Remuk

*Wanita bertudung kabut,
meringkuk disudut,
adakah yang mampu membangunkanmu,
tuk sekedar membuka jendela,
membiarkan cahaya menelusup agar tak redup ruangmu.

**Aku tlah sampai ujungku,
langit tak pernah berkata cukup,
tiba ku pada kesadaran aku kosong,
aku bahkan mulai enggan perduli.
semalam tadi air mataku menderas,
pagi ini,smua menatapku!
tlah kukatupkan bibirku,aku malas mendengar penghiburan.
Usahlah menjadi sok memahami aku,
cukup membiarkanku,meski disebuah sudut aku tampak menyedihkan.
Usah membiarkan dada bidangmu untukku,
sekian waktu aku tak pernah membutuhkan itu.

Tahukah kau,…
aku mulai mengerti,
saat selaput pekat turun,bibir akan bicara kebenaran rasa yang tersimpan.
Alangkah naifnya kau dan aku.
ibaku pada kehebatanmu,
ibaku pada arogansiku katamu.

Kita terikat pada satu episode panjang,
entah kapan jalan bergandengan,
atau akan kian bersebrangan.

Sedari semalam tak sepatah kata terucap dari bibirku,
aku tidak sendiri tapi betapa kesunyian menggigilkan relung dan sendiri-sendiku.
Aku takut, kesenyapan ini mematikan seluruh indera perasaku.

Seperti waktu yang lampau,aku tertatih lalu mencoba berdiri.
Kini aku mulai menyadari,sekedarnya aku bagimu.
Kuputuskan berjalan saja,…lewati saja.
Setidaknya,…aku punya tempat untuk pulang, pulang ke rumahMU.

*Wanita bertudung kabut masih membeku,
apapun yang mencoba membangunkanmu urung lalu pergi tertunduk.