Tidak ada alasan berhenti bersyukur

Di sebuah taman kota ketika langit  terang dan awan putih melayang selembut kapas. Barisan bangku taman yang berbentuk melingkar. Pepohonan yang merimbun, air mancur , dengan penjual balon, makanan ringan, hingga lalu lalang pejalan kaki.

Yang bergegas atau berjalan lambat menikmati udara dan pemandangan sekitar. Aku diantara rimbun pohon bunga flamboyan yang kuncupnya baru saja bermekaran. Di sebuah bangku tak jauh tempatku menikmati keindahan hari ini, aku menyimak dan memandang.

” bagaimana kabar dokter Anthony… ? minggu lalu saat menghubunginya, susternya bilang beliau sedang seminar di luar ”  wanita usia 30 tahunan berparas manis itu bertanya sembari membuka bekal sarapan paginya.

” sudah kembali, kemarin kami baru saja dating di ruangannya. nih… ” wanita berselendang jingga itu menunjukan bekas tusukan jarum yang meninggalkan bekas lebam disepanjang lengannya.

” syukurlah, obat-obatanku habis, ada nyeri di pinggul dan tumitku. TBC tulang ini gak asik banget buat wanita sibuk sepertiku…”

Meski kalimatnya seperti keluhan keduanya justru berwajah secerah pagi hari, bahkan akhirnya tergelak berdua.

” gak akan ada yang menyangka, kalau tulang dipinggulmu itu sudah dipotong sebagian untuk menambal punggung yang bengkok mu. Rusuk kirimu juga gak ada dua, kamu punya resleting panjang di sepanjang punggung, dan beberapa bagian lainnya. Pernah lumpuh dan beberapa kali operasi hingga membuatmu seperti frankeinstein di dalam tapi masih petakilan diluar. jangan harap kamu bisa pake highheels atau kebut-kebutan nyetir mobil di jalan tol seperti aku ” selendang jingganya ikut berkibar saat bibirnya tergelak menggoda temannya.

” hahaaa,….dasar menyebalkan ! kamu fikir aku gak tahu…dengan tatto panjang di abdomenmu, ususmu yang lebih pendek 40 cm dari manusia lain pada umumnya, 3 kali operasi , 10 kali chemotheraphy intravena, 3 bulan chemotheraphy oral, 9 kali kolonoskopi dengan jadwal lanjutan, kalau artis sibuk dengan jadwal syuting kamu sibuk ngatur jadwal check up dan kini imunisasi ulang seperti bayi yang baru dilahirkan…hahahaa, nasibmu gak kalah romantis karena selalu punya jadwal kencan dengan RS dan dokter  ” wanita tomboy dengan senyumnya yang menawan itu balik menggoda temannya yang ikut kembali tergelak.

” kamu tahu, kebanyakan penyintas itu pintar menggunakan topeng… mereka pandai menutupi wajah aslinya dengan topi, selendang, wig, make up, senyuman, semangat juga harapan. kamu pilih yang mana De.. kalau aku pilih menutupinya dengan harapan dan, cissss….senyuumm ” si selendang jingga tersenyum menggoda sembari bergaya seolah sedang di foto didepan kamera.

Temannya tergelak,…. dengan penuh keyakinan dia menjawab  ” aku pilih semangat… ”  Lalu mereka tertawa, roti gandum dan juice buah juga dua buku komik jepang anak-anak menemani mereka sejenak menikmati pagi.

Aku jadi ingin tersenyum sepanjang pagi ini, langit menjadi semakin cerah dalam pandanganku. Jika hidup masih begitu indah bagi dua wanita ini, tidak ada alasan bagiku tidak bersyukur dapat terbang dan mengepakkan sayap membelah angkasa. Kutinggalkan nyanyian termerduku untuk dua orang wanita di sebuah bangku taman, lalu terbang…..

” hey,…. lihat De, ada burung gereja yang diam-diam menguping pembicaraan kita  ”

Sekilas aku dengar kalimat terakhirnya sembari menunjuk ke arahku diangkasa…….

bangkutaman

Image From Google

Advertisements

#Fiction: ” Cinta yang menitipkan embun di mataku “

Pria dengan perawakan sedang berbaju koko putih itu berdiri diteras rumahku, aku diam-diam memandangnya dari balik tirai jendela kamar sebelum meminta pembantu rumah mempersilahkannya masuk. Pria bermata teduh itu bernama Arif.

” aku siska,… ” ucapku sembari mengulurkan tangan, pria berusia 32 tahun itu tersenyum sembari menaruh kedua tangannya di dada.

” maaf, aku punya wudhu. bisa kita mulai pelajaran mengajinya mba siska…? ” kalimatnya tenang, mendadak aku yang tidak tenang. Mengaji,…? huffttt entah sudah bertahun-tahun yang lalu tulisan arab itu terakhir aku baca.

Seperti itu aku mengenalmu,… seorang sarjana agama yang juga seorang dosen di perguruan tinggi islam. Dan aku, mahasiswi droup out universitas swasta salah satu kota besar yang baru keluar dari panti rehabilitasi narkoba berusia 21 tahun.

” aku ingin menikahimu, siska… kita akan sama-sama menjalani hidup dalam suka dan duka berdua. aku sungguh mencintaimu… ”

Lamaran itu sungguh-sungguh dia ucapkan di hari ke 298 sejak pertama dia datang ke rumah ini, menjadi guru mengajiku. Dan hari ketiga aku mulai berhijab.

Aku melipat surat yang kutulis semalaman dengan rasa sedih yang mendalam. Didetik pertama aku menatapnya di balik jendela aku jatuh cinta… kian dalam seiring aku semakin mengenalnya, tidak ada keraguan pada ketulusannya.

Assalamuallaikum, …

Ini suratku yang pertama dan terakhir, maafkan aku karena harus melakukan ini. Aku tidak bisa menerima lamaran cintamu, bukan karena kekuranganmu atau karena alasan lain selain aku sudah memiliki tunangan di kota tempat orang tuaku berada, dan aku mencintainya. Lusa aku kembali ke rumah orang tuaku dan meninggalkan kota ini, kota dimana nenek dan kakekku tinggal dan kamu berada.

Selamat tinggal, oh iya karena aku harus kembali segera aku tidak bisa berpamitan padamu. terima kasih untuk semuanya…

~ wassalam~

Siska permata

Arif meremas surat digenggamannya, perlahan air matanya mengalir.. ia jatuh cinta pada wanita yang tekun belajar dan memperbaiki diri itu. Dan kini hatinya remuk redam.

Siska menatap barisan pohon jati dari balik jendela kereta api yang akan membawanya kembali pulang ke kota dimana orang tuanya berada.

” aku mencintaimu,… tapi HIV ini memberi batas tegas untuk kita ”

Siska memejamkan mata,… berharap waktu berlalu cepat, menerbangkan kesedihan dan luka hati yang kian terbuka.

slalu

Image From Google

Ode untuk Senja

” Biografi Senja “
 Sesekali aku adalah hujan, rebah selaksa musim tak kenal zaman
pada bumi yang lebat beruban.
Sesekali aku adalah pujangga, merangkai kata serupa makna
pada sepenggal wajah bernama senja.
Sesekali aku adalah mimpi, berlabuh pada tidur-tidur pagi
menayangkan tragedi atau dramaturgi.
Sesekali aku adalah sunyi, mengalir disepanjang kali
sebelum matahari menyudahi.
Sesekali aku adalah operasi, menamakan diri khemotheraphy
membuat rambutmu tinggal segenggam,sebelum rapi kau tanam
pada sepotong biografi bernama senja.
Purbalingga 2012 ~ Ketika Desember hendak beranjak