Shiluet bagimu,….

Mungkin ketika seseorang bisa menjadi dua, bisa menjadi serupa disekat dua dunia ku terima uluran tanganmu dengan tanpa menimbang.

Bagaimana kau menjadikanku segala diatas keakuan,kebekuan dan awan pekat menggantung di cakrawala jingga yang kerap menjadi hujan dimatamu.

Apapun label kamu atasku takkan ada amarah,meski egois,dan tak berhati…
Tapi lihatlah betapa kamu bermurah hati melabelkan impian,dan tujuan segala perjalananmu meski aku tak pernah memberi hanya menyisakan shiluet yang terus menerus mengusik ketenangan dan kelelapanmu.

Ini bukan mauku,… menjadi candu bagimu, membuatmu galau dan tak memberikan penawar kegelisahan.
Ini bukan inginku,sejauh apapun langkah yang harus kau kejar dengan peluh bahkan air mata aku tetap shiluet yang menyisakan bayangan dingin di langit yang temaram.
Dan ku tahu ini bukan maumu, menjadikanku alasan dari setiap senyuman dan harapan.

Bicara saja pada Penguasa hati,… ketika hati tak lagi mampu menjadi karib,tak mengerti,… bukankah shiluetku membuatmu lelah. Bisikan betapa kamu menginginkanku atau ingin menghapus bayanganku tanpa rasa sakit…..

Aku shiluet bagimu,…… seperti bayangan pada sebuah danau yang ditepiannya muda-mudi mengikat janji,bayangan yg tampak nyata namun begitu kau sentuhkan jarimu air beriak menghalaunya pergi…

Dia serupa puisi

Dia serupa puisi,…

hangat dan menetap setelah menyentuh,

dan menghadirkan embun ditepian hati.

Dia serupa air,…

membasahi sekian kemarau,

mampu menjadikan kuncup bersemi

tak pada musimnya.

Dia serupa angin,…

memberikan semilir, melenakan dan melelapkan

jiwa yang rindu kesejukan.

menerbangkan kehampaan,

menjemput keindahan lewat sepoinya yang membelai.

sayangnya,….dia serupa badai…

memporandakan pondasi rasa,

mematahkan ranting hati,

tak terenovasi….

Dia masih serupa puisi,…

Masih serupa syair dan bait yang tak kunjung terpahami

entah mengapa begitu menetap dipalung hati……