jarum pentul dan jarum suntik

Hari ini saya ingin sekali menulis ,inspirasi datang saat saya hendak memakai kerudung dan tanpa sengaja jari saya tertusuk jarum pentul. Tidak terlalu sakit,…tapi itu membuat saya teringat salah satu kejadian beberapa tahun lalu,tentang tusuk menusuk 😀

Saya ingat saat itu adalah hari terakhir saya menjalani khemotheraphy ( disuntikan cairan obat khemo lewat intra vena ) kalau tidak salah itu seri pertama di hari yang terakhir (satu seri terdiri dari 5 kali khemo,dilakukan setiap hari satu kali )
Seperti biasa hari itu saya diantar dengan kursi roda ke lantai 5 dari kamar saya di lantai 3,saya sangat bersemangat karena setelah khemo hari itu selesai bila kondisi saya baik saya akan diijinkan pulang,dan saya merasa kondisi saya lumayan baik.

Seperti biasa saya ditempat kan di sebuah ruangan yg sangat nyaman,sendirian! ..suster mempersiapkan obat dan segala sesuatunya.Kami biasanya berbincang-bincang meski saya tidak pernah bisa melihat wajah suster itu dengan jelas karena dia menggunakan masker,jubah,penutup kepala,dan sepatu boot…alasannya supaya tidak terpapar obat atau radiasi dari obat khemo yang akan dia suntikan secara perlahan ke urat vena saya.
Saya pernah bertanya pada suster itu ” mengapa harus sedemikian perlahan memasukan obat itu,disuntikan sedikit demi sedikit.kenapa tidak sekaligus seperti menyuntikan obat biasanya supaya cepat dan rasa sakitnya tidak terlalu lama saya rasakan? ” suster itu menjawab ” kalau saya menyuntikan obat khemo ini sekaligus seperti menyuntikan obat yang biasanya,kulit dan tangan mba irma akan terbakar “
Benar,sahabat…..meski sudah sangat perlahan,bekas suntikan ditangan saya selalu membiru,bahkan membentuk memar yang melebar.

Hari itu ternyata tidak begitu baik untuk saya,entah mengapa suster kesulitan mencari urat vena saya. satu kali tusuk,dua kali,…dia mulai memanggil rekan suster yg lain. tangan kanan,…tangan kiri,tiga kali,empat kali,lima kali,enam kali,akhirnya mereka meminta maaf dan meminta saya menahan rasa sakit sedikit karena akan mencoba mencari urat vena di kaki saya !!! karena khemo harus tetap dilaksanakan hari itu sesuai jadwal.

Saya ingat ada lima atau enam suster yang mengelilingi saya,bergantian mencoba menusuk saya. Saya lupa ekspresi saya saat itu,tapi adik saya yang menemani saya saat itu melihat dari kaca bercerita bahwa saya tidak menampilkan ekspresi apapun. Mungkin saya mematikan semua rasa atau tidak tahu harus merasakan apa lagi,atau pasrah saja.
Satu hal yang saya ingat saya masih sempat tersenyum,saat suster-suster itu meminta maaf. tentu saja saya tidak marah pada mereka karena saya tahu,biasanya satu tusukan di vena bisa untuk sekali kita dirawat bukan? tapi urat vena saya langsung bengkak dan pecah hingga tidak bisa dipakai memasukan obat khemo lagi keesokan harinya.dan karena ini adalah khemo kelima di satu minggu saya dirawat,mngkn sudah tidak ada lagi urat vena yg bisa dipakai.kenapa ? menurut suster karena begitu kerasnya efek obat yang disuntikan ke tubuh saya.
jangan tanya efek di tubuh saya setelah khemotheraphy… ^^

Setelah kedua kaki saya ditusuk pun,mereka tidak berhasil juga. saya mulai sedikit panik saat mereka bilang akan mencoba di kepala saya…..entah apa rasanya,tapi saya memohon untuk tidak di kepala. Akhirnya mereka memanggil salah satu suster senior dari lantai lain,entah mengapa oleh suster itu langsung dapat urat vena yang bisa digunakan untuk memasukan obat ke tubuh saya. Setelah berkali-kali ditusuk….????!!! $@^&%$#@!#$……..

Biasanya setelah obat khemotheraphy masuk ketubuh saya,saya akan dibiarkan sendirian di kamar itu dan hanya diberikan kantung untuk muntah (sampai saya merasa lebih enakan lalu diantar turun kembali ke kamar saya).
Lalu biasanya saya akan mulai menghitung atap-atap rumah dan gedung perkantoran yang bisa saya lihat dari lantai 5 di RS tempat saya berobat,atau membaca (jarang terjadi karena efek khemo membuat kepala pusing jg) atau mencoba tidur.

Benar,…seharusnya tertusuk jarum pentul tak harus membuat saya berteriak kesakitan lagi bukan ??

Advertisements