[BeraniCerita#1] Jalan Berkabut

Jalanberkabut

Credit

Aku masuki pekarangan rumah dengan arsitektur klasik namun tampak megah ini dengan langkah tertahan. Apa yang harus aku katakan pada Bagas ? Satu bulan aku menghindarinya dengan sejuta alasan.

Mbok Nem  berdiri dihadapanku dengan senyumnya yang ramah dan mempersilahkanku  masuk.

” Silahkan langsung masuk saja ke dalam mba Rara, mas Bagas ada di ruang baca sudah menunggu loh. Oh iya… sudah lama ya mba Rara ndak main ke sini. ” Ucap mbok Nem membuatku semakin merasa tidak enak hati. Aku mengikutinya dari belakang, sementara mbok Nem bercerita panjang lebar. Tentang kecelakaan itu, tentang Bagas yang berubah menjadi pendiam dan tak pernah lagi memainkan piano atau melukis seperti yang biasanya dia lakukan.

” Mas Bagas hanya mengurung diri di dalam kamar, tapi seminggu ini dia sudah lebih baik. Tadi pagi bahkan dia berjemur di halaman belakang dan bercanda-canda dengan si Maman sopir pribadinya “.

Mulutku terkunci, mataku memanas…. ingatanku kembali ke sebuah ruangan RS tiga bulan lalu.

Aku berdiri di sudut kamar perawatan saat itu, ketika menyaksikan kekasihku yang begitu tampan dan pintar mendadak menjadi sosok yang berbeda dalam sekejap.

Senyum dan sinar matanya masih indah, ucapan dan kedewasaannya selalu membuatku nyaman setiap disampingnya. Tapi hari itu Bagas-ku tercinta mendadak tidak aku kenali lagi. Dan air mataku mengalir paling deras sore itu.

Dan hari ini  ” Masuklah Ra,…sini ” Ucapnya perlahan sembari menatapku dengan senyum manisnya. Tangannya menggapaiku, perlahan aku raih tangannya dan bersimpuh dihadapannya.

” Apa kabar Mas ? ” tanyaku pelan sembari menatap matanya, mencari debaran dihatiku dan bayanganku dimatanya. Tatapannya masih sehangat dulu, masih dengan jelas kulihat cinta disana. Bagas tersenyum lalu lengannya mengucek rambutku seperti kebiasaannya selama ini.

” Apa kabar gadis kecilku ? kamu mengabaikan aku ya… bagaimana kesibukan dan hari-harimu di kampus? ” tanya Bagas menggodaku.

Aku menatapnya, maafkan aku Bagas batinku berbisik sedih. Pelan ada yang perih disana, menyadari aku sudah menyakitinya.

” Aku baik,…. maafkan aku mas…” bisikku pelan.

Bagas tersenyum, menggenggam jemariku lalu berkata pelan  ” Tak apa sayang, apa yang membuatmu bahagia, itu juga kebahagiaanku. ”

” Jadi siapa dia,.. ? siapa cowok keren yang berhasil mencuri hati kekasihku ? ” tanyanya lembut dan riang, meski matanya tidak bisa menyembunyikan kehancuran hatinya.  ” Siapa dia ? ” tanyanya mengulang.

” Namanya Ariel, dia temanku di kampus. Kami beda fakultas…. dia baik, pintar dan mencintai aku ” bisikku perlahan.

” Tentu dia baik, jika tidak mana mungkin Raraku jatuh cinta padanya. Meski aku yakin, pasti gak setampan aku kan ? ” ucapnya tersenyum sembari mengerlingkan matanya menggodaku.

Bagas memelukku untuk terakhir kalinya sambil berbisik  ” Aku mengerti sayang, aku mohon jangan merasa bersalah ya. Kenangan indah kita selama dua tahun akan selalu aku ingat ”

Langit beranjak senja ketika aku memutuskan untuk pamit, Bagas mengantarku hingga beranda rumahnya yang luas.

                                                      **************

Mama, papa…..

Mohon maafkan Bagas, rasanya berat menjalani ini.

Kalian tahu betapa aku tidak mudah menyerah, tapi

kali ini aku sungguh tidak sanggup.

Aku pergi dengan harapan kalian memaafkan aku,

sampaikan salamku untuk Rara…

~ Bagas~

Selembar surat ditemukan di kamar Bagas esok paginya, disamping jasadnya yang tergolek diatas kursi roda dengan kedua kaki yang teramputasi sebatas pangkal pahanya.

#489 Words

 

” Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway Bercerita.com   yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma

 



 

 

Advertisements