#Fiction: ” Cinta yang menitipkan embun di mataku “

Pria dengan perawakan sedang berbaju koko putih itu berdiri diteras rumahku, aku diam-diam memandangnya dari balik tirai jendela kamar sebelum meminta pembantu rumah mempersilahkannya masuk. Pria bermata teduh itu bernama Arif.

” aku siska,… ” ucapku sembari mengulurkan tangan, pria berusia 32 tahun itu tersenyum sembari menaruh kedua tangannya di dada.

” maaf, aku punya wudhu. bisa kita mulai pelajaran mengajinya mba siska…? ” kalimatnya tenang, mendadak aku yang tidak tenang. Mengaji,…? huffttt entah sudah bertahun-tahun yang lalu tulisan arab itu terakhir aku baca.

Seperti itu aku mengenalmu,… seorang sarjana agama yang juga seorang dosen di perguruan tinggi islam. Dan aku, mahasiswi droup out universitas swasta salah satu kota besar yang baru keluar dari panti rehabilitasi narkoba berusia 21 tahun.

” aku ingin menikahimu, siska… kita akan sama-sama menjalani hidup dalam suka dan duka berdua. aku sungguh mencintaimu… ”

Lamaran itu sungguh-sungguh dia ucapkan di hari ke 298 sejak pertama dia datang ke rumah ini, menjadi guru mengajiku. Dan hari ketiga aku mulai berhijab.

Aku melipat surat yang kutulis semalaman dengan rasa sedih yang mendalam. Didetik pertama aku menatapnya di balik jendela aku jatuh cinta… kian dalam seiring aku semakin mengenalnya, tidak ada keraguan pada ketulusannya.

Assalamuallaikum, …

Ini suratku yang pertama dan terakhir, maafkan aku karena harus melakukan ini. Aku tidak bisa menerima lamaran cintamu, bukan karena kekuranganmu atau karena alasan lain selain aku sudah memiliki tunangan di kota tempat orang tuaku berada, dan aku mencintainya. Lusa aku kembali ke rumah orang tuaku dan meninggalkan kota ini, kota dimana nenek dan kakekku tinggal dan kamu berada.

Selamat tinggal, oh iya karena aku harus kembali segera aku tidak bisa berpamitan padamu. terima kasih untuk semuanya…

~ wassalam~

Siska permata

Arif meremas surat digenggamannya, perlahan air matanya mengalir.. ia jatuh cinta pada wanita yang tekun belajar dan memperbaiki diri itu. Dan kini hatinya remuk redam.

Siska menatap barisan pohon jati dari balik jendela kereta api yang akan membawanya kembali pulang ke kota dimana orang tuanya berada.

” aku mencintaimu,… tapi HIV ini memberi batas tegas untuk kita ”

Siska memejamkan mata,… berharap waktu berlalu cepat, menerbangkan kesedihan dan luka hati yang kian terbuka.

slalu

Image From Google

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

4 Comments

  1. bagus ceritanya…

    Reply
  2. hana sugiharti

     /  February 3, 2013

    kerennn ceritanya sedihhh

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: