Lelaki bumi dan Langit

 

Didetik pertama engkau melangkahkan kaki dan mengulurkan tangan menggenggam tanganku lalu menyebutkan nama… tidak aku sadari saat itu namamu mengikat jiwaku erat. Sejak saat pertama bertemu,…

Bukan aku jika menjadi rikuh bertemu pandang seorang pria, mungkin karena sinar matamu yang teduh tapi tajam hingga menelanjangi belantara mimpi. Dan wajahmu,… berpadu senyum ramah dan tatapan teduh  perlahan dan diam-diam mengendap di ruang paling pribadi seorang Langit, dan itu aku.

Bersamamu waktu seolah berlari,… seringkali aku berdoa, berhentilah…berhentilah berputar detik dan menit, diamlah.. membekulah ketika dia disampingku. Aku ingin berlama-lama menatap wajahnya, ingin rebah di dada nya dan menyimpan aroma parfumnya diindera penciumanku.  Aku ingin dia terus menggenggam jemariku, lalu dia bawa didadanya… lalu pelan mengecup keningku. Tapi waktu tak kunjung berhenti..

Jika cinta adalah samudera,… aku tidak akan kemarau meski air laut pasang atau surut.

Bagaimana bisa aku membuang sesuatu yang hidup dan menjadi nafas serta alasan aku bertahan, meski cintamu pada bumi serupa mentari yang terus menerus abadi. Sedangkan kasihmu erat memasung hatimu pada janji mati seorang hawa labuan hidup,yang menjadi pijakan… bumi mu.

Begitu juga rasaku padamu,… pernahkah kau menghitung waktu, pernahkah mencoba meraba langit yang selalu berwarna tembaga atau ketika mentari yang surut 16 derajat dicakrawala.  Tidakkah kau merasa bahwa langit itu adalah aku yang selalu tenggelam bersama malam, ketika cintamu padanya menyala laksana cahaya . Kau selalu memiliki aku,… langit yang selalu ikhlas menjadi pagi, siang, atau petang bahkan menjadi malam yang suram saat kau melarung hidup bersamanya.

Itu aku,… yang mencintaimu tanpa alasan dan tidak pernah menemukan alasan untuk lelah dan berhenti membaitkan namamu.

Kadang aku berfikir,… mungkin kau serupa penyihir, pemilik mantra-mantra kuno. Yang begitu mudah memasung utuh sebuah hati, meski hanya dengan memejamkan mata bayangmu menjelma begitu nyata. Aku tidak terluka… hanya merindu beradu rasa kehilangan yang sangat.

Kau bilang,… waktu selalu mampu menyembuhkan, ” sibukkan langitmu lalu aku akan hilang tanpa bekas seperti asap tertiup angin” .  Mungkin kau lupa,… dulu kau terlalu dalam menyisipkan rasa bernama ‘cinta’ di langit senja.  Hingga ketika jingga menjadi jelaga sekalipun… esok, esoknya lagi disetiap langit pelan redup bersama sinar keemasannya ‘cinta’ hadir menjadi keabadian.

Ingin kubakar setiap lembaran puisi kisah biru mu dan aku, kubumi hanguskan.. ku leburkan. lalu bagaimana dengan aku,…?. Sedang bagiku kau dimensi ruang dan waktu,… Bukankah kita pernah menangis bersama, penyair bilang… ” akan mudah terlupa mereka yg pernah tertawa bersama, tp akan abadi dua hati yang meneteskan air mata bersama dan saling menghapus kesedihan ”

Itu aku,…meski katamu dulu, aku pelangi dan langitmu yang terindah.

Seabadi apakah sebuah penantian ? seperti hujan yang setia membiarkan rintiknya mengaliri ladang-ladang, atau para nelayan bersama perahu menanti musim berlayar ? seabadi ingatan tentang dirimu, meski kau dan aku tak lagi berteduh dimusim yang sama.

Entah sampai dimana aku berhenti melukis mu , atau membiarkan kasihmu berdegup satu demi satu seirama nafas jiwaku.

Pernahkah kau mendengar aku memanggilmu ? ” lihat aku… ” aku masih langit yang sama tempat kau meneduh saat kakimu goyah berpijak pada bumi, yang namaku kau tuliskan dalam syair-syair ,  langit yang sama yang dimataku kau mengkristal menjadi doa-doa dalam hening malam.

Tapi kau tak mendengar suaraku memanggilmu, karena bibirku selalu bisu..mencintaimu adalah cukup bagiku.

Bukankah penantian tak memiliki batas kadaluarsa… sampai kau berhenti berpijak pada bumimu meski ini keniscayaan, atau sampai aku menemukan alasan melupakanmu…

Ini penantianku untuk melupakanmu, melupakan lelaki yang sesungguhnya menjadi satu-satunya pemilik langit.

 

Image from here

 

 

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

11 Comments

  1. adrian

     /  October 5, 2012

    good morning…

    Reply
    • Good afternoon adrian….:)

      Reply
      • adrian

         /  October 8, 2012

        Senja itu
        kau datang padaku
        datang bersama
        kasih mesra mu
        Tiada ku duga
        tiada ku sangka
        hati ku juga
        terpikat padamu
        Betapa mesra
        disaat itu
        kasih bersemi
        di senja itu
        tapi kini hanyalah kenangan
        hilang bersama
        malam yang gelap
        Betapa mesra
        disaat itu
        kasih bersemi
        disenja itu
        tapi kini
        hanyalah kenangan
        hilang bersama
        malam yang gelap
        hilang bersama
        malam yang gelap
        *Panbers

        Good morning Irma…moga sehat selalu… 🙂

  2. suka tulisan ini, boleh aku share bu?

    Reply
  3. Boleh pak,…:)
    oh ya, knp suka tulisan ini ? kalo boleh tau….trima ksh apresiasinya ya ^^

    Reply
  4. Irwan

     /  October 7, 2012

    Maksih…!
    Suka pada sosok aku yg dlm tulisan, baik memperlakukan hati.

    Reply
    • Menurutku tokoh aku di cerita diatas, hemmm…. bodoh 😉
      Tapi sering sekali mendengar curhatan teman atau sahabat, bahwa jika cinta sudah mengikat hati semuanya tampak samar kecuali cinta itu sendiri. trima ksh apresiasinya pak 🙂

      Reply
      • “Ini penantianku untuk melupakanmu, melupakan lelaki yang sesungguhnya menjadi satu-satunya pemilik langit.” kalimat terakhir ini yg tampak bodoh menurut ku. guratan senja memiliki hati, t’kasih kembali;)

  5. sebuah pergulatan antara perasaan dengan logika……

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: