Ini bukan tentang senja tapi telaga,…

” Ada cahaya penuh kelembutan di jendela matamu.
Cahaya yang membias kan rindu hingga berserakan tak dapat kuhitung jari..
Cahaya  yang menyadur  aksara menjadi kilauan bintang…” katamu.
Bagaimana bisa aku menjadi roh begitu banyak aksara pada lembar catatan hati dan kanvas lukisanmu.
Sedang aku segaris tipis cahaya jingga pada 16 derajat dibawah cakrawala…
Aku haru biru tentangmu,… pada hening waktu namaku kau dawamkan dalam doa-doa. Aku tergugu dan malu…
Ini bukan tentang keindahan hujan bulan january, ini tentang kesetiaan telaga teduhmu pada langit senja…
Meski aku berlari dan sembunyi,…
kau tetap menatapku dalam, entah tatapan apa ?
tapi begitu dalam hingga mata teduhmu seperti tak berongga.
Jangan imani aku,…
aku hanya bait pada syair yang terputus.
Kau bilang aku seperti candu yang menagih,
katamu tatapanku hanya ada pada belaian embun pada bunga tanjung.
Baiknya kukenakan kerudung merah jambuku,…
yang akan menutup rona merah dikedua pipiku.
Rona ketika aku tertunduk dikedai teh kota suci arafah,
ketika  kubayar penantianmu bertahun-tahun dengan 10 menit 43 detik menatap langit senja tak sekedar dalam bingkai aksara dan kanvas…
Meski hanya 10 menit 43 detik,….
Advertisements
Previous Post
Leave a comment

4 Comments

  1. sipp …..indah ,menyentuh dalam banget mba
    aku suka sekali tulisan mba irma
    selalu lah bergerak dalam alunan nada puisi mu mba…

    Reply
  2. weduh semaki tanpak merona donk dengan kerundung merah jambu

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: