Bayang-bayang dalam temaram

Tidak perlu menjadi kuat untuk menjadi tegar, karena kelembutan telah membutakan matahari.  Berhentilah menanti ku di langit yang berwarna tembaga, aku tidak cukup kuat untuk bertahan tapi terlalu egois untuk menyerah…Pergilah Adam, aku Hawa tidak ingin kau melihat aku lemah dan terbang tak tentu arah.

Dia benar,… Jangan menunggunya, kembalilah pulang bersama bayang-bayang yang disertakan pada malam untuk menjagamu.

Menjauhlah,…  Adam, tidakkah kau lihat hawa mu nyaris binasa terhisap racun-racun.

Rebah pada nasib, jatuh pada kenyataan yang terus menerus melumpuhkan sedikit demi sedikit kekuatannya.

Bahkan cintamu yang seratus enam puluh tahun takkan mampu menahan sang nasib membawanya jauh.

Dia hanya ingin kau kirimkan doa-doa,… menghidupkan kenangan tentangnya saat mentari redup dicakrawala. Karena disana saat kau menemukan hatinya yang temaram.

Pulanglah,… usah menatap kilau matanya, kau selalu menjadi lemah dan tak kuasa jika dia tampak merajuk. Kau slalu gemetar saat wajahnya condong padamu sekian centi , dia suka melihatmu kalah… karena mencintainya.

Bukankah hawa tak selalu bersama adam, tak beriringan…sejak awal dipertemukan untuk kembali dipisahkan.  Hanya hati yang menyatukan… hanya rasa yang mempertemukan.

Kau akan lebih sakit jika disini,… dia slalu mematahkan hati, tidakkah ingin kau sekali saja memunggunginya ? membiarkan sekali saja dia menatap punggungmu yang menjauh… membiarkan sekali saja hatinya terbelah.

Sebelum dia pergi,…sebelum dia meremukkan sendi-sendi cintamu yang menahun. Sebelum dia terbang hilang dicakrawala… lenyap bersama keabadian.

Aku Adam,… mematahkan hatinya ? bagaimana bisa, karena jika dia patah aku yang merasakan sakitnya. Dia tahu…jika dia pergi aku akan tetap datang, tetap diam seperti seratus enam puluh tahun lalu. Bahkan ketika dia tidak mencintaiku, hatiku tetap menyimpan namanya. Bahkan jika dia mati,…raganya binasa, jiwa Hawa kekal selamanya dihati Adam.

* Tidak ada keabadian selain kenangan itu sendiri, tidak juga cinta *

Image From Google

Advertisements
Leave a comment

11 Comments

  1. guratan yang sulit dimengerti sekaligus mudah untuk pahami, langit dengan warna tembaganya memberi kenyamanan, optimis keabadian itu ada.

    Reply
    • Tidak ada keabadian pak,…didunia ini tdk ada yg abadi. kenangan mungkin abadi, tapi jika msh ada ingin membuatnya abadi 🙂

      Wajar saja jika dtk dipahami, hehe…msh belajar pak ^^

      Reply
  2. adrian

     /  October 13, 2012

    hmmm…kenangan indah yang abadi…..
    hingga kini dan nanti aku memiliki kenangan itu…
    bagaimana dengan kamu…?
    gak usah jawab dengan mulut mu, tapi dalam hati mu….

    Reply
    • Sebenanrnya tulisan ini bukan bercerita soal kenangan yg abadi.
      Saya harus byk belajar lagi, karena dari pengomentar tdk ada yg bisa memahami makna tulisan ini 🙂

      Reply
  3. adrian

     /  October 15, 2012

    o ya? tidak ada yg bisa memahami? at least memahami menurut sudut pandang masing2 orang, sudut pandang yg berbeda2 tentunya, kecuali yg diatas kali yah…yg merasa optimis keabadian itu ada 🙂

    Reply
  4. tentu saja menurut penulis,…tdk ada yg menangkap makna yg penulis maksud. ini tiga dialog hati dua orang dan sebuah narasi. Mungkin saya harus byk berlatih lagi….Yang diatas tdk perlu optimis, karena DIA adalah mutlak pembuat keputusan dan segala terhadap semua mahluk dan seisinya.

    Reply
    • adrian

       /  October 17, 2012

      maksud aku yang diatas itu adalah bung Irwan Purwantara yg merasa optimis keabadian itu ada 🙂

      Reply
  5. adrian

     /  October 17, 2012

    ternyata justru irma sang lembayung jingga lah yang tidak menangkap makna apa yang penulis maksud dg “yg diatas”, bukan “DIA (Sang Pencipta Alam Semesta) Yg Diatas”. Peaceee…..hehehe 🙂

    Reply
    • Hemmmm,…..saya jelas gak berfikir kesana. karena yg mengisi kolom komentar biasanya mengomentari tulisannya/ karyanya bukan mengomentari pengomentar lainnya. Piissss jg

      Reply
      • adrian

         /  October 18, 2012

        seperti yg dikatakan penulis diatas tdk ada yg menangkap makna yg penulis maksud. sebenarnya tulisan yg baik itu adalah apabila tulisan tsb dapat dipahami oleh si pembaca, bukan sebaliknya hanya penulis yg paham. Maka dari itu saya sangat sependapat, mungkin lembayung jingga harus byk berlatih lagi menulis utk bisa dipahami si pembaca atau si para pemberi komentar….pisss jg

  6. Adrian: Trima kasih komentarnya….adrian bisa mengunjungi blog2 lain yg lebih baik tulisannya. Ini hny blog pribadi… kdg cukuplah saya mengeluarkan apa yg ingin saya tulis tanpa perlu dipahami org lain….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: