Kau hanya siluet

Aku menghitung setiap hari yg hilang,
yang kuhabiskan memeluk bayangmu,
aku menghitung setiap kehilangan,
air mata dan kelelahan rasa.

Aku tak pernah menemukan alasan melupakan,
lihatlah…betapa mudah kau hapuskan.
aku masih berdiri dipersimpangan,
kau tlah berpeluk menembus awan.

hari ini kau hadir begitu saja,
ucapkan kata tanpa sedikitpun merasa,
aku muak….pada arogansimu,
aku benci pada kenangan yg mengikat kau dan aku.

Aku tlah tiba pada ujungku,
mungkin kucoba mencari alasan mematikan cinta,
kau yg tak layak mendapatkan rasa,
aku terlalu berharga untuk sebuah kehadiran tak bermakna.
Kau hanya siluet,…hanya menghadirkan bayangan gelap nan pekat.

#30harimenulispuisi #day13 ” siluet ”

Advertisements

Hitam kopi dan dia

Tanganmu perlahan menarik secangkir kopi hitam dimeja,
mendekatkan pada bibirmu… menghembuskan sedikit udara,menghalau asap beraroma yg menghambur diujung penciumanku, mewangi aroma memenuhi ruang segitiga kau,aku dan kopi.

Matamu hangat menjelajahi wajahku,…
mencari jawaban mengapa aku tak pernah ingin mencoba barang sedikit menyecap kopi.
mengapa aku hanya setia menyeduh dan menyajikan,tanpa ingin merasa..?
Aku suka aroma hitam kopimu,tapi cukuplah menciumi tak ingin membasahi bibirku dengan rasa pahitnya.

Cukuplah menemanimu menyecap rasa secangkir kopi setiap waktu,….

* Ada banyak bahasa,…salah satunya bahasa menghargai setiap pilihan *

#30harimenulispuisi #day12 tema ‘ hitam kopi dan dia ‘

Penghujung tahunku dan kamu

Sudah ku peti matikan segenap rasa hangat saat mengingatmu, kugulung setiap barisan kerinduan yang sejujurnya terus menerus mencoba hadir dipermukaan disetiap kutemukan kepingan-kepingan puzzle kisahmu dan aku. Pada butiran pasir pantai…dibibir nya kita berpeluk,pada setiap jalan yang terlewati,pun pada matahari yang terbenam. Pada bingkai puisi,…pada ruang kau dan aku dipertemukan.
Akhhh…..aku menipu perasaan,semua masih tentang kamu lembayungku !

Bagaimana kuhapus jejak yang begitu dalam tinggal disini,…
bagaimana berdamai dengan sel air mata yang masih saja luruh setiap kenangan berkelebat diotakku yang memorynya tak juga rela menghapus shiluetmu dalam temaram senja.

sayang,……
Tidak cukupkah menghadirkan nestapa dengan hadir karena mencintaimu pun menyakitkan,
mengapa menabur luka dengan meninggalkan…?
Mengapa begitu mencintainya,hingga tak mampu menduakan.

masih kulukis dan kueja satu demi satu huruf yang menuliskan namamu, masih kuputar ulang episode demi episode kita. Aku rasa kau tak lagi menginginkan reinkarnasi kita untuk bersama.
sayangnya,… dipenghujung di tahun aku dan kamu dipertemukan aku masih menginginkanmu lebih dari sebelumnya ! meski… kau tlah kembali pulang.

#30harimenulispuisi #day11 ‘ Desember ‘

Untuk mu,….

Langit tak sama dengan ruanganku saat ini, warnanya yang kebiruan membias begitu indah.
awan membingkai harapan dengan kelembutannya,…

Rambutku diterbangkan angin ketika perlahan wanita yang tak lebih muda dariku menemaniku melewati koridor yang biasa. Dengan ritme yang sama… dengan derit yang sama,dengan sapaan yang juga tlah terbiasa.

Entah untuk yang kesekian, membawaku pada ruangan beku.
ya,..ruangan beku,ruangan yang mematikan setiap sendi keriangan dan tawa.
ruangan yang menghadirkan kesepian tak terperi.

Wanita berwajah senyum mendorong kursi rodaku perlahan,
membantuku memasukan racun yang katanya justru akan membantuku bertahan hidup.
jangan bertanya soal rasa dan apa yang kurasa.
Mungkin aku sudah mematikan hampir semua saraf perasaku,hingga kadang tak mampu lagi kumerasa… rasa sakit yang menggigit,rasa sunyi yang menghimpit.

bayangan wajah pasiku sekilas terpantul di jendela,pun parut luka dan kesakitanku.
begitu juga bayangan dua pasang mata sejernih mata air,
yang menjadi sepasang tongkat yg luar biasa kuat…
yang menghadirkan api didalam kebekuan tubuh dan rasaku,
yang membawaku pada sekian perjuangan demi untuk mempersembahkan cinta yang tak pernah berkurang dan tak kan berkurang meski rasa sakit menghimpit.

” Jangan pernah kehilangan HARAPAN meski hanya laksana lilin tertiup angin,biarkan tetap ada dihatimu ”

*Catatan persembahan cintaku sekian tahun yg lalu untuk belahan jiwa…senja dan sean.
#30haripuisi – #Day9 : Persembahan.

MungkiN

Waktu yang tersirap begitu cepat,seolah berlari hingga sampai dibatas aku harus memunggungimu dan kembali berjalan pergi.

Masih begitu nyata ketika tatapanmu yang kuacuhkan terus menerus menatapku lekat,seolah ingin memaksakan hatimu mengikatku erat.

Sudahlah,…kataku ketika itu,mencintaiku hanya akan menggoreskan luka mendalam di ruanganmu saja.

betapa akan ada banyak kesakitan yang kau rasakan,dan tak relaku menjadi penyebab luka-luka di hatimu yang sebegitu mencintaiku.

Katamu dimataku nyata tersimpan bayanganmu,aku menolak untuk menjadi ‘kita’ diatas dasar ketidak mungkinan. Aku lelah melakukan perjalanan yang ujungnya sebuah kata ‘mungkin’

Mungkin kita akan bersama jika langit berkenan menyatukan kita di bawah atapnya, atau mungkin waktu bersama-sama menjadi teman kita hingga ujungnya.

Mungkin aku akan menjadi pemilik mutlak dirimu, memilikimu hingga ke tulang dan sumsummu… menyentuh wajah dan rambutmu yang baru terjaga dari tidurmu yang lelap.

mungkin,…ya,mungkin saja… karena mungkin juga cintaku tidak ada padamu !