#FF: Pijat ++

happy

Raisya mempersilahkannya masuk, seorang wanita berusia sekitar 35 tahunan. Perawakannya sedang dan wajahnya ramah dan penuh senyum.

” Silakan masuk mba, aku ganti baju dulu ya. Mba langsung aja deh ke ruang tengah  ” ucapnya ramah, dibalas dengan senyum riang dari wanita yang bernama Tuti ini.

” Iya mba, aku langsung ke dalam aja ya. Nyiapin cream dan minyak zaitunnya dulu. Mba Raisya sendirian tho di rmh ? anak-anak dan si mpok mana ? ” tanya mba Tuti nyerocos dengan riang. Suara ceprengnya sampai ke dalam kamar Raisya dan membuat wanita itu tersenyum sendiri. 5 bulan jadi tukang pijat, sekaligus lulur dan segala macam perawatan tubuh langganan membuat dia hafal betul dengan keceriwisan mba Tuti.

Setelah melepas piyamanya, Raisya lalu tengkurap siap merilekskan pikiran dan hatinya dengan pijatan mba Tuti yang memang enak banget.

Dia mulai terkantuk-kantuk sampai akhirnya Raisya ingat pesan seorang temannya yang  ingin mencoba pijatan mba Tuti.

” Mba, hari sabtu  mau ya ke rumah temanku di blok N no. 452 ? temenku mau nyobain pijatannya mba Tuti juga tuh, lulur dan refleksi juga ” ucapnya meski matanya masih terpejam.

” Iya mba,… aku minta alamat dan nomer telponnya saja ” jawab mba Tuti senang.

” hemmmm…. ” gumam Raisya sambil terus menikmati pijatan di bagian belakang tubuhnya. Rasa pegal di kakinya membuatnya agak meringis kesakitan.  ” Ini karena kebanyakan jalan kemarin ” batinnya menahan nyeri.

” Mba, blok N no 452 itu kalau ndak salah tetanggaan sama langganan saya juga deh. Saya manggil dia mama Abel, udah taunan dia pijat dan lulur sama saya ” logat daerahnya kental terdengar. Raisya enggan menanggapi celotehnya, tapi telinganya masih mendengar dan merasa tidak enak mengabaikan wanita itu.

” Tapi sekarang kasian mba, bulan lalu saya kesana badannya rusak. Bahkan saya sampe nangis  liatnya. Rambutnya hampir gundul, kulitnya bersisik dan kering. Kata pembantunya katanya dia sakit kanker. Padahal dia itu aslinya cantik loh mba Rai ” ucap mba Tuti dengan berapi-api.

Raisya tersenyum sembari membalikkan tubuhnya mengikuti intruksi mba Tuti.

” Saya gak kenal sama yang mba Tuti ceritain itu, mungkin karena saya jarang keluar rumah kali ya ” jawabnya ringan.

” Iya kali mba, dia itu wanita karier loh mba… katanya kalo udh kena kanker itu umurnya gak panjang ya ? kemarin saya jd agak takut-takut juga mijit badannya. Kalau mba Raisya sih bekas operasian di perutnya rapih ya, kaya di lem. Kalau dia, duhhh…. ngeri saya liatnya mba. Mungkin beda kali ya… caesar sama operasi bekas kanker ”

Raisya membuka matanya, lalu tersenyum.  ” Penyakit apapun bentuknya ada obatnya mba, kecuali penyakit tua ” ucapnya pelan.

Mba Tuti manggut-manggut,  dia kembali membuka suaranya sementara tangannya terus memijat tubuh putih Raisya.

” Ya tapi tetep aja serem  mba, kanker itu kaya kutukan kalo kata orang di kampung saya. Obatnya susah… katanya hidupnya gak lama kalau sakit itu ”

Raisya memejamkan matanya  ” Berisikkkkkk, aku dipijat karena ingin rileks bukan malah bikin aku stres, ini kali ya pijat ++ itu…plus gosip ” Teriak Raisya, sayangnya teriakannya hanya di dalam hati saja.

Mba Tuti masih ngoceh panjang pendek, tentang langganannya sampai tetangga di kampungnya yang juga di kutuk penyakit kanker lalu meninggal. Sampai komentar tentang sendi di bahu Raisya yang terlihat bengkak sebelah. Raisya memejamkan matanya,  berharap sesi pijat ini segera berakhir dan berfikir siapa kira-kira alternatif tukang pijat yang lain.

————————————————————————————————-

Setelah pijat dan mandi tubuhnya lebih rileks, dia meraih smartphone nya yang terabaikan sejak tadi.

” Opsss, aku hampir lupa….” teriaknya kecil, menekan tanda panggil setelah sebelumnya membaca pesan pendek di Hpnya.

” Siang sus,…  Maaf aku baru baca pesannya, makasih udh diingatkan. Jadwalku minggu depan saja ya sus, banyak acara minggu ini. Oke, besok aku ketemu dokter internistku dulu. Sip…makasih ya sus, iya…aku gak mungkin lupa jadwal khemotheraphy ku ” ucap Raisya  sambil menutup Hpnya.

# 589 word

Advertisements