JinGGa



Jingga terus menerus mengutuk dirinya,yang masih saja membiarkan gerimis luruh dari kedua kelopak mata nya…. aku menatapnya,hanya menatapnya.

Seperti pagi ini,meski waktu tlah melintas berulangkali, tlah terlewati begitu saja.
Matanya selalu mengembun ketika untuk kesekian kalinya dia membaca barisan kalimat yang tertulis dalam secarik kertas yang mulai lusuh,karena berulang kali dia buka lalu lipat lagi.
secarik kertas yang tercecer dari sebuah buku…milik seseorang yang pernah begitu rapi tersimpan di altar hatinya…. surat terakhir yang ditujukan untuknya.

Setiap membacanya,seolah waktu menariknya begitu saja pada setiap kisah yang kini bagai pecahan puzle berserakan. Lalu keping nya satu persatu membentuk dan menyatu kembali menjadi sesuatu yang bernama kenangan.
Surat itu selalu membawanya pada aroma kenangan,…meski gerimis selalu yang menjadi penutup shiluet singkat itu.

Dia tak pernah kuasa untuk melebur surat itu bersama waktu yang sudah begitu jauh meninggalkan kisah mereka dibelakang.

* dears Jingga…..
Kita tidak akan pernah bisa mengubah masa lalu dan melukis masa depan sesuai dengan keinginan kita.Jadi,mengapa kita harus membunuh diri sendiri dengan bersedih atas sesuatu yang tidak mungkin kita ubah.
Hari ini jadikan hari terakhirmu meneteskan air mata tiada guna…..