Puisi, pagi dan setangkup roti

Pagi kesekian ketika berandaku begitu sunyi,

bahkan udara terasa berbeda.

Tidak berwarna nyaris tanpa suara,

lengang dan tak ada sesiapa.

Ini kotak mungil ku dan beranda kita,

meskiĀ  hening sekian lama lalu ku terbiasa.

Puisi kesekian tentang rasa dan fatamorgana,

pada dinding dan kertas-kertas,

aku bicara dan merasa,

menerka arah dimana,

akhirnya menepi dan mengunci hati.

Tentang lintasan galaksi hati dan takdirku,

yang disudutnya kusimpan keikhlasan,

singgahlah sesaat, sekedar meraba dan bertanya…

” apa kabar hati ? “

Mungkin tidak baik-baik saja,

dan jangan-jangan kau tidak pernah tahu.

Roti kesekian yang kubiarkan dingin seiring berlalunya pagi,

dan tebaran puisi manis yang ku baca pagi ini,

menghangatkan hati, meski…

gelisahku berhari-hari, mungkin karena sesuatu bernama ‘hati’

yang tengah enggan berdamai dengan diri.

* Kesabaran adalah menyatukan hati dan pikiran di satu tempat *

#Image From Google#

Advertisements