mengetuk pintu. Seketika semua mata diruangan ini menatap ke arahku.

late

Image Form Google

Sesaat aku takjub, mengedarkan pandanganku pada ruangan yang di sulap dengan begitu indah. Tampak beberapa teman dan kerabat berkumpul, tatapan mereka penuh tanda tanya.

” Aku hanya telat beberapa menit dari waktunya, berlebihan sekali kalau mereka marah hanya karena aku telat. ” gumam batinku.

Aku bergegas mencari Elisa, seharusnya dia ada disini jangan bilang kalau dia juga terjebak di jalanan yang macet atau tak bisa menghindar dari jadwal meetingnya yang padat sebagai manager sebuah agency terkemuka di Jakarta, milik  keluargaku ini. Dan gak lucu kalau hari ini dia masih sibuk meeting.

Aku menuju private room bagian dari bangunan kantor bernuansa modern dan cozy  yang kami sulap menjadi multifungsi jika harus mengadakan acara party dll.

” Mana Elisa ? ” tanyaku bingung campur kesal pada asisten dan sahabatnya yang tampak bingung dan cemas.

” San, mana Elisa… lalu mana abangku Andra, apa dia sudah datang ? ” ucapku mendesak.

Sandra memandangnya dengan penuh khawatir sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku.

” Elisa sudah pergi Dre, dia hanya berpesan kalau dia lelah dengan ketidak disiplinanmu, dan sikapmu yang seenaknya sendiri ”

Aku menatap wanita bertubuh subur ini dengan tatapan tajam.

” Apa maksudnya ? aku hanya telat 3 menit !! ” teriakku kesal.

” Kali ini kamu telat hanya 3 menit Andre, tapi dia sudah  menunggu 3 tahun, didetik terakhir saat kamu melamarnya dan memutuskan  bertunangan hari ini. Sepertinya sahabat kita itu berubah pikiran ” ucap Sandra sembari menatapku dengan pandangan iba.

Mendadak badanku lemas, bagaimana bisa Elisa bertindak begitu konyol. Apa dia tidak berfikir reputasi kami di mata para klien? Bagaimana bisa aku mengatur semua urusan dan bisnis ini tanpa kecakapan dan kepintarannya. Siapa yang akan membantuku membesarkan agency ini ? aku sudah kehilangan partnerku hari ini. Partner ?? mendadak aku bingung dengan suara hatiku sendiri.

*******

Sebuah sedan berwarna hitam perlahan memasuki rest area KM 19 , lalu parkir di bawah pohon palem yang menghadap  lalu lalang jalanan didalam tol.

” Aku memilihmu Andra,… aku sadar bahwa pria sepertimulah yang aku inginkan ” ucap Elisa sambil menatap pria tampan di hadapannya.

” Tentu saja, jika selama ini aku selalu telat dalam segala hal di  banding Andre. Kali ini dia yang telat. Aku mencintaimu… ” bisiknya sambil perlahan mencondongkan wajahnya ke arah Elisa.

# 387 word

Prompt# 2 : Tas Mahal Sri

tas Sri

 

Usianya baru saja menginjak 20 tahun, kulitnya kuning langsat, rambutnya yang hitam bergelombang dengan mata bulatnya yang jernih, ditambah bibirnya yang penuh dan memerah, tubuhnya sintal dan tinggi semampai. Meski wajahnya tidak terlalu cantik tapi siapapun akan setuju bahwa gadis ini sangat mempesona.

Sinar matanya berbinar menatap etalase-etalase yang memajang tas, sepatu, baju-baju dan aneka barang mahal di pusat perbelanjaan elite ini. Setidaknya itulah yang di ucapkan dengan bangga oleh bibinya dengan angkuh saat mereka memasuki mall ini.

” Sri,… ini salah satu mall termahal di Jakarta, barang-barang disini merk terkenal dan harganya jutaan bahkan puluhan juta. Harga tas termurah disini saja bisa jadi sama dengan hargadua ekor kerbau kepunyaan almarhum kedua orang tuamu di desa

Bibinya melenggang bak mantan peragawati yang sudah pensiun karena kehilangan bentuk badannya yang ramping, berlenggak-lenggok mengelilingi butik yang satu ke yang lain.. Frustasi.

” nasib punya suami kaya tapi pelit ” wanita usia 50 tahun ini bergumam sambil meletakan kembali tas mahal seharga 45 juta ditempatnya.

“tunggu disini Sri, jangan kemana-mana…aku ke toilet dulu, takut pamanmu bingung nyari kita 

Wanita gemuk itu meletakan belanjaannya di tangan ponakannya yang baru datang 6 minggu yang lalu dari desa kemudian bergegas menuju toilet. 

Sri melangkah menuju tempat tas yang tadi dipegang-pegang bibinya.

Sri menimang-nimang tas branded itu. Bentuknya cantik sekali. terbuat dari kulit sintetis yang diemboss berwarna putih dengan aksen kulit sintetis bertekstur kulit ular. Berkali-kali dia menimang lalu menaruhnya kembali, lalu kembali mengambil dan menimangnya lagi. pikirannya kacau.

Tutup mulutmu ya Sri, kalau kamu mau tinggal di rumah mewah ini dan selalu menuruti keinginan paman, paman akan memberikan apapun yang kamu mau. Hidupmu akan senang Sri …. apapun dan berapapun harganya akan paman belikan. Baju baru, sepatu baru, uang saku, tas baru.… ” 

Tiba-tiba Sri ingat kata-kata yang diucapkan pamannya dengan mulut bau tembakau, dan tubuh tambunnya yang berkeringat setelah merengut keperawanan dan menggagahinya semalaman.  

Sri menoleh ketika mendengar suara pamannya berdehem di belakangnya, ekor mata pria tambun 59 tahun itu mencari sosok istrinya dan tersenyum menyadari wanita itu tidak ada di sana. Tatapan matanya berubah genit dan penuh nafsu memandang Sri. Lalu Sri tersenyum licik,

” Belikan aku tas ini paman, harus…. kalau ndak penyakit jantung bibi bisa kumat kalau aku cerita tentang paman yang setiap malam menyelinap ke kamarku ” 

 

# 383 Words

 

Prompt#1 : G-String Merah

 

G-string

 

” Oh ok. Elu langsung masuk kamar aja dulu ya. Gw masih mandi nih.”  Meh… Dion nyengir jaman sekarang mandi, hape juga di bawa. Whatsapan sambil mandi. Dion terkekeh sendiri. Dia menuju kamar nomor dua di deretan kanan. Dibukanya pintu yang memang tak pernah terkunci,lalu masuk. 

Kamar itu tak terlalu luas. Dipenuhi dengan barang-barang praktis. Dion menggelosot di lantai bersandarkan tempat tidur. Tapi tiba-tiba matanya tertarik pada sesuatu yang berwarna merah yang sedikit menyembul dari bawah bantal. Penasaran, karena hampir tak ada baju setahu Dion yang berwarna merah di kamar ini, ditariknya benda berwarna merah itu.

Dion terkesiap. G-String? G-String berwarna merah ?

Dion menatap G-String yang kini berada digenggamannya, tiba-tiba dadanya berdegup keras. Bukankah G-String ini punya gue ? kenapa ada di kamar ini ? Dion bingung. Tidak mungkin wanita sepertinya membiarkan pakaian dalam yang sangat pribadi tercecer ke kamar seorang pria meskipun kamar Andre sahabatnya sendiri. Pasti ada yang gak beres, pikirnya sambil perlahan bangkit menuju lemari pakaian Andre.Perlahan lemari itu dia buka, lumayan rapih juga nih cowok pikir Dionisa.

Dion terbelalak saat membuka laci-laci lemari pakaian sahabatnya, tumpukan pakaian dalam wanita, aneka G-String, Bra, bahkan baju-baju sexy,….wanita ???

Beberapa dipastikan adalah pakaian dalamnya. Dion hilang fokus saat pintu kamar terbuka, bersamaan Andre masuk ke dalam kamar, laci pakaian yang dia pegang terlepas maka berhamburanlah aneka pakaian dalam itu ke lantai.

 ” Dre,…. elo ? ” 

Andre tampak terkejut namun dengan tenang dia melangkah masuk ke dalam kamar, mengambil baju dan pakaian dalam. Dion membalikkan badannya saat Andre memberinya isyarat hendak berganti pakain.

” gue seorang fetysis sekaligus transvestisme,…. ” ucap Andre perlahan.

Dionisa terbelalak, perutnya mendadak sakit menatap sosok sahabatnya yang biasanya macho kini mengenakan rok mini, bra, tank top wanita sambil menggenggam dan menciumi G-String  warna merah miliknya.

# 292 Words