Cerai

cerai

Credit

Bunda,…
Mengapa wajahmu sendu
jejak air mata membayang pilu,
kesedihan jelas terlukis disorot mata sepimu.

Bunda,…
Mengapa ayah pergi bergegas ?
dia tampak berkemas
dan bunda tak mencegah,
membiarkan segala lepas.

Bunda,…
Apakah aku dan adik membuatmu lemah ?
mengapa diam bunda,…
ucapkan apa saja,
jika ayah tak kembali,
apakah kau juga akan pergi ????

Halimun pada hati kekasih

hatiygkehilangan

Credit

Maya :

Mendadak langkahku terhenti, perasaan ragu membuatku hendak berbalik ke arah parkiran menuju mobil lalu pulang. Perasaanku bimbang, benarkah keputusanku untuk menemui Gielang. Apakah aku tidak akan membuat segalanya menjadi lebih rumit ? bagaimana jika keputusanku kali ini salah ?

Tapi apakah aku tega melihat sahabatku seperti ini ? membiarkannya terpuruk, menderita dan dipersalahkan . Aku putuskan berbalik ke arah Mall, dimana aku membuat janji bertemu dengan Gielang.

Aku masuki sebuah cafe coffee yang ada di mall ini, mataku menyapu sekeliling cafe dan melihat Gielang sudah menunggu di sebuah sudut.Aku menghampiri pria berperawakan tinggi dan tampan ini, Gielang berdiri dari duduknya saat aku mendekat.

” Sudah lama menunggu Gie ? ” Tanyaku sopan dan merasa bersalah, jangan-jangan dia sudah lama menunggu disini karena keragu-raguanku tadi.

Gielang tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

” Duduklah May,…mau pesan apa ? coffee atau juice ? ”

Aku menyebut coffee dan kami sudah duduk berhadapan, entah dimana aku harus memulainya. Dan sepertinya Gielang menangkap kebingunganku.

” Ada apa May ? di telfon kamu bilang ada yang harus kita bicarakan ” Tanya Gielang to the point.

Aku diam-diam memperhatikan sosoknya, matanya tajam dengan hidung yang sangat tinggi. Benar, matanya sangat indah seperti yang kamu bilang kei dan itu aku tahu. Dan bibirnya,…aku masih ingat dengan jelas bagaimana kamu mendeskripsikan ciuman pria ini. Hangat, lembut namun menghadirkan badai di hatimu, juga dihatiku saat kamu menceritakannya. Kei,…aku menangkap sinar kehilangan dan kesedihan dimatanya saat ini. Aku menghela nafas, membuang sesak yang sesaat hadir. Sesungguhnya kamu beruntung kei, atau bahkan tidak ?? karena akhirnya aku dan kamu sama-sama kehilangan lelaki ini.

” Aku harus menunggu berapa lama supaya kamu bicara May ? ” Suaranya membuat bayangan keira mendadak lenyap.

” Oh, maaf… ”

” Ada apa ? aku harap ini tidak ada kaitannya dengan Keira ”

Aku kaget mendengar ucapannya, tapi aku tahu aku harus membuat lelaki ini mengerti tentang kamu Kei.

” Maaf, tapi ini tentang Keira… kamu akan menyesal jika tidak mendengar ucapanku. Keira tidak pernah pergi,…dia selalu untukmu Gie “

Wajah Gielang tetap dingin, tanpa ekspresi sama sekali. Dan ini membuat jantungku berdenyut nyeri.

” Sudahlah may,…kenyataan aku kembali ke Indonesia dan memenuhi janjiku untuk dia. Menempuh pendidikan di negri orang untuk mewujudkan impian kami, rela berjauhan dengan keluarga yang aku kasihi dan juga dari dia selama dua tahun. Lalu saat aku kembali, dia sudah bertunangan dan menolak meski sekedar menemuiku. Plisss, May… jangan buat aku juga membencimu ”

Aku menatapnya tajam, andai kamu tahu gie. Andai kamu tahu…

” Kalau kamu tidak ingin mendengar, setidaknya lihat… ini alamatnya. Aku membantumu supaya kamu tidak akan menyesalinya seumur hidup. “

Aku meletakan secarik alamat di meja, lalu berdiri dan berniat pergi.

” Mengapa kamu perduli, May.. ? kita tahu bahwa bukankah Keira yang membuat harapanmu padaku tidak terwujud. Karena aku justru memilihnya dibanding memilihmu ? “

Kalimatnya barusan membuka luka lama yang sesungguhnya tidak pernah kering. Aku menatapnya tajam.

” Benar Gie,… kalian yang mematahkan hatiku. Aku jatuh hati padamu sejak awal, aku perkenalkan kamu pada sahabatku dan kamu jatuh cinta padanya. Tapi apa itu salahnya ? tidak… karena Keira bahkan tidak pernah tahu, bahwa aku sudah jatuh cinta padamu sejak sebelum kalian kenal. ”

Air mataku merebak, dan tumpah.

” Ini salahmu, mengapa tidak jatuh cinta padaku ? lalu aku kenalkan kamu sebagai kekasihku padanya. Dan aku yakin Keira tidak akan jatuh cinta padamu. Temui dia… sebelum kamu menyesal ”

Aku meninggalkan Cafe coffee dengan hati sakit, Kei… jangan lepaskan dia. Dia mencintaimu. Hukum dia untuk selamanya hidup bersamamu. Bisikku penuh kesedihan.

Gielang :

Ruang tamu ini pernah aku kunjungi bertahun yang lalu, ruang tamu dari sebuah rumah megah namun klasik. Rumah yang berdiri diatas tanah luas berpunggung bukit ini sangat sejuk dan dingin. Dingin dalam arti sebenarnya, juga dingin yang sunyi. Ini adalah kediaman Kakek dan Nenek Keira.

” Kelak aku ingin kita tinggal dirumah dengan halaman yang juga luas seperti rumah ini Gie,…”

Bisikmu saat itu , jemarimu tergenggam ditanganku. Kita berjalan mengelilingi halaman rumah ini. Sesekali kamu berlari kecil, tersenyum dan membiarkan kakimu menyentuh rumput dan tanah. Aku teramat sangat jatuh cinta, jatuh cinta pada pandangan pertama padamu.

Saat pertama kali sahabatku mengenalkanmu disuatu sore, mata jernihmu dan senyum menggemaskan yang membentuk lekukan kecil dikedua pipimu itu menghadirkan desiran aneh dihatiku.

Belum pernah aku melihat wajah seteduh langit hujan, tapi bermata seteguh karang-karang.

” Bagaimana kalau aku hanya mampu membelikanmu rumah kecil, Kei… ? apa kamu tetap  mencintai aku ? ”

” Dasar bodoh, aku menginginkan rumah dengan halaman luas yang di dalamnya ada kamu. Jika aku mendapatkan rumah besar seperti yang kuinginkan, tapi kamu tak ada disana, itu tidak akan menjadi mauku lagi… ”

Bisikmu saat itu, kini kalimat itu melukaiku Kei. Ketika perlahan namun pasti surat-suratku mulai jarang kamu balas. Hingga akhirnya kamu balas dengan permintaan maaf karena kamu jatuh cinta dan bertunangan dengan pria lain.

” Mas ini siapa ya ? ”

Tanya seorang bibi yang menghampiriku seolah mengingat-ingat sesuatu.

” Aku sahabat dari Keira, apa dia ada ? dan di mana eyang uti  ? “

Tampak wajah wanita berusia sekitar 45 tahunan ini terkejut, wanita ini pasti kerabat dari Keira yang mengurus rumah ini.

” Eyang uti sudah meninggal setahun lalu, dan Mba keira sudah kembali ke Bandung ke rumah orang tuanya “

Eyang uti sudah berpulang, wanita sepuh yang baik hati itu sudah menghadap Yang Khalik. Semoga Eyang tenang di sana, doaku dalam hati. Aku meninggalkan rumah besar itu dengan harapan yang patah, alangkah bodohnya aku mengikuti saran dari Maya untuk mencarimu. Hampir satu tahun ketika terakhir suratmu datang. Lalu pembicaraan penuh emosi di telfon, permintaanmu yang tidak lagi ingin melihatku.

Dan hari-hari penuh kemarahan yang aku jalani selama ini, perpustakaan hingga tempat hiburan di mana aku melebur rasa sakit hatiku untuk melupakanmu. Sekian pertanyaan yang slalu tak pernah kudapatkan jawabannya. Perjalanan kita begitu indah Kei, meski kadang hadir kerikil kecil saat aku cemburu melihat betapa begitu banyak lelaki lain yang ingin dekat denganmu. Atau kecerobohanku yang kadang membuatmu kesal. Kita slalu bisa mengatasinya, aku terlalu mencintaimu dan kamu yang begitu mendalam mengasihi aku.

Keputusanku menerima beasiswa di salah satu Universitas di Australia adalah doa dan harapan-harapan kita. Betapa kamu melonjak kegirangan saat kabar itu kusampaikan. Dan keberangkatanku menuntut ilmu menjadi saat terakhir aku melihatmu. Kamu tidak sabar meski hanya untuk dua tahun menungguku, kamu tidak setia Keira.

Kebodohanku adalah mendengar ucapan Maya, wanita yang kukenal jauh sebelum aku mengenalmu. Teman baikku, setidaknya itulah yang aku rasakan padanya. Aku menunda keberangkatanku kembali ke Australia dan menerima tawaran pekerjaan dan menetap di sana . beberapa bulan di negri ini membuatku frustasi. Berkali-kali melewati bangunan rumah orang tuamu di Bandung, rumah itu seolah tidak berpenghuni. Entah dimana kamu saat ini Kei, dan aku bodoh jika terus mengejarmu. Sedang isis suratmu begitu jelas tentang sebuah pertunangan.

Kedatanganku ke alamat yang diberikan Maya adalah pencarianku yang terakhir, dan aku menyerah Kei. Sampai detik ini aku masih mencintaimu, sangat mencintaimu. Entah bagaimana mengatasi rasa kehilangan yang tak kunjung terobati. Dan ijin yang aku dapat dari orang tuaku untuk kembali ke Australia dan menetap disana adalah jawabannya. Aku tidak mungkin melupakan rasa cintaku yang sedemikian dalam, begitu juga melupakan betapa kamu sudah menghianati cinta kita.

” Selama tinggal, Kei… selamat tinggal cinta terbesar dalam hidupku “

Bisikku perlahan, menatap terakhir kali ke arah bagunan rumah besar berpunggung bukti ini. Menyalakan mesin mobilku dan pergi…

Keira :

Aku merangkak keluar dari kamar mandi setelah sebelumnya berusaha berteriak memanggil ayah dan ibuku. Tapi aku tahu suaraku yang gemetar tak akan cukup membangunkan mereka yang sedang terlelap. Saat itu dini hari, aku merasakan perutku sakit luar biasa. Ini bukan yang pertama kali, ini rasa sakit yang kesekian kali hilang dan timbul. Terkadang tanpa aku tahu apa sebabnya.

Tapi malam ini rasa sakit nya lebih hebat dari sebelum-sebelumnya. Tubuhku berkeringat tapi dingin dan gemetar, kepalaku sakit ditambah perut mual dan  muntah. Maka pagi itu, Mama menemukan aku tergeletak di lantai kamar mandi dengan tubuh basah oleh keringat, wajah pucat dan darah yang mengalir melewati pangkal kakiku.

Aku terbangun di sebuah kamar Rumah sakit keesokan harinya, dengan dua jarum yang menancap di kedua tanganku. Tubuh sakit dan perut yang mual. Aku menatap sekeliling kamar, di sebuah sofa mama terlihat tidur dan tampak sangat kelelahan. Kepalanya menelungkup pada sandaran tangan sofa berwarna coklat itu. Betapa aku slalu saja membuatnya khawatir dan cemas. Aku benar-benar anak yang tidak baik, kapankah Kei bisa membalas dan membahagiakanmu mah. Ucapku sedih di dalam hati.

Seorang suster memasuki kamar, seragam oranye mudanya terlihat kontras di kulitnya yang putih.

” Selamat pagi, mba Keira… gimana, sudah lebih enakan ? apa yang di rasa pagi ini ? ” tanya suster itu ramah sembari mengukur tensi darahku, menyelipkan termometer di ketiak kiriku.

Aku mencoba tersenyum dan aku yakin senyumanku akan tampak seperti seringai yang tidak enak di pandang.

” Selamat pagi juga Suster,… perut depan hingga punggung belakangku masih nyeri Sus. “

Suster itu menatapku sekilas, sebelum akhirnya melihat suhu di termometer.

” Suhu tubuh mba Kei normal,nanti kita sampaikan ke Dokter saat beliau visit ya mba. Mba coba untuk sarapan dulu ya,… sebentar lagi sarapannya diantarkan ”

Aku menganggukan kepalaku, tampak mama sudah terbangun dan menghampiri suster yang menuju pintu keluar kamar. Entah apa yang mereka bicarakan.

Lalu test satu demi satu kujalani, pemeriksaan yang biasa saja , menyakitkan sampai sangat menyakitkan. Ini bukan yang pertama kali aku menginap di sebuah RS. Aku harap kali ini aku menemukan jawabannya, apa yang membuat tubuhku sering merasa nyeri, seringkali pingsan, dan tubuhku kehilangan berat badan juga pucat.

” Hasil biopsi dari jaringan yang kita ambil dari pemeriksaan Kolonoskopi adalah Cancer Colon stadium 3 , Kei… dan ini bukan kabar baik. Kamu harus secepatnya di operasi. Ususmu sudah tersumbat, tumor ganas itu sudah menutup ususmu hingga tidak ada makanan yang bisa masuk. itulah sebabnya kamu sering merasa kesakitan ”

Mama mulai terisak, papa memalingkan wajahnya yang hampir memerah menahan air mata.

” Kami terkecoh Kei,… Usiamu masih sangat muda, 20 tahun dan cancer ini biasanya diderita oleh mereka yang berada diatas 40 tahun. Aku harap kita bisa berjuang, mengikuti saran dokter dan berdoa ”

Aku melihat bibir dokter itu bergerak-gerak, matanya, dan lalu tangannya mengenggam jemariku. Menepuk punggung tanganku, menguatkan. Suara disekelilingku tampak lenyap, aku bahkan tidak mendengar suaraku sendiri. Anehnya aku tidak menangis, mama memelukku dan aku memeluknya dengan rasa hampa. Engkau menghianatiku, Tuhan… bukan kanker yang aku inginkan!

Waktu berjalan cepat, tiga bulan sejak vonis itu. Setelah operasiku yang pertama lalu yang kedua. Musim apa di sana Gie…? aku merindukanmu, sangat.

Lalu tiba dimana hari-hari menjadi  sangat lambat berjalan. Chemotheraphy yang melelahkan. Ruangan isolasi dan segala macam penderitaannya, diare juga nyeri sendi yang membuatku semakin sulit membalas surat-suratmu.

Aku tidak setia Gie, aku sibuk mengasihani diriku sendiri meski sakit ditubuhku tapi aku lega karena tidak harus membaginya padamu. Maaf,…tapi kamu terlalu rupawan untuk seorang gadis yang kini berkepala gundul. Kamu terlalu baik untuk menemaniku melewati hari-hari yang membosankan di rumah sakit. Dulu kamu pernah bilang, bahwa kulitku adalah halusinasimu yang terhebat. Saat aku menyentuhmu, saat kamu mengenggam jemariku. Bahkan kini halusinasimu menjadi kusam dan menghitam Gie. Kamu terlalu pintar hanya untuk mencemaskan aku, sedangkan beasiswamu sangat penting. Gie,… aku tidak setia. Aku meninggalkanmu,…karena aku hidup bersama Kanker.

Hampir satu tahun sejak aku meninggalkanmu, kondisiku seperti roller coaster. Kadang membaik, kadang terkurung diruang chemotheraphy. Tubuhku ceking dan tulang-tulang di sendi bahuku juga bergeser. Kanker dan Autoimun yang menambah permainan hidupku semakin menarik. Meski nyatanya aku tidak mudah dikalahkan, bertahan dan bertahan.

” Maaf  Kei,..aku bertemu Gielang dua hari yang lalu. Dia sudah kembali ke Indonesia, entah kapan tepatnya. Aku memberitahu dimana kamu saat ini, Plisss Kei. Setidaknya jangan buat dia membencimu. Ini tidak adil,…jangan salah artikan sikapku. Aku menyayangimu “

Pesan Maya membuat dadaku berdetak demikian cepat, bagaimana mungkin dia melanggar janjinya selama ini. Hanya karena dia mengunjungiku yang terakhir dan melihat kondisiku. Apa dia fikir aku akan mati.

*********

Disinilah aku Gie,…menatapmu dari balik tirai jendela. Mataku memanas, ada gelombang pasang di dadaku saat ini, menatapmu yang sedemikian dekat. Berjalan turun dari mobil yang terparkir didepan rumah. Jeans biru dengan t-shirt putih dan sepatu kets favoritemu. Usiamu baru 23 tahun, mengapa kamu menjadi begitu tinggi dan tampak sangat mempesona.

Bibi yang mengurus rumah ini yang aku minta menemuimu, untunglah mama dan papaku sedang melihat kondisi rumah kami di Bandung . Hingga aku tidak perlu memberi penjelasan mengapa aku melakukan ini padamu.

Aku melihatmu duduk diruang tamu, lalu berkeliling di halaman. Disetiap jengkal taman itu ada aku, Gie. Bunga-bunga mawar putih di sudut pagar sebelah kanan yang kamu pandangi itu adalah bunga favoriteku.

Kamu terduduk di bangku taman samping, dengan susah payah aku mengikutimu dari balik jendela di dalam rumah. Kamu menangis Gie,…untukku ? maafkan aku… tidak mungkin aku merusak masa depanmu yang begitu cemerlang. Hampir setengah jam kamu berada di rumah ini, meski tak bicara hanya diam dan menatap berkeliling. Mungkinkah kamu mencari bayanganku disini Gie ? atau merasakan bahwa sesungguhnya aku berada dekat disini.

Bolehkah aku egois, Tuhan ? bolehkah aku keluar dan menemuinya ? lalu mengikat hatinya yang memang untukku. Memintanya menemaniku sepanjang hidup seperti mimpi-mimpi kami selama ini. Aku menghapus air mataku, dengan sekuat tenaga aku membuka pintu kamar, melewati ruang keluarga menuju kekasihku yang berdiri diujung pagar menatap bangunan rumah ini dengan pandangan sedih.

” Tunggu aku, Gie…. aku disini, aku disini… tidak pernah ada cinta yang lain. Tidak pernah ada pertunangan seperti isi suratku yang terakhir ”

Air mataku kian deras, tanganku terlalu lemah untuk mencegahmu memasuki mobil. Gerakanku terlalu pelan untuk melewati ruang tamu, turun ke halaman dan mengejarmu. Bahkan suaraku tercekat tertelan angin diberanda. Bibi Inah tergopoh datang membantuku membuka pintu, dengan mata yang memerah.

Mobilmu perlahan bergerak, kamu tidak menoleh lagi Gie… meninggalkan aku di teras rumah dengan air mata mengalir diatas sebuah kursi roda.

Di kaki langit Madinah

senjadiMadinah

Credit

Aku melonjak riang, entah riang yang samar kuartikan bermakna apa. Ketika Massenger ku berbunyi dan pesan pendek terbaca disana.

” Disini jam 1.45 , aku baru kembali dari mesjid. kamu tahu Nay ? hotel tempatku menginap tepat di belakang mesjid Nabawi. Langit senja disini indah meski tidak seteduh langit senja di kota kita. Aku rindu padamu…. “

Tanpa sadar aku tersenyum, senyum yang tersungging begitu saja. Senyum yang mendadak aku sadari dan membuatku malu. Senyum yang langsung membuatku menahan nafas.

” Kelak aku ingin memperlihatkan langit senja di kaki langit Madinah untukmu ” Pesanmu kembali ku baca, lalu pesan balasan kukirimkan.

” Apakah dalam doa-doamu ada namaku ? ”  terlambat untuk menyadari dan berfikir waras, pesan itu sudah terkirim padamu.

” Ya, semua kebaikan, keberkahan dan kebahagiaan untukmu Nay. Aku berdoa untuk kita, apa yang paling baik untuk kita. Untuk rasa sayangku padamu begitu juga sebaliknya “

Pesan balasanmu kuterima, entah aku harus menjawab apa.Katamu ini bukan semata tentang rasa suka dan kekaguman dalam hitungan bulan. Tapi sejak 16 tahun lalu, sejak diam-diam kau menatap bangunan rumahku. Tentang berulang kali kau datang lalu pergi, meyakinkan hati bahwa masih ada cara untuk kita bersama. Mengetuk keteguhan hati, lalu akhirnya sia-sia.

Dilangit Madinah mana saat ini kau bermunajat ? dengan hati seperti apa kau meminta sesuatu yang bisa saja berbanding lurus dengan ketetapanNYA. Aku ingat air mata kita dulu, betapa kini aku begitu tak berdaya.

” Fokuslah beribadah,… lupakan semua hal disini. Panjatkan semua doa dan serahkan segalanya kepada Allah. Bahkan jika kelak kau kembali ke sini, lalu ketetapan hatimu menuntunmu menjauh dariku, menegaskan semua hal yang selama ini samar antara kita. Aku akan berbahagia untukmu,Bayu… ”

Pesanku terkirim, dan terbaca… lalu balasanmu

” Iya,…aku akan fokus beribadah, tapi aku akan merindukanmu dan saat aku kembali kita akan bersama dan mencari yang terbaik untuk kita. Aku pernah mencoba,…dan kita tidak bisa Nay ”

Malam semakin larut, pesan terakhirmu hari ini kubaca berulang kali. Mendadak aku ingin menangis. Entah apa yang begitu menyesak di dadaku, entah apa yang begitu menekan pada ulu hatiku hingga membuat dadaku terasa berat. Rasa bersalah atau rindu ??

Lima hari lagi kamu akan datang, siang ini aku mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan. Aku ingin membeli sebuah gaun cantik dan mungkin dengan selendang warna favoritemu untuk aku kenakan saat kita bertemu beberapa hari lagi.

Tubuhku mendadak dingin, suasana di mall yang riuh rendah mendadak menjadi begitu hening. Entah dari mana datangnya. Aku mencoba tersenyum pada gadis kecil berusia 7 tahun yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku, tidak jauh dari tempat gadis kecil yang cantik itu berdiri seorang wanita  sebaya denganku menatap dengan tatapan tajam.

” Tante,… aku Nadine, aku mohon jangan ambil papaku tante. Aku tahu papa sayang sama tante, tapi kalau papa dan mama berpisah aku akan sedih ”

Wanita yang berdiri tidak jauh dari gadis kecil itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya wajahnya tampak berawan. Mendadak aku ingin bumi menelanku hidup-hidup. Tiba-tiba kejadian demi kejadian perjalanan dan pencarian Bayu menemukan aku melintas silih berganti dengan bayangan Nadine dan ibunya. Bayu bahkan sudah menemukan aku berpuluh tahun sebelum menemukan wanita yang kini berdiri dihadapanku menyandang namanya. Aku limbung, kuberanikan diri melangkah dan mendekati gadis kecil ini. Dikedua matanya, aku melihat bayangan Bayu dengan begitu jelas. Aku berjalan mendekat dan berjongkok dihadapannya, matanya sendu dan terus menerus menatapku.

Aku tersenyum dan mencoba mengenggam dan menyentuh jemarinya, lalu berbisik perlahan. Berharap mampu menghilangkan kekhawatiran di matanya.

Jangan khawatir sayang,… papa tidak akan kemana-mana. Selamanya papa akan bersama Nadine dan mama di rumah yah. Papamu tidak akan kemana-mana sayang…. “

Gadis kecil itu menatapku, bibirnya bergerak seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar.

Bagaimana kalau papa mencari tante , dan ingin tinggal bersama tante Nay? ”

Mendadak mataku memanas, perlahan aku sentuh pipi gadis kecil ini.

” Nadine jangan khawatir, tante akan bilang sama papa supaya gak mencari tante lagi…. ”

Aku terdiam, menatap keduanya yang melangkah menjauhiku. Niatku untuk berbelanja mendadak hilang entah kemana. Aku ambil smartphone ku, sebuah suara menjawab telponku dengan nada riang.

” Halo Nay,… tumben menelponku di hari minggu ” Suara Anita, salah satu manager di perusahaan tempatku bekerja tampak heran.

” Maaf Bu,… apa tawaran untukku menempati kantor cabang perusahaan kita yang baru di kota Surabaya masih berlaku ? ”  Ucapku dengan suara tertahan.

Aku menghela nafas lega mendengar jawaban disebrang telpon,… selamat tinggal Bayu, mungkin sebaiknya aku yang pergi.

_________________________________

Tiga tahun berlalu,….

” Nay,… ayo cepat kesini…

Aku buru-buru menyimpan mukena di ranjang, dan segera mendekati Bayu yang sedang berdiri memandang keluar jendela.

” Ada apa ?,… “  Tanyaku penasaran mengikuti arah pandangan matanya menatap keluar jendela. Pria itu menarik tanganku, menggenggamnya. lalu,… ” Lihat, Nay… ”  Jemarinya menunjuk ke arah lengkung langit di luar jendela, sinar keemasan perlahan surut ke balik perut bumi dengan mengendap-endap. Menyisakan lembayung berwarna jingga yang berpendar di angkasa. Indah….

Lalu keharuan menyelinap di rongga dadaku, mataku enggan berkedip. Tangan Bayu masih menunjuk ke arah langit sembari memelukku. Kami masih terus berdiri menatap keluar jendela. Memandang senja dengan lembayung jingganya yang terhampar begitu indah di kaki langit Madinah.

” Keindahan langit senja bukan di mana kaki kita berpijak Bay, tapi di mana ada kamu disana…”

[BeraniCerita#2] Sekali ini saja

buketbunga

Credit

Malam ini aku gelisah, lampu tidur yang redup tak juga membuat mataku terpejam. Gaun pengantin putih, dan buket bunga cantik terlihat di sudut kamar, seperti dunia segiempat yang akan aku masuki bersama Bayu besok pagi.

Aku gemetar menekan angka di smartphoneku,  aku ingin melakukannya karena cinta.

” Aku tunggu di kamarku, Roy…. malam ini, aku ingin yang pertama denganmu ” Lalu dadaku berdebar menunggu kakak angkatku memasuki kamar.

# 83 Words

” Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway Bercerita.com   yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma

[BeraniCerita#1] Jalan Berkabut

Jalanberkabut

Credit

Aku masuki pekarangan rumah dengan arsitektur klasik namun tampak megah ini dengan langkah tertahan. Apa yang harus aku katakan pada Bagas ? Satu bulan aku menghindarinya dengan sejuta alasan.

Mbok Nem  berdiri dihadapanku dengan senyumnya yang ramah dan mempersilahkanku  masuk.

” Silahkan langsung masuk saja ke dalam mba Rara, mas Bagas ada di ruang baca sudah menunggu loh. Oh iya… sudah lama ya mba Rara ndak main ke sini. ” Ucap mbok Nem membuatku semakin merasa tidak enak hati. Aku mengikutinya dari belakang, sementara mbok Nem bercerita panjang lebar. Tentang kecelakaan itu, tentang Bagas yang berubah menjadi pendiam dan tak pernah lagi memainkan piano atau melukis seperti yang biasanya dia lakukan.

” Mas Bagas hanya mengurung diri di dalam kamar, tapi seminggu ini dia sudah lebih baik. Tadi pagi bahkan dia berjemur di halaman belakang dan bercanda-canda dengan si Maman sopir pribadinya “.

Mulutku terkunci, mataku memanas…. ingatanku kembali ke sebuah ruangan RS tiga bulan lalu.

Aku berdiri di sudut kamar perawatan saat itu, ketika menyaksikan kekasihku yang begitu tampan dan pintar mendadak menjadi sosok yang berbeda dalam sekejap.

Senyum dan sinar matanya masih indah, ucapan dan kedewasaannya selalu membuatku nyaman setiap disampingnya. Tapi hari itu Bagas-ku tercinta mendadak tidak aku kenali lagi. Dan air mataku mengalir paling deras sore itu.

Dan hari ini  ” Masuklah Ra,…sini ” Ucapnya perlahan sembari menatapku dengan senyum manisnya. Tangannya menggapaiku, perlahan aku raih tangannya dan bersimpuh dihadapannya.

” Apa kabar Mas ? ” tanyaku pelan sembari menatap matanya, mencari debaran dihatiku dan bayanganku dimatanya. Tatapannya masih sehangat dulu, masih dengan jelas kulihat cinta disana. Bagas tersenyum lalu lengannya mengucek rambutku seperti kebiasaannya selama ini.

” Apa kabar gadis kecilku ? kamu mengabaikan aku ya… bagaimana kesibukan dan hari-harimu di kampus? ” tanya Bagas menggodaku.

Aku menatapnya, maafkan aku Bagas batinku berbisik sedih. Pelan ada yang perih disana, menyadari aku sudah menyakitinya.

” Aku baik,…. maafkan aku mas…” bisikku pelan.

Bagas tersenyum, menggenggam jemariku lalu berkata pelan  ” Tak apa sayang, apa yang membuatmu bahagia, itu juga kebahagiaanku. ”

” Jadi siapa dia,.. ? siapa cowok keren yang berhasil mencuri hati kekasihku ? ” tanyanya lembut dan riang, meski matanya tidak bisa menyembunyikan kehancuran hatinya.  ” Siapa dia ? ” tanyanya mengulang.

” Namanya Ariel, dia temanku di kampus. Kami beda fakultas…. dia baik, pintar dan mencintai aku ” bisikku perlahan.

” Tentu dia baik, jika tidak mana mungkin Raraku jatuh cinta padanya. Meski aku yakin, pasti gak setampan aku kan ? ” ucapnya tersenyum sembari mengerlingkan matanya menggodaku.

Bagas memelukku untuk terakhir kalinya sambil berbisik  ” Aku mengerti sayang, aku mohon jangan merasa bersalah ya. Kenangan indah kita selama dua tahun akan selalu aku ingat ”

Langit beranjak senja ketika aku memutuskan untuk pamit, Bagas mengantarku hingga beranda rumahnya yang luas.

                                                      **************

Mama, papa…..

Mohon maafkan Bagas, rasanya berat menjalani ini.

Kalian tahu betapa aku tidak mudah menyerah, tapi

kali ini aku sungguh tidak sanggup.

Aku pergi dengan harapan kalian memaafkan aku,

sampaikan salamku untuk Rara…

~ Bagas~

Selembar surat ditemukan di kamar Bagas esok paginya, disamping jasadnya yang tergolek diatas kursi roda dengan kedua kaki yang teramputasi sebatas pangkal pahanya.

#489 Words

 

” Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway Bercerita.com   yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma