Untuk mu,….

Langit tak sama dengan ruanganku saat ini, warnanya yang kebiruan membias begitu indah.
awan membingkai harapan dengan kelembutannya,…

Rambutku diterbangkan angin ketika perlahan wanita yang tak lebih muda dariku menemaniku melewati koridor yang biasa. Dengan ritme yang sama… dengan derit yang sama,dengan sapaan yang juga tlah terbiasa.

Entah untuk yang kesekian, membawaku pada ruangan beku.
ya,..ruangan beku,ruangan yang mematikan setiap sendi keriangan dan tawa.
ruangan yang menghadirkan kesepian tak terperi.

Wanita berwajah senyum mendorong kursi rodaku perlahan,
membantuku memasukan racun yang katanya justru akan membantuku bertahan hidup.
jangan bertanya soal rasa dan apa yang kurasa.
Mungkin aku sudah mematikan hampir semua saraf perasaku,hingga kadang tak mampu lagi kumerasa… rasa sakit yang menggigit,rasa sunyi yang menghimpit.

bayangan wajah pasiku sekilas terpantul di jendela,pun parut luka dan kesakitanku.
begitu juga bayangan dua pasang mata sejernih mata air,
yang menjadi sepasang tongkat yg luar biasa kuat…
yang menghadirkan api didalam kebekuan tubuh dan rasaku,
yang membawaku pada sekian perjuangan demi untuk mempersembahkan cinta yang tak pernah berkurang dan tak kan berkurang meski rasa sakit menghimpit.

” Jangan pernah kehilangan HARAPAN meski hanya laksana lilin tertiup angin,biarkan tetap ada dihatimu ”

*Catatan persembahan cintaku sekian tahun yg lalu untuk belahan jiwa…senja dan sean.
#30haripuisi – #Day9 : Persembahan.

Advertisements