Halimun pada hati kekasih

hatiygkehilangan

Credit

Maya :

Mendadak langkahku terhenti, perasaan ragu membuatku hendak berbalik ke arah parkiran menuju mobil lalu pulang. Perasaanku bimbang, benarkah keputusanku untuk menemui Gielang. Apakah aku tidak akan membuat segalanya menjadi lebih rumit ? bagaimana jika keputusanku kali ini salah ?

Tapi apakah aku tega melihat sahabatku seperti ini ? membiarkannya terpuruk, menderita dan dipersalahkan . Aku putuskan berbalik ke arah Mall, dimana aku membuat janji bertemu dengan Gielang.

Aku masuki sebuah cafe coffee yang ada di mall ini, mataku menyapu sekeliling cafe dan melihat Gielang sudah menunggu di sebuah sudut.Aku menghampiri pria berperawakan tinggi dan tampan ini, Gielang berdiri dari duduknya saat aku mendekat.

” Sudah lama menunggu Gie ? ” Tanyaku sopan dan merasa bersalah, jangan-jangan dia sudah lama menunggu disini karena keragu-raguanku tadi.

Gielang tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

” Duduklah May,…mau pesan apa ? coffee atau juice ? ”

Aku menyebut coffee dan kami sudah duduk berhadapan, entah dimana aku harus memulainya. Dan sepertinya Gielang menangkap kebingunganku.

” Ada apa May ? di telfon kamu bilang ada yang harus kita bicarakan ” Tanya Gielang to the point.

Aku diam-diam memperhatikan sosoknya, matanya tajam dengan hidung yang sangat tinggi. Benar, matanya sangat indah seperti yang kamu bilang kei dan itu aku tahu. Dan bibirnya,…aku masih ingat dengan jelas bagaimana kamu mendeskripsikan ciuman pria ini. Hangat, lembut namun menghadirkan badai di hatimu, juga dihatiku saat kamu menceritakannya. Kei,…aku menangkap sinar kehilangan dan kesedihan dimatanya saat ini. Aku menghela nafas, membuang sesak yang sesaat hadir. Sesungguhnya kamu beruntung kei, atau bahkan tidak ?? karena akhirnya aku dan kamu sama-sama kehilangan lelaki ini.

” Aku harus menunggu berapa lama supaya kamu bicara May ? ” Suaranya membuat bayangan keira mendadak lenyap.

” Oh, maaf… ”

” Ada apa ? aku harap ini tidak ada kaitannya dengan Keira ”

Aku kaget mendengar ucapannya, tapi aku tahu aku harus membuat lelaki ini mengerti tentang kamu Kei.

” Maaf, tapi ini tentang Keira… kamu akan menyesal jika tidak mendengar ucapanku. Keira tidak pernah pergi,…dia selalu untukmu Gie “

Wajah Gielang tetap dingin, tanpa ekspresi sama sekali. Dan ini membuat jantungku berdenyut nyeri.

” Sudahlah may,…kenyataan aku kembali ke Indonesia dan memenuhi janjiku untuk dia. Menempuh pendidikan di negri orang untuk mewujudkan impian kami, rela berjauhan dengan keluarga yang aku kasihi dan juga dari dia selama dua tahun. Lalu saat aku kembali, dia sudah bertunangan dan menolak meski sekedar menemuiku. Plisss, May… jangan buat aku juga membencimu ”

Aku menatapnya tajam, andai kamu tahu gie. Andai kamu tahu…

” Kalau kamu tidak ingin mendengar, setidaknya lihat… ini alamatnya. Aku membantumu supaya kamu tidak akan menyesalinya seumur hidup. “

Aku meletakan secarik alamat di meja, lalu berdiri dan berniat pergi.

” Mengapa kamu perduli, May.. ? kita tahu bahwa bukankah Keira yang membuat harapanmu padaku tidak terwujud. Karena aku justru memilihnya dibanding memilihmu ? “

Kalimatnya barusan membuka luka lama yang sesungguhnya tidak pernah kering. Aku menatapnya tajam.

” Benar Gie,… kalian yang mematahkan hatiku. Aku jatuh hati padamu sejak awal, aku perkenalkan kamu pada sahabatku dan kamu jatuh cinta padanya. Tapi apa itu salahnya ? tidak… karena Keira bahkan tidak pernah tahu, bahwa aku sudah jatuh cinta padamu sejak sebelum kalian kenal. ”

Air mataku merebak, dan tumpah.

” Ini salahmu, mengapa tidak jatuh cinta padaku ? lalu aku kenalkan kamu sebagai kekasihku padanya. Dan aku yakin Keira tidak akan jatuh cinta padamu. Temui dia… sebelum kamu menyesal ”

Aku meninggalkan Cafe coffee dengan hati sakit, Kei… jangan lepaskan dia. Dia mencintaimu. Hukum dia untuk selamanya hidup bersamamu. Bisikku penuh kesedihan.

Gielang :

Ruang tamu ini pernah aku kunjungi bertahun yang lalu, ruang tamu dari sebuah rumah megah namun klasik. Rumah yang berdiri diatas tanah luas berpunggung bukit ini sangat sejuk dan dingin. Dingin dalam arti sebenarnya, juga dingin yang sunyi. Ini adalah kediaman Kakek dan Nenek Keira.

” Kelak aku ingin kita tinggal dirumah dengan halaman yang juga luas seperti rumah ini Gie,…”

Bisikmu saat itu , jemarimu tergenggam ditanganku. Kita berjalan mengelilingi halaman rumah ini. Sesekali kamu berlari kecil, tersenyum dan membiarkan kakimu menyentuh rumput dan tanah. Aku teramat sangat jatuh cinta, jatuh cinta pada pandangan pertama padamu.

Saat pertama kali sahabatku mengenalkanmu disuatu sore, mata jernihmu dan senyum menggemaskan yang membentuk lekukan kecil dikedua pipimu itu menghadirkan desiran aneh dihatiku.

Belum pernah aku melihat wajah seteduh langit hujan, tapi bermata seteguh karang-karang.

” Bagaimana kalau aku hanya mampu membelikanmu rumah kecil, Kei… ? apa kamu tetap  mencintai aku ? ”

” Dasar bodoh, aku menginginkan rumah dengan halaman luas yang di dalamnya ada kamu. Jika aku mendapatkan rumah besar seperti yang kuinginkan, tapi kamu tak ada disana, itu tidak akan menjadi mauku lagi… ”

Bisikmu saat itu, kini kalimat itu melukaiku Kei. Ketika perlahan namun pasti surat-suratku mulai jarang kamu balas. Hingga akhirnya kamu balas dengan permintaan maaf karena kamu jatuh cinta dan bertunangan dengan pria lain.

” Mas ini siapa ya ? ”

Tanya seorang bibi yang menghampiriku seolah mengingat-ingat sesuatu.

” Aku sahabat dari Keira, apa dia ada ? dan di mana eyang uti  ? “

Tampak wajah wanita berusia sekitar 45 tahunan ini terkejut, wanita ini pasti kerabat dari Keira yang mengurus rumah ini.

” Eyang uti sudah meninggal setahun lalu, dan Mba keira sudah kembali ke Bandung ke rumah orang tuanya “

Eyang uti sudah berpulang, wanita sepuh yang baik hati itu sudah menghadap Yang Khalik. Semoga Eyang tenang di sana, doaku dalam hati. Aku meninggalkan rumah besar itu dengan harapan yang patah, alangkah bodohnya aku mengikuti saran dari Maya untuk mencarimu. Hampir satu tahun ketika terakhir suratmu datang. Lalu pembicaraan penuh emosi di telfon, permintaanmu yang tidak lagi ingin melihatku.

Dan hari-hari penuh kemarahan yang aku jalani selama ini, perpustakaan hingga tempat hiburan di mana aku melebur rasa sakit hatiku untuk melupakanmu. Sekian pertanyaan yang slalu tak pernah kudapatkan jawabannya. Perjalanan kita begitu indah Kei, meski kadang hadir kerikil kecil saat aku cemburu melihat betapa begitu banyak lelaki lain yang ingin dekat denganmu. Atau kecerobohanku yang kadang membuatmu kesal. Kita slalu bisa mengatasinya, aku terlalu mencintaimu dan kamu yang begitu mendalam mengasihi aku.

Keputusanku menerima beasiswa di salah satu Universitas di Australia adalah doa dan harapan-harapan kita. Betapa kamu melonjak kegirangan saat kabar itu kusampaikan. Dan keberangkatanku menuntut ilmu menjadi saat terakhir aku melihatmu. Kamu tidak sabar meski hanya untuk dua tahun menungguku, kamu tidak setia Keira.

Kebodohanku adalah mendengar ucapan Maya, wanita yang kukenal jauh sebelum aku mengenalmu. Teman baikku, setidaknya itulah yang aku rasakan padanya. Aku menunda keberangkatanku kembali ke Australia dan menerima tawaran pekerjaan dan menetap di sana . beberapa bulan di negri ini membuatku frustasi. Berkali-kali melewati bangunan rumah orang tuamu di Bandung, rumah itu seolah tidak berpenghuni. Entah dimana kamu saat ini Kei, dan aku bodoh jika terus mengejarmu. Sedang isis suratmu begitu jelas tentang sebuah pertunangan.

Kedatanganku ke alamat yang diberikan Maya adalah pencarianku yang terakhir, dan aku menyerah Kei. Sampai detik ini aku masih mencintaimu, sangat mencintaimu. Entah bagaimana mengatasi rasa kehilangan yang tak kunjung terobati. Dan ijin yang aku dapat dari orang tuaku untuk kembali ke Australia dan menetap disana adalah jawabannya. Aku tidak mungkin melupakan rasa cintaku yang sedemikian dalam, begitu juga melupakan betapa kamu sudah menghianati cinta kita.

” Selama tinggal, Kei… selamat tinggal cinta terbesar dalam hidupku “

Bisikku perlahan, menatap terakhir kali ke arah bagunan rumah besar berpunggung bukti ini. Menyalakan mesin mobilku dan pergi…

Keira :

Aku merangkak keluar dari kamar mandi setelah sebelumnya berusaha berteriak memanggil ayah dan ibuku. Tapi aku tahu suaraku yang gemetar tak akan cukup membangunkan mereka yang sedang terlelap. Saat itu dini hari, aku merasakan perutku sakit luar biasa. Ini bukan yang pertama kali, ini rasa sakit yang kesekian kali hilang dan timbul. Terkadang tanpa aku tahu apa sebabnya.

Tapi malam ini rasa sakit nya lebih hebat dari sebelum-sebelumnya. Tubuhku berkeringat tapi dingin dan gemetar, kepalaku sakit ditambah perut mual dan  muntah. Maka pagi itu, Mama menemukan aku tergeletak di lantai kamar mandi dengan tubuh basah oleh keringat, wajah pucat dan darah yang mengalir melewati pangkal kakiku.

Aku terbangun di sebuah kamar Rumah sakit keesokan harinya, dengan dua jarum yang menancap di kedua tanganku. Tubuh sakit dan perut yang mual. Aku menatap sekeliling kamar, di sebuah sofa mama terlihat tidur dan tampak sangat kelelahan. Kepalanya menelungkup pada sandaran tangan sofa berwarna coklat itu. Betapa aku slalu saja membuatnya khawatir dan cemas. Aku benar-benar anak yang tidak baik, kapankah Kei bisa membalas dan membahagiakanmu mah. Ucapku sedih di dalam hati.

Seorang suster memasuki kamar, seragam oranye mudanya terlihat kontras di kulitnya yang putih.

” Selamat pagi, mba Keira… gimana, sudah lebih enakan ? apa yang di rasa pagi ini ? ” tanya suster itu ramah sembari mengukur tensi darahku, menyelipkan termometer di ketiak kiriku.

Aku mencoba tersenyum dan aku yakin senyumanku akan tampak seperti seringai yang tidak enak di pandang.

” Selamat pagi juga Suster,… perut depan hingga punggung belakangku masih nyeri Sus. “

Suster itu menatapku sekilas, sebelum akhirnya melihat suhu di termometer.

” Suhu tubuh mba Kei normal,nanti kita sampaikan ke Dokter saat beliau visit ya mba. Mba coba untuk sarapan dulu ya,… sebentar lagi sarapannya diantarkan ”

Aku menganggukan kepalaku, tampak mama sudah terbangun dan menghampiri suster yang menuju pintu keluar kamar. Entah apa yang mereka bicarakan.

Lalu test satu demi satu kujalani, pemeriksaan yang biasa saja , menyakitkan sampai sangat menyakitkan. Ini bukan yang pertama kali aku menginap di sebuah RS. Aku harap kali ini aku menemukan jawabannya, apa yang membuat tubuhku sering merasa nyeri, seringkali pingsan, dan tubuhku kehilangan berat badan juga pucat.

” Hasil biopsi dari jaringan yang kita ambil dari pemeriksaan Kolonoskopi adalah Cancer Colon stadium 3 , Kei… dan ini bukan kabar baik. Kamu harus secepatnya di operasi. Ususmu sudah tersumbat, tumor ganas itu sudah menutup ususmu hingga tidak ada makanan yang bisa masuk. itulah sebabnya kamu sering merasa kesakitan ”

Mama mulai terisak, papa memalingkan wajahnya yang hampir memerah menahan air mata.

” Kami terkecoh Kei,… Usiamu masih sangat muda, 20 tahun dan cancer ini biasanya diderita oleh mereka yang berada diatas 40 tahun. Aku harap kita bisa berjuang, mengikuti saran dokter dan berdoa ”

Aku melihat bibir dokter itu bergerak-gerak, matanya, dan lalu tangannya mengenggam jemariku. Menepuk punggung tanganku, menguatkan. Suara disekelilingku tampak lenyap, aku bahkan tidak mendengar suaraku sendiri. Anehnya aku tidak menangis, mama memelukku dan aku memeluknya dengan rasa hampa. Engkau menghianatiku, Tuhan… bukan kanker yang aku inginkan!

Waktu berjalan cepat, tiga bulan sejak vonis itu. Setelah operasiku yang pertama lalu yang kedua. Musim apa di sana Gie…? aku merindukanmu, sangat.

Lalu tiba dimana hari-hari menjadi  sangat lambat berjalan. Chemotheraphy yang melelahkan. Ruangan isolasi dan segala macam penderitaannya, diare juga nyeri sendi yang membuatku semakin sulit membalas surat-suratmu.

Aku tidak setia Gie, aku sibuk mengasihani diriku sendiri meski sakit ditubuhku tapi aku lega karena tidak harus membaginya padamu. Maaf,…tapi kamu terlalu rupawan untuk seorang gadis yang kini berkepala gundul. Kamu terlalu baik untuk menemaniku melewati hari-hari yang membosankan di rumah sakit. Dulu kamu pernah bilang, bahwa kulitku adalah halusinasimu yang terhebat. Saat aku menyentuhmu, saat kamu mengenggam jemariku. Bahkan kini halusinasimu menjadi kusam dan menghitam Gie. Kamu terlalu pintar hanya untuk mencemaskan aku, sedangkan beasiswamu sangat penting. Gie,… aku tidak setia. Aku meninggalkanmu,…karena aku hidup bersama Kanker.

Hampir satu tahun sejak aku meninggalkanmu, kondisiku seperti roller coaster. Kadang membaik, kadang terkurung diruang chemotheraphy. Tubuhku ceking dan tulang-tulang di sendi bahuku juga bergeser. Kanker dan Autoimun yang menambah permainan hidupku semakin menarik. Meski nyatanya aku tidak mudah dikalahkan, bertahan dan bertahan.

” Maaf  Kei,..aku bertemu Gielang dua hari yang lalu. Dia sudah kembali ke Indonesia, entah kapan tepatnya. Aku memberitahu dimana kamu saat ini, Plisss Kei. Setidaknya jangan buat dia membencimu. Ini tidak adil,…jangan salah artikan sikapku. Aku menyayangimu “

Pesan Maya membuat dadaku berdetak demikian cepat, bagaimana mungkin dia melanggar janjinya selama ini. Hanya karena dia mengunjungiku yang terakhir dan melihat kondisiku. Apa dia fikir aku akan mati.

*********

Disinilah aku Gie,…menatapmu dari balik tirai jendela. Mataku memanas, ada gelombang pasang di dadaku saat ini, menatapmu yang sedemikian dekat. Berjalan turun dari mobil yang terparkir didepan rumah. Jeans biru dengan t-shirt putih dan sepatu kets favoritemu. Usiamu baru 23 tahun, mengapa kamu menjadi begitu tinggi dan tampak sangat mempesona.

Bibi yang mengurus rumah ini yang aku minta menemuimu, untunglah mama dan papaku sedang melihat kondisi rumah kami di Bandung . Hingga aku tidak perlu memberi penjelasan mengapa aku melakukan ini padamu.

Aku melihatmu duduk diruang tamu, lalu berkeliling di halaman. Disetiap jengkal taman itu ada aku, Gie. Bunga-bunga mawar putih di sudut pagar sebelah kanan yang kamu pandangi itu adalah bunga favoriteku.

Kamu terduduk di bangku taman samping, dengan susah payah aku mengikutimu dari balik jendela di dalam rumah. Kamu menangis Gie,…untukku ? maafkan aku… tidak mungkin aku merusak masa depanmu yang begitu cemerlang. Hampir setengah jam kamu berada di rumah ini, meski tak bicara hanya diam dan menatap berkeliling. Mungkinkah kamu mencari bayanganku disini Gie ? atau merasakan bahwa sesungguhnya aku berada dekat disini.

Bolehkah aku egois, Tuhan ? bolehkah aku keluar dan menemuinya ? lalu mengikat hatinya yang memang untukku. Memintanya menemaniku sepanjang hidup seperti mimpi-mimpi kami selama ini. Aku menghapus air mataku, dengan sekuat tenaga aku membuka pintu kamar, melewati ruang keluarga menuju kekasihku yang berdiri diujung pagar menatap bangunan rumah ini dengan pandangan sedih.

” Tunggu aku, Gie…. aku disini, aku disini… tidak pernah ada cinta yang lain. Tidak pernah ada pertunangan seperti isi suratku yang terakhir ”

Air mataku kian deras, tanganku terlalu lemah untuk mencegahmu memasuki mobil. Gerakanku terlalu pelan untuk melewati ruang tamu, turun ke halaman dan mengejarmu. Bahkan suaraku tercekat tertelan angin diberanda. Bibi Inah tergopoh datang membantuku membuka pintu, dengan mata yang memerah.

Mobilmu perlahan bergerak, kamu tidak menoleh lagi Gie… meninggalkan aku di teras rumah dengan air mata mengalir diatas sebuah kursi roda.

Advertisements
Next Post
Leave a comment

13 Comments

  1. Keren Ir… tapi kenapa menyiksa pembacamu dengan ending yang menyedihkan? hiks..hiks… Ga adil!

    Tapi itulah enaknya jadi penulis kan? kita berkuasa terhadap apapun alur yang ingin kita ciptakan. Hehe. Keren deh pokoknya, si penyair yang kini juga lihai menulis fiksi. Keep writing mak! 🙂

    Reply
    • Iya ya mak ? sempet kepikiran jg mereka bertemu. Tapi gak yakin juga lelaki itu menerima keadaan ceweknya. Kayanya terlalu india banget 😀
      aku berfikir agak realistis ^^

      makasih mbaku, sedang belajar mba…:) spy tulisannya lancar mengalir seperti tulisanmu ^_^

      Reply
  2. dapet ceritanya…bagus senja….!
    aaakhhhh cinta mahluk apakah sebenarnya kau ini, sulit diartikan, sukar di definisikan, tapi begitu mudah untuk diucapkan. kadang kita dibuat bingung dengan tingkah lakunya.

    lewat ceritamu senja, cinta seakan mudah untuk dilihat keberadaanya.

    Reply
    • Cinta cukup di rasakan dan buktikan lwt sikap dan perbuatan.
      Tak perlu definisi, atau narasi 😉

      trima kasih ya….

      Reply
  3. Iks… bener2 ga adil. Tapi aku masih harus berusaha keras memahami beberapa sambungan kalimatnya, neng. Kalau terus dipoles, pasti bakalan lebih mudah mencerna. eniwey, secara cerita, great dan keren

    Reply
  4. arrghhh ending yg menyeebalkannnn pelukan dulu kek, nangis2 dulu…. arrghhhhhhhhhh eniwey spt biasa kereeeennn

    Reply
  5. Sedih mak bacanya :(.

    Reply
  6. makin pinter aja bikin ceritanya, neng ir … keren. Dengan gaya bercerita yang mengambil sisi setiap hati para tokohnya, membuat gejolak rasa bisa tergambarkan dengan lebih dalam.
    Terus berkarya, ya.
    Ohya, mampir sini yuk : http://www.annie-rosetyani.blogspot.com/2013/02/surat-surat-ibu.html

    Reply
  7. cara nonjolin karakter2ny itu loh menarik bangett, walau kadang di beberapa bagian kesanny jd satu orng, tp keren kok ini cara tutur dari tiap tokoh2ny 🙂 sukaa ceritanyaaaa…

    Reply
  8. sedihhhh…. T_T

    mbak iiir.. makin sini fiksinya makin keren aja.. pengen kayak mbak ir.. 😦

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: